Ibu Kota Negara
Lahan IKN Nusantara Cukup Luas, Ahli Konstruksi Ingatkan tak Perlu Gedung Pencakar Langit
saat akan dibangun menjadi Ibu Kota Negara, tentu saja IKN Nusantara tidak perlu dibuat bangunan yang tinggi hingga mencakar langit
TRIBUNKALTIM.CO, PENAJAM - Ibu Kota Negara Indonesia yang bernama IKN Nusantara lokasinya berada di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Hamparan yang luas dan masih asli, tidak ada gedung-gedung beton terbangun, masih alam vegetasi pohon untuk produksi.
Namun saat akan dibangun menjadi Ibu Kota Negara, tentu saja IKN Nusantara tidak perlu dibuat bangunan yang tinggi hingga mencakar langit.
Demikian dibeberkan oleh Jimmy S. Juwana, Ahli Konstruksi dari Universitas Trisakti yang telah tayang di Kompas.com.
Baca juga: 2024 Jadi Ibu Kota Indonesia, Pemerintahan IKN Nusantara Ada 22 Desa dan 32 Kelurahan
Dia menjelaskan, gedung pencakar langit yang standarnya memiliki 50 sampai 100 lantai secara umum diperuntukkan bagi daerah dengan lahan sempit dan harganya mahal.
Sehingga, kawasan gedung masih memiliki ruang terbuka hijau yang cukup besar, atau sesuai ketentuan minimal yakni 30 persen.
"Tapi kalau di IKN dengan lahan cukup luas sebetulnya tidak perlu bangunan bertingkat tinggi, apalagi pencakar langit," tuturnya dalam seminar virtual berjudul Arsitektur Menara-Indah dan Kokoh, pada Kamis (15/06/2023).
Mungkin cukup dengan bangunan menengah yang maksimum 8 lantai.
"Supaya juga tidak terlalu kontras dengan lingkungan sekitar," jelas Jimmy
Tantangan Bangun di IKN Nusantara
Menurut dia, hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan IKN ialah tantangan topografi tanah yang berkontur dan kondisi geologi serta geoteknik.
"Di mana ada lapisan tanah yang kalau tidak terkena air kerasnya bukan main, tapi begitu kena air, sedikit menjadi bubur," tandasnya.
Baca juga: Progres Pembangunan Jembatan Duplikasi Pulau Balang, PPU-Balikpapan Hanya 1 Jam
Lapisan itulah yang menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli geoteknik dan struktur untuk mengantisipasi dalam mendesain bangunan di IKN Nusantara supaya biaya untuk struktur pondasi tidak besar.
Selain itu, terdapat pula kemungkinan adanya bidang tanah yang mengalami longsor, sehingga mengakibatkan bangunan runtuh.
"Bukan karena daya pikul tanahnya kurang, tetapi juga karena ada (bangunan gedung) pada bidang longsor yang (tanahnya) sangat labil," pungkas Jimmy.
