Berita Kaltim Terkini
Dua Konsorsium di KEK Maloy Mundur, Calon Investor Harusnya Didesain Matang
Peringatan dari Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (DN KEK) untuk kawasan KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) yang kini harus segera beroperas
Penulis: Mohammad Fairoussaniy |
Puguh tak ingin mengomentari lebih jauh, pasalnya pihak OPD terkait yang berhubungan langsung dengan Dewan Nasional atau yang langsung berkaitan dengan kawasan KEK Maloy yang lebih berhak menjelaskan hal tersebut.
Dari DPMPTSP sendiri, lanjut Puguh, lebih kepada ketika memungkinkan adanya partner atau investor yang akan masuk, dan hal itu bakal menjadi perhatian khusus serta fokus pihaknya.
Puguh sendiri kembali menegaskan, bahwa ingin status KEK Maloy haruslah Investment Project Ready to Offer (I-PRO) dengan desain matang agar calon investor tidak lagi menghitung apa yang akan dikerjakan di sana
Tetapi, lebih kepada kawasan yang mempunyai posisi strategis serta menguntungkan bagi pihak penanam modal.
"Kalau hanya potensi, orang kan masih akan melakukan analisis lagi, dan perlu mempelajari lagi, dan itu bisa jadi orang kurang tertarik, karena memang belum sesuatu yang menarik begitu," ujar Puguh Harjanto.
"Satu hal yg mungkin perlu dipahami dulu, di PTSP perannya bukan sebagai mendesain kawasan itu, kita posisinya supporting ketika ada calon investor yang tertarik, untuk menarik itu kami memerlukan I-PRO dan itu sudah saya sampaikan, bagaimana Feasibility Study (FS) itu detail bisa menarik," ucap Puguh menambahkan.
Baca juga: Status KEK Maloy akan Dicabut Mei 2022, Bupati Kutim Ungkap Sudah Ada Investor Masuk
"Misalkan, pola kerjasama tenant, kita siapkan (sekian-sekian), dengan tata ruang jelas, nah ini yang harus diselesaikan pihak pengelola sendiri, dalam hal ini MBTK," beber Puguh.
Progres terkini adanya calon investor sendiri, dikatakan Puguh bahwa ada yang tertarik untuk berinvest di KEK Maloy.
Namun, dia tak ingin buru-buru membeberkan, sebelum ada I-PRO yang jelas untuk bisa menawarkan.
Termasuk gambaran infrastruktur pendukung yang kini tengah dibangun di kawasan KEK Maloy.
"Kami sebetulnya ada beberapa calon investor siap masuk, tetapi kalau tidak jelas kan dia juga mesti berhitung lagi. Itu yang kami belum berani publish, karena bagi saya ini belum seperti halnya pabrik smelter nikel seperti Balikpapan dan pendingin Sanga-sanga, Kukar, itu kan sudah jelas mereka mulai running izinnya dan di lapangan mulai ada kegiatan di lapangan," pungkas Puguh.
Baru-baru ini, diketahui ada satu investor masuk di KEK Maloy yakni PT Palma Serasih Internasional (PSI) yang dikabarkan bakal segera membongkar peralatan yang akan memanfaatkan lokasi KEK MBTK sebagai tangki timbun atau bulking station.
Setelah bulking station PT Palma Serasih berjalan setahun, akan diteruskan dengan membangun refinery atau pabrik industri minyak goreng (migor) di lokasi ini.
Baca juga: Komisi V DPR RI Kunjungi Kutim, Bahas Infrastruktur Pelabuhan Kenyamukan, KEK Maloy dan Bandara
Diperkirakan pada 2023 mendatang, pabrik olahan minyak goreng sudah bisa beroperasi di KEK Maloy.
Ini juga dibenarkan Puguh, meski pada sistem Online Single Submission Risked Based Approach (OSS RBA) belum terlaporkan serta belum dapat membaca detail.