Breaking News:

Virus Corona di Berau

Wakil Bupati Berau Gamalis Akui Berat Turunkan Harga PCR RSUD di Bawah Swasta

Pemerintah kembali menurunkan tarif batas atas harga pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR). Jawa-Bali harga tertinggi PCR kisaran Rp 275 ribu

TRIBUNKALTIM.CO/RENATA ANDINI
Wakil Bupati Berau Gamalis. TRIBUNKALTIM.CO/RENATA ANDINI 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Pemerintah kembali menurunkan tarif batas atas harga pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR). Jawa-Bali harga tertinggi PCR kisaran Rp 275 ribu dan luar Pulau Jawa dan Bali Rp 300 ribu.

Penetapan harga ini juga sudah dilakukan di seluruh klinik kesehatan yang melayani pemeriksaan PCR di Berau, termasuk juga di RSUD Abdul Rivai Berau.

Sementara ini yang menjadi sorotan saat ini rumah sakit plat merah ternyata melayani pemeriksaan PCR dengan harga yang sama seperti swasta.

Padahal, ketika harga PCR masih di angka Rp 525 untuk wilayah Luar Jawa dan Bali pemerintah daerah berani memberikan subsidi. Lalu apakah hal ini akan dilakukan kembali.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Bupati Berau Gamalis mengaku harga yang diterapkan RSUD Abdul Rivai sudah termasuk Subsidi yang diberikan.

Baca juga: LENGKAP Aturan Terbaru Penumpang Pesawat, Tes PCR tak Lagi Wajib, Sudah Vaksin 2 Kali Cukup Antigen

Baca juga: RSUD Malinau Mengupayakan Operasional Lab PCR Segera, Sikapi Syarat Pelaku Perjalanan

Baca juga: Pelaku Perjalanan Udara Bisa Pakai Tes Antigen, Kadinkes Malinau: Diagnosa Covid-19 Tetap Harus PCR

Sehingga sangat sulit lagi untuk harganya diturunkan kembali. Dari laporan yang diterima pihak rumah sakit, jika harga kembali diturunkan di bawah Rp 300 ribu, maka itu tidak akan menutupi biaya produksi dan operasional.

"Kita tidak berbicara untung rugi. Tapi kalau bisa turun dari swasta, dan tidak merugikan rumah sakit maka bisa dilakukan," jelasnya kepada Tribunkaltim.co, Jumat (5/11/2021).

Menurut Gamalis, kalau pun akan diturunkan dari harga yang ditetapkan saat ini, maka perlu diupayakan untuk diberikan subsidi kembali.

Selama ini, yang menjadi persoalan mengapa layanan PCR harganya cukup tinggi yakni mahalnya bahan baku reagen. Memang kata dia ada beberapa jenis reagen yang dijual dipasaran dengan harga yang cukup murah tetapi itu tidak bisa digunakan di semua jenis alat PCR.

Baca juga: Sempat Disomasi Pasien Akibat Hasil PCR Berbeda, Klinik Juanson Balikpapan Angkat Bicara

"Kalau swasta itu untungnya banyak. Mereka sudah kembali modal. Kalau kita masih proses," katanya.

Hanya saja, meski harga yang diterapkan saat ini sudah menerima subsidi. Namun ia mengaku tidak mengetahui berapa besaran subsidi yang telah ditetapkan untuk pembayaran PCR.

"Kalau nanti anggaran cukup, maka bisa ditambah subsidinya," tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved