Jumat, 24 April 2026

Ekonomi dan Bisnis

Berikut Pemegang Saham Terbesar dari GoTo, Bukan Perusahaan Indonesia

Duo startup unicorn Indonesia Gojek dan Tokopedia berkolaborasi untuk merger dan melahirkan grup usaha terbaru bernama GoTo

Editor: Budi Susilo
HO/KOMPAS.COM
Super ekosistem GoTo yang tercipta berkat kolaborasi bisnis antara Gojek dan Tokopedia dinilai tidak akan mendominasi pasar digital di Indonesia. 

Pada hampir semua sektor industri khususnya di Indonesia selalu terdapat penguasa pasar dan tidak berarti terjadi monopoli.

Di industri produk tembakau misalnya Gudang Garam menguasai 30 persen pangsa pasar namun tidak terjadi monopoli karena terdapat kompetitor besar seperti HM Sampoerna dan Djarum.

Kacamata Bisnis Otomotif

Begitu juga di industri otomotif baik roda empat maupun roda dua. Di pasar kendaraan roda empat misalnya, grup Astra berdasarkan data Gaikindo merupakan pemimpin pasar sekitar 51% pada 2020 namun tidak berarti melakukan monopoli karena terdapat pemain otomotif lainnya yang berkompetisi.

"Jadi ini strategi penguasaan pasar tapi jelas berbeda dengan monopoli karena tetap terjadi kompetisi,” terusnya.

Nailul menambahkan, kewaspadaan terbesar dari ekonomi digital khususnya sektor e-Commerce adalah kegiatan dumping yang dilakukan dengan cara menjual barang dari luar negeri pada harga murah.

Sehingga bisa membuat pelaku usaha Indonesia khususnya UMKM menyerah. Hal tersebut pernah terjadi ketika seseorang dengan inisial Mr Hu seorang seller di Shopee menjadi viral karena barang dari China yang super murah sehingga mengancam UMKM Indonesia.

Baca Juga: Berbasis Data Citra Satelit, Aparat Penanggulangan Bencana di Kaltim Dilengkapi Aplikasi Lembuswana

”Untuk impor masih akan jadi ancaman. Memang layanan cross border ditutup tapi yang jadi masalah bukan itu. Banyak juga seller Indonesia tapi menjual barang impor. Mereka impor dari logistik biasa terus dijual lagi dengan harga murah,” ungkapnya.

Seharusnya, kata dia, dari pemerintah terutama Kementerian Koperasi dan UMKM bisa memberikan solusi supaya UMKM lokal bisa bersaing dengan barang impor.

Produk lokal kurang bisa bersaing dari sisi harga karena terkait dengan kapasitas produksi yang memengaruhi biaya produksi.

Misalnya batik dari China murah sekali bisa 30 ribu rupiah sedangkan batik dari Indonesia dijual 90 ribu rupiah sampai 150 ribu rupiah.

Biaya pengiriman dari China ke Jakarta juga lebih murah ketimbang biaya dari Sidoarjo ke Jakarta. Ini harus dituntaskan juga masalah biaya pengiriman yang tidak efisien,” tuturnya.

Maka Nailul berharap kehadiran GoTo bisa membantu menuntaskan persoalan ini dan UMKM bisa turut berpartisipasi di dalamnya sehingga bisa meningkatkan persaingan.

”Semoga para pelaku UMKM mendapatkan layanan finansial GoTo untuk bisa beralih dari masyarakat unbank menjadi bankable. Saya harap mereka juga bisa meningkatkan literasi keuangan dan inklusi keuangan secara umum,” tutupnya.

Berita tentang GoTo

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Bukan Perusahaan Indonesia, Inilah Pemegang Saham Terbesar dari GoTo 

Sumber: Tribunnews
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved