Horizzon
Plesiran Panjang Seorang Pensiunan
NAMANYA Agus Subagjo. Ia adalah pengemudi taksi online yang pernah mengantarku ke sebuah acara di Balikpapan.
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Budi Susilo
Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto,
Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim
NAMANYA Agus Subagjo. Ia adalah pengemudi taksi online yang pernah mengantarku ke sebuah acara di Balikpapan, Kalimantan Timur.
"Selamat malam Pak Taufik. Saya Agus Subagjo, tapi panggil saja saya Agus agar mudah diingat," sapanya ramah begitu saya masuk dan duduk di kursi depan kiri Daihatsu Xenia yang dikemudikannya.
Satu dua kalimat dilontarkannya seolah ingin mengesankan saya sebagai pelanggan bahwa pria paruh baya ini adalah driver taksi online yang bersahabat.
Ditambah dengan pembawaannya yang ramah, renyah sekaligus santai hingga saya bisa pastikan siapapun yang menggunakan jasanya pasti ngerasa nyaman.
Baca juga: Viral Driver Ojol Samarinda Gelar Aksi Demo dan Mogok Kerja Selama 3 Hari, Cek 5 Tuntutan Mereka
Termasuk saya tentunya, yang langsung merasa terhipnotis dengan keramahannya.
Di balik keramahannya, Agus juga banyak bercerita yang akhirnya saya putuskan untuk saya tulis untuk saya bagikan.
Tak adil rasanya saya mendengar cerita darinya dan hanya saya nikmati sendiri.
Sedikit catatan, nama Agus adalah nama yang sengaja saya samarkan, namun jika pada akhirnya beliau membaca tulisan ini, semoga Om Agus (agar tampak sedikit ramah) tak kemudian menjadi marah.
Namun harus diakui, kisah lugasnya sungguh membuat saya menjadi iri.
Baca juga: Yuk Ikutkan Karyawan Anda di Program Pensiunan, Banyak Hadiah Menarik
Usai memperkenalkan diri, kami berdua terus terlibat dalam pembicaraan akrab. Sejumlah ruas jalan padat di Baklikpapan yang kami lalui justru menambah asyik saat kami bercerita.
Atau setidaknya, kepadatan tersebut justru membuat kami berkesempatan menambah durasi dan bisa berkisah lebih banyak.
Om Agus adalah pengemudi taksi online yang usianya menginjak 65 tahun. Pekerjaan itu dilakukan
semata-mata untuk membuat ia terus beraktivitas plus menjaga kebugaran.
"Termasuk kebugaran pikiran," selorohnya kala itu.
Om Agus adalah pensiunan pekerja swasta yang bergerak di bidang pertambangan. Ia sudah pensiun dua tahun lalu di saat usinya tepat 62 tahun.
Jauh sebelum pensiun, ia sudah menjalankan aktivitas sebagai driver taksi online dan ia putuskan untuk lanjut guna menghibur diri.
Nyaris semua penghasilan dari rutinitasnya tersebut ia serahkan ke istrinya, dipotong uang rokok dan uang kopi tentunya.
Baca juga: Terlilit Hutang, Pemuda di Samarinda Ini Tega Melukai Driver Online di Siang Bolong
Ia juga mengaku tak pernah sengaja mangkal di kawasan tertentu demi memperoleh penumpang.
Saat mengantarkan customer, ia mengaku selalu mengarahkan mobilnya ke arah rumah.
"Ya pulang ke rumah. Nah kalau dalam perjalanan ke rumah ada order lagi ya itu namanya rezeki. Tapi setiap selesai ngantar tujuan saya selalu ke arah rumah. Maklum ada 'mantan' saya alias istri yang juga ada di rumah," katanya lagi-lagi sambil tertawa nakal.
Pria kelahiran Sulawesi Selatan ini mengaku benar-benar menikmati hari tuanya bersama istri.
Keempat anaknya semua sudah berkeluarga dan kebetulan semuanya sekarang berada di Jawa Timur.
"Dari empat anak tersebut, saya sudah punya tujuh cucu. Semuanya ada di Jawa Timur, mulai Blitar, Jember dan Banyuwangi," katanya tanpa merinci di kota mana ada dua anaknya tingal.
Dalam kisahnya, Om Agus mengaku belum lama ini menghabiskan waktu selama tiga bulan untuk
mengunjungi anak-anaknya di Jawa.
Baca juga: DPRD Kaltim Respons Aksi Mahasiswa Demonstrasi Tolak UU Cipta Kerja dan Tambang Ilegal
Selain itu ia juga menyempatkan diri untuk jalan-jalan berdua dengan istrinya ke Jogja dan Bali.
Dalam tour 'bulan madu kedua' ini, Om Agus mengaku mencoba berbuat adil ke anak-anaknya, utamanya terkait durasi berapa lama menginap di rumah anaknya.
"Jadi biasalah anak-anak, saat saya di Blitar misalnya yang di Jember terus menghubungi agar saya dan istri segera ke sana," katanya.
"Pokoknya mereka minta semua disinggahi dan kalau bisa lama," imbuhnya.
Puas 'ngapelin' anaknya satu per satu dan utamanya memanjakan cucu-cucunya, Om Agus dan istrinya iseng menyeberang ke Bali dari Banyuwangi. Tiga minggu dihabiskan waktunya berdua di Bali.
Ia mengaku tak pernah memiliki list destinasi yang akan dikunjungi. Semua berjalan dengan improvisasi tanpa berencana.
Bermodal peta online yang sudah familiar dengan rutinitas kesehariannya di Balikpapan, Om Agus dan istrinya menjelajah ke Bali, dari mulai destinasi yang mainstream sampai yang mungkin tak pernah kita pikirkan.
Hal serupa juga dilakukan saat dia ke Jogja. Enam pekan dihabiskan Agus untuk berkeliling Jogja bersama mantan pacarnya tersebut.
Semuanya tanpa rencana dan hanya bermodal mobil yang ia kendarai sendiri berikut aplikasi peta online di ponselnya.
Hebatnya, mobil tersebut dia bawa dan dikemudikan sendiri dari Balikpapan hingga tiga bulan penuh plesiran di Jawa.
Ia mengaku menghabiskan tak kurang dari Rp60 juta. "Kalau main-main berdua sama istri di Jogja dan Bali, plus nurutin cucu mungkin lebih dari Rp60 juta," kata Om Agus sambil tertawa lebar.
Om Agus mengaku cukup bersyukur dengan apa yang bisa ia lakukan. Terlebih saat pensiun dari
pekerjaannya, ia beruntung memperoleh pesangon yang menurutnya cukup lumayan untuk seukuran dia.
Apalagi ia pensiun saat belum diberlakukannya Undang-undang Cipta Kerja sehingga ia bisa mengantongi Rp400 juta lebih.
"Saya ini pekerja di lapangan, bersyukur bisa memperoleh segitu. Mandor saya (atasan langsung)
yang pensiun berselang satu tahun dengan saya yang tentu gajinya jauh di atas saya saat masih aktif, yang diperoleh justru tak sebesar saya," imbuhnya.
Pensiun saat belum berlakunya Undang-undang Cipta Kerja menjadi poin tersendiri yang dirasakan oleh Agus.
Meski ia tak banyak memanfaatkan uang pensiun tersebut untuk pondasi ekonomi usai pensiun.
Namun ia mengaku bersyukur bisa umrah dan membagi kebahagian dengan membagi-bagi uang tersebut sebagai pelengkap tanda cintanya untuk anak-anak berikut cucu-cucunya.
Meski ia percaya bahwa Tuhan telah mengatur rezeki untuk umatnya, Om Agus mengaku jauh lebih
beruntung dibanding mandornya yang pensiun setelahnya dan kebetulan pensiun saat Undang-undang Cipta Kerja sudah diberlakukan.
"Soal banyak dan sedikit itu tentu relatif, namun jika saya pensiun sedikit terlambat, mungkin saya tidak seleluasa bisa umrah atau jalan-jalan nengok anak cucu beserta istri," pungkasnya yang kebetulan saya sudah harus membayar jasa taksi onlinenya lantaran sudah sampai di depan kantor. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ibnu-taufik-juwariyanto-pemimpin-redaksi-tribun-kaltim.jpg)