Berita Tarakan Terkini
Harapkan Perlakuan Khusus untuk Mendapatkan BBM, Begini Kondisi Nelayan Tarakan Sebelum Melaut
Selain motoris speedboat, nelayan ikut juga terdampak kesulitan mendapatkan pasokan BBM di APMS dan SPBB di laut.
TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN – Selain motoris speedboat, nelayan ikut juga terdampak kesulitan mendapatkan pasokan BBM di APMS dan SPBB di laut.
Sedianya BBM yang dibeli seperti pertalite digunakan untuk bahan bakar mesin perahu menuju lokasi area tangkap ikan di perairan Tarakan dan Kaltara.
Dikatakan Rustan, Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia atau KNTI Kaltara, ia membenarkan beberapa hari terakhir sempat terjadi kesulitan mendapatkan BBM bagi nelayan. “Sempat tersendat-sendat dan itu pengaruh juga sih,” bebernya.
Karena ada adat atau tradisi nelayan, jika ingin mau melaut baru membeli BBM. “Harapan kita begitu tiba di SPBB atau APMS ada barang itu. Sekarang kan antre itu.
Perlu diketahui pemerintah, nelayan itu nanti mau turun baru pegang uang. Karena banyak nelayan masih tergatung ke pengepul. Nanti dia turun baru ambil panjar untuk beli minyak,” jelasnya.
Baca juga: Total Rp 21 Juta Terkumpul untuk Sanusi, Nelayan Tarakan Kehilangan Perahu dan Rumah Tinggalnya
Baca juga: Perahu Rusak Terbelah Dua Diterpa Angin Kencang, Seorang Nelayan di Tarakan Nyawa Nyaris Melayang
Baca juga: Dihembus Angin Kencang, Satu Perahu Nelayan di Lingkas Ujung Tarakan Terbelah Dua
Ia melanjutkan, saat istirahat, jika tidak ada hasil diperoleh saat melaut maka dia tidak memiliki uang.
“Ini persoalan yang tidak diketahui pemerintah. Makanya kita sampaikan ke pemerintah, karena dalam benak mereka kenapa tidak beli BBM pada waktu istirahat, ya karena memang uangnya tidak ada,” ujarnya.
Sehingga saat stok BBM kosong, itu yang menyebabkan nelayan ikut kesulitan mendapatkan BBM di APMS ataupun di SPBB.
“Satu hari terlambat, dua hari terlambat waktunya sudah terbuang. Karena waktu melaut nelayan Tarakan dalam sebulan cuma dua kali. Dua hari tidak melakukan penangkapan sudah terbuang waktunya. Tunggu bulan lagi berikutnya,” jelasnya.
Itulah fakta persoalan yang terjadi pada nelayan yang ada di Kota Tarakan. Berbeda dengan nelayan di wilayah lainnya. Kapan saja mau melaut bisa turun ke laut dan tidak ketergantungan dengan karakteristik alam seperti di perairan di Tarakan.
“Kalau daerah lain tidak ada istilah istirahat. Asal tenaga mampu. Kalau di Tarakan beda dan inilah salah satu persoalan dihadapi nelayan,” jelasnya.
Ia mengakui berdasarkan laporan dari beberapa nelayan akhir-akhir ini cukup kesulitan mendapatkan BBM untuk digunakan melaut. Ia menilai terlalu banyak oknum memanfaatkan.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Tak Menentu Kerap Terjadi di PPU, BPBD Ingatkan Nelayan Sediakan Alat Keselamatan
“Sulitnya karena bukan subsidi. Jadi semua orang punya hak menikmati itu. Harapan kami kepada pemerintah kalau bisa ada perlakuan khusus untuk nelayan,” ujarnya.
Begitu saat akan melaut, BBM sudah tersedia. Biasanya sebelumnya mengambil di SPBB dan APMS. “Kalau nelayan dimanapun mudah mendapatkan di situ mengambil. Yang penting bawa jeriken dilayani. Karena kalau beli di tangan kedua sudah berbeda harga dan ukuran liternya,” jelasnya.
Ia mengakui jika mengantre di SPBB dan APMS sudah sesuai harga nasional dan standar. Namun mengambil di tangan kedua harga bisa sampai Rp 10 ribu per liter.
“Tangan kedua ini maksudnya beli lalu jual kembali ke kami. Dan nelayan ada yang ambil di mereka karena tidak ada pilihan lain,”ujarnya.
Bahkan nelayan jika sudah mendesak dan terburu-buru maka akan menggunakan pertamax. “Bayangkan nelayan kecil terpaksa pakai pertamax, sementara orang kaya pakai pertalite. Ini kan menjadi persoalan,” pungkasnya. (*)
