Berita Malinau Terkini
Mengenal Desa Long Sule Malinau, Bila Beruntung per Minggu Bisa Raih 100 Gram Emas
Dikenal desa ini memiliki potensi sumber daya alam emas. Bila beruntung, warga yang mencari dalam rentang satu minggu bisa meraih emas
Harga jual saat ini, kata Herman, sekira Rp 700.000 per gram. Sehingga jika dikalkulasikan 100 gram emas, pendapatan yang diperoleh Rp 70.000 000 dalam satu kelompok. Belum dipotong biaya BBM (bahan bakar minyak) dan lainnya.
Baca juga: Galian Tambang Emas Longsor, 6 Warga di Kotabaru Kalsel Tewas
Selain mencari emas, pekerjaan warga lain adalah mencari kayu gaharu, yang juga memiliki nilai ekonomis tinggi.
Ada sebagian berladang menanam padi. Dan berbagai buah-buahan. Juga ada yang mencari rotan, dan menekuni kerajinan pembuatan anyaman rotan.
Pendapatan masyarakat memang cukup lumayan. Namun biaya pengeluaran masyarakat pun sangat besar.
Harga barang sangat mahal. Disparitas atau kesenjangan harga dengan wilayah perkotaan sangat tinggi.
Karena kondisi sebagai wilayah terisolir, itu lah yang menyebabkan harga barang sangat tinggi.
Harga BBM misalnya. Minyak jenis Pertalite di dua desa ini mencapai Rp 50.000 per liter! 5 kali lipat dengan harga pertalite di SPBU yang hanya Rp 10.000 per liter.
Begitu pun dengan barang lainnya. Mie instant. yang di perkotaan dijual Rp 4000 di Long Sule harganya Rp 9000 - Rp 10.000 per bungkus.
Rute Tembus Jalur Darat
Selain lewat udara, sebenarnya masyarakat di dua desa ini, bisa berbelanja kebutuhan barang dari Wahau, Kutai Timur.
Menurut warga, ada jalan darat hingga tembus ke Wahau, setelah sebelumnya melintasi sungai dengan perahu kecil jenis ketinting selama 6 jam.
"Biasa juga orang ambil barang ke Wahau. Naik perahu dulu 6 jam, baru sampai di Kamp Metun. Di sana ada jalan ke Wahau. Kalau tidak salah itu bekas jalan perusahaan kurang lebih 180 kilo meter. Tapi juga jalannya sangat buruk. Bisa berhari-hari," ungkap Lawai, warga Desa lainnya.
Baca juga: Pemilik Tambang Emas Ilegal di Bulungan Briptu Hasbudi Dituntut 3 Tahun Penjara dan Denda Rp 2 M
Akses jalan itu lah yang menjadi harapan besar masyarakat, untuk dapat ditembuskan.
Sehingga warga di dua desa ini tidak lagi terisolasi, dan harga barang pun bisa jauh lebih murah, serta mudah dijangkau masyarakat.
Untuk komunikasi, masyarakat di dua desa ini biasa menggubakan internet berbayar yang dipasang oleh beberapa warga. Dengan sistem voucer.
Juga ada layanan internet Bakti Aksi, bantuan Kementerian Kominfo. Namun hanya ada di Puskesmas.
Menurut warga, sempat ada Telkomsel masuk. Namun sejak dua tahun terakhir sudah tidak lagi. Hanya tower BTS yang ditinggal berdiri kokoh, tak berfungsi
(*)
Artikel ini telah tayang di TribunKaltara.com dengan judul Long Sule, Desa di Pedalaman Kalimantan Utara yang Terisolir, tapi Kaya akan Emas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20231218_Malinau-desa-Long-Sule-Kaltara.jpg)