Kamis, 16 April 2026

Kisruh Angkutan Batu Bara

Kisruh Angkutan Batu Bara di Batu Sopang Paser, Para Sopir Minta Solusi ke Pemerintah

Selama aksi pencegatan yang dilakukan oleh masyarakat, diakui sama sekali tidak ada pemasukan yang diperoleh. 

Penulis: Syaifullah Ibrahim | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/SYAIFULLAH IBRAHIM
Para sopir truk lokal asal Kabupaten Paser, meminta pemerintah menyelesaikan permasalahan aksi pencegatan truk angkutan batu bara di Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, Minggu (31/12/2023). 

TRIBUNKALTIM.CO, TANA PASER - Aksi pencegatan truk angkutan batu bara oleh masyarakat di Desa Batu Kajang, Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur masih terus berlangsung. 

Masyarakat meminta ada respon dari pemerintah untuk mengambil tindakan terhadap truk angkutan batu bara yang kerap melintasi jalan umum. 

Sementara di sisi lainnya, gabungan sopir truk angkutan batu bara yang terdampak dari aksi pengadangan tersebut meminta agar pemerintah bisa memberi solusi terhadap persoalan tersebut. 

Salah satu Sopir PS Roda 6 Lintas Kaltim-Kalsel, Bambang mengaku para sopir truk angkutan batu bara sangat terdampak dengan adanya aksi pencegatan yang dilakukan. 

Baca juga: 4 Fakta Truk Batu Bara yang Melintas di Jalan Umum Paser, Warga Resah karena Harus Bertaruh Nyawa

"Kami dilarang melakukan hauling, sementara kami semua (sopir truk) di wilayah Batu Sopang ini bukan truk perusahaan yang digunakan, melainkan milik pribadi yang sehari-hari kami gantungkan hidup mencukupi kebutuhan keluarga," terang Bambang kepada TribunKaltim.co, Minggu (31/12/2023). 

Pihaknya menginginkan agar pemerintah dapat memberi solusi, sehingga para sopir truk angkutan batu bara dapat beroperasi kembali. 

"Truk-truk kecil yang ada di wilayah Paser ini sekitar dua ratusan unit, kalau dikolaborasikan dengan yang di Kalsel ada sekitar hampir 700 unit truk yang pemuatannya di Seradang Kalsel," tambahnya. 

Para sopir truk angkutan batu bara lokal di wilayah Kecamatan Muara Komam, Batu Sopang dan Kuaro hanya mengandalkan ikut dalam kegiatan hauling dari PT. Mantimin. 

Bambang menginginkan agar pemerintah maupun pihak lainnya dapat mengambil peran agar bisa memberikan solusi yang terbaik. 

"Jangan hanya menyalahkan kami, sementara kegiatan hauling ini sudah berlangsung sejak lama dan kami cuma mencari makan untuk menghidupi keluarga kami," ungkapnya. 

Baca juga: Polisi Berwenang Investigasi Perkara Truk Batu Bara Lintasi Jalan Tol Balikpapan-Samarinda

Jika permasalahan tersebut tidak mendapat titik temu, sambung Bambang dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 

"Keinginan kami sederhana, truk-truk kecil di kampung ini bisa beroperasi dengan normal kembali. Seperti beberapa tahun lalu yang tidak pernah ada persoalan, karena baru kali ini yang dari Mantimin tidak boleh lewat," tandasnya. 

Sementara itu, salah satu sopir truk yang tergabung dalam Ikatan Driver Urang Banua (IDUB), Anto mengaku ada sekitar 200 orang yang menggantungkan hidup di angkutan batu bara PT. Mantimin. 

"Kami punya kontrak di situ, kalau kontrak tidak terpenuhi tahun ini maka kami tidak akan dibayar, istri-istri kami di rumah juga sudah mulai resah bahkan beras juga sudah menipis. Kalau kami tidak diperjuangkan, bagaimana nasib kami kedepannya," keluh Anto. 

Selama aksi pencegatan yang dilakukan oleh masyarakat, diakui sama sekali tidak ada pemasukan yang diperoleh. 

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved