Berita DPRD Samarinda

Ketua Komisi III DPRD Samarinda Sebut Penanggulangan Banjir Akan Maksimal Jika Berkelanjutan

Ketua Komisi III DPRD Samarinda Angkasa Jaya Djoerani mengungkapkan bahwa, itu tidak akan maksimal apabila penuntasan masalah banjir tidak terencana

Penulis: Sarikatunnisa | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/SARIKATUNNISA
Ketua Komisi III DPRD Samarinda Angkasa Jaya Djoerani mengungkapkan bahwa, itu tidak akan maksimal apabila penuntasan masalah banjir tidak terencana atau dikerjakan dengan perencanaan sepotong-sepotong.TRIBUNKALTIM.CO/SARIKATUNNISA 

TRIBUNKALTIM.CO,SAMARINDA- Sebagai sebuah masalah klasik di Kota Samarinda, berbagai upaya telah dicoba untuk mengatasi banjir, mulai dari pelebaran drainase sampai rencana pembangunan kolam retensi.

Ketua Komisi III DPRD Samarinda Angkasa Jaya Djoerani mengungkapkan bahwa, itu tidak akan maksimal apabila penuntasan masalah banjir tidak terencana atau dikerjakan dengan perencanaan sepotong-sepotong.

"Jadi kalau kita mengirim anggaran cuman sepotong bangun polder, perbaikan drainase, belum cukup,"

Selama ini menurutnya terjadi kesalahan persepsi, bahwa setiap kali ada genangan maka harus dialirkan melalui drainase ke Sungai Mahakam.

Baca juga: Komisi III DPRD Samarinda Upayakan Perbaikan Drainase di Jalan Juanda Prioritas di APBD 2023

Baca juga: Komisi I DPRD Samarinda Fokus Rampungkan Raperda Miras dan Guest House Sebelum 2023

Baca juga: Komisi III DPRD Samarinda Sidak Kondisi Flyover Juanda, Minta Bagian yang Rusak Diperbaiki

Dengan posisi Sungai Mahakam yang lebih tinggi dari daratan Samarinda, justru ketika air mahakam pasang akan membuat dua aliran air itu bertemu dan menimbulkan genangan.

"Nah ini saya kira harus ada contoh perbaikan besar mengatasi itu, seperti contohnya membuat kanal-kanal baru sama kolam-kolam retensi," ujarnya.

Pendirian kolam retensi akan membuat aliran air bisa dimanipulasi dengan mengalirkan air ke dan menahannya dalam kolam retensi ketika air mahakam sedang pasang.

Kemudian, ketika air Mahakam surut air di kolam tersebut dialirkan ke Sungai Mahakam.

"Kita punya yang namanya polder air hitam itu belum berfungsi seperti itu, nah harapan kita kedepan harus ada yang seperti itu, kalau nggak seperti itu nggak bisa," katanya.

Angkasa menuturkan bahwa selama ini yang menjadi kendala terbesar penanggulangan banjir adalah lahan dan anggaran.

Menurutnya butuh bantuan dari APBN dan APBD provinsi untuk mengatasi itu dalam perencanaan jangka panjang sekitar 5 sampai 10 tahun.

Baca juga: Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Sani Bin Husein Sebut SDM Harus Disiapkan Sambut IKN

Tidak hanya pembangunan kanal drainase baru dan kolam retensi, ia juga menginginkan agar semua sungai di Samarinda di beton mengingat posisi sungai lebih tinggi dari posisi daratan Samarinda.

"Kita berharap kalau ada anggarannya itu posisi sungangainya harus di beton dibikin turap semua." tutupnya. (*)

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel

 

Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved