Sabtu, 13 Juni 2026

Horizzon

Pesan Krusial dari Babulu

Kasus pembunuhan di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara tak boleh dianggap sekadar pembunuhan sadis.

Tayang:
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
DOK TRIBUN KALTIM
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim

KASUS pembunuhan di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara pada Selasa (6/2 /2024) dini hari tak boleh dianggap sekadar pembunuhan sadis.

Kasus pembunuhan terhadap lima orang dalam satu keluarga yang dilakukan oleh Jefri (bukan nama sebenarnya), siswa SMK kelas 12 berusia 17 tahun ini harus menjadi atensi semua pihak, utamanya pemerintah.

Kita semua memang melihat bagaimana kearifan lokal telah mengambil peran pascatragedi tersebut.

Untuk menghilangkan trauma di masyarakat, warga dengan kesepakatan keluarga korban dan juga pelaku memutuskan untuk merobohkan rumah keluarga pelaku sekaligus rumah korban yang menjadi TKP pembunuhan ini.

Sekilas kita memahami langkah tersebut bertujuan untuk mengantisipasi munculnya trauma berkepanjangan di warga sekitar.

Jika tidak salah, keluarga pelaku juga sepakat untuk meninggalkan Babulu Laut demi tujuan yang sama plus mengantisipasi hal-hal yang berpeluang menjadi ikutan dari kasus tersebut.

Baca juga: Waktu Balas Dendam

Sebagai tindakan pasca kejadian, kearifan lokal tersebut tentu sangat bisa kita maklumi. Termasuk jika mungkin muncul tuntutan dari publik agar pelaku dihukum berat, itu juga sesuatu yang wajar.

Namun demikian, untuk perspektif yang lebih dalam, proses hukum dan juga kearifan lokal yang sudah berjalan, rasanya belum cukup untuk menuntaskan kasus ini.

Kita butuh pemahaman yang utuh atas kasus ini sehingga memperoleh pelajaran sekaligus melakukan mitigasi agar kasus-kasus serupa tidak terulang.

Mari sejenak kita merenung tentang apa yang terjadi Selasa (6/2/2024) dini hari di Babulu Laut.

Di masing -masing kita tentu bertanya, apa yang ada di kepala Jefri, siswa kelas 12 SMK malam itu.

Baca juga: Mimpi 100 Tahun Balikpapan Ditumpahkan Rahmad Mas’ud di Meja Makan

Entah dendam, amarah atau apalagi yang menggerakkan kaki Jefri melangkah dari rumahnya menenteng parang menuju ke rumah keluarga gadis pujaan hatinya yang hanya bersebelahan itu.

Apa yang ada di kepala Jefri kala itu yang dengan taktis mematikan listrik rumah gadis pujaan hatinya dan kemudian melangkah masuk dan menghantam ayah gadis pujaan hatinya dengan golok hingga sekarat.

Kita juga masih butuh mengernyitkan dahi lantaran usai menghabisi nyawa Waluyo, Jefri masih melangkah ke kamar utama dan lagi-lagi menebaskan goloknya ke istri Waluyo dan dua anak Waluyo.

Dari keterangan polisi yang dikuatkan dengan hasil otopsi, luka pada korban cukup parah. Artinya, saat itu Jefri memang dalam posisi gelap mata menghabisi korban-korbannya.

Baca juga: Raung Sirene Demokrasi dari Bulaksumur

Belum selesai sampai di situ, parang di tangan Jefri masih meminta satu korban lagi dengan menghabisi anak sulung Waluyo, yang tak lain adalah gadis yang menjadi pujaan hati Jefri.

Bisa diduga, atau kita tunggu detail dari penyelidikan pihak kepolisian, lima nyawa yang dihabisi Jefri tentu dieksekusi dengan singkat. Sebab semua korban berada di dalam rumah yang sama, sehingga bisa dipastikan proses eksekusinya sangat cepat.

Ada puzzle yang juga perlu menjadi perhatian, dimana kuat diduga Jefri juga melampiaskan syahwat birahinya kepada korban terakhir.

Aksi terakhir Jefri ini tentu melenngkapi narasi sadis atas pembunuhan yang telah dilakukannya. Apalagi, konon istri Waluyo juga diduga mendapat perlakuan sama oleh Jefri.

Terakhir, usai melampiaskan birahinya, Jefri ternyata juga kembali menggunakan parangnya untuk membunuh Waluyo yang dilihatnya masih bergerak saat ia akan keluar meninggalkan rumah korban.

Baca juga: Ironi Demokrasi Basa-basi

Kalimat sederhananya, barangkali tak berlebihan jika kita mengajukan satu pertanyaan, “Syaitan mana yang merasuki Jefri kala itu?”

Ketika akal sehat kita tak sanggup memahami latar belakang yang membuat Jefri senekat itu, tiba-tiba kita juga mendapat puzzle lain dari kasus ini, yaitu Jefri juga merupakan orang yang berniat mengungkap kasus ini dengan memberitahukan kepada orang lain.

Seolah tak tahu apa yang terjadi, ia melaporkan adanya pembunuhan tersebut, yang barangkali ini adalah upaya ia untuk beralibi.

Apa pun itu, ini penting untuk dicatat, berapa jeda waktu dari Jefri mengeksekusi Waluyo untuk yang kedua kalinya dengan ia melaporkan kasus tersebut kepada orang lain.

Apa yang dilakukan Jefri di waktu antara dia membunuh Waluyo dengan dia menyampaikan apa yang ia ketahui (baca: lakukan) kepada orang lain juga akan menjawab banyak misteri.

Baca juga: Netralitas yang Sudah Berubah Makna

Sekali lagi, tragedi pilu di Babulu Laut Selasa (6/2/2024) tak cukup hanya dilihat dari perspektif hukum semata. Artinya, hukuman terhadap pelaku tak akan banyak memberi pelajaran kepada kita.

Kita butuh pemahaman yang utuh atas kasus ini dan kita perlu membuat mitigasi agar ‘kejanggalan’ sadis ini tak perlu terulang di kemudian hari.

Kita perlu paham bagaimana dunia anak-anak kita seusia Jefri dan sebayanya siswa SMK. Seberapa tertekankah mereka dan seberapa ‘picik’ kah pemahaman mereka hingga memilih escape atau jalan keluar yang jauh di luar nalar sehat kita kebanyakan?

Apakah benar anak-anak kita sudah benar-benar memiliki tekanan luar biasa antara kenyataan hidup keseharian dengan luasnya mimpi di sosial media yang saat ini kita abai tak lagi membatasinya?

Kita berharap, pemerintah memiliki kepekaan sosial dengan kasus Babulu Laut ini.

Waluyo dan keluarganya tak bisa diselamatkan dan kita tentu berdoa mereka diberi tempat terbaik di sisiNya, namun Jefri-Jefri kita yang lain harus diselamatkan. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
VS
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved