Sabtu, 13 Juni 2026

Horizzon

Terima Kasih Pak Jokowi

Jokowi telah memberi standar bagaimana sukses melanggengkan kekuasaan adalah dengan tidak melibatkan rasa malu dan bahkan menabrak etik.

Tayang:
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
DOK TRIBUNKALTIM.CO
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim

TERIMA KASIH Pak Jokowi! Kalimat tersebut rasanya pantas untuk melepas Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo yang 20 Oktober 2024 resmi mengakhiri satu dekade pengabdiannya.

Sejumlah kontroversi memang mewarnai kepemimpinan mantan Wali Kota Solo ini selama dua periode menjabat sebagai Presiden RI.

Awal mula moncernya Jokowi bahkan juga dari kontroversi yang sampai sekarang tak pernah terjawab.

Ingat Jokowi pasti ingat dengan mobil ESEMKA, sebuah mobil yang diklaim sebagai karya anak bangsa yang sudah dipesan sekira 6 ribu unit yang sampai sekarang tak jelas juntrungannya. 

Meski kontroversi, namun kisah ESEMKA yang mengantar Jokowi ke istana ini haruslah tetap dijadikan pelajaran.

Baca juga: Ingat, IKN Masih di Kaltim!

Setidaknya pelajaran agar kita tak gampang percaya pada citra wong cilik yang barangkali justru dari tampang wong ndeso itulah keluar kebijakan-kebijakan kapitalis dan pro kepada pengusaha bin lupa pada wong cilik.

Setelah pelajaran tentang tampang, Jokowi juga memberikan pelajaran paling fundamental dalam berpolitik, yaitu etik yang didalamnya terkandung rasa malu. 

Dari sini, Jokowi dengan sempurna memberikan kita petuah bagaimana rasa malu menjadi self control bagi setiap penguasa yang secara manusiawi selalu ingin mempertahankan kekuasaannya. 

Tidak bisa dipungkiri, kekuasaan adalah candu yang memabukkan, sehingga siapapun ingin mempertahankannya saat kekuasaan itu sudah diraih. 

Sebut saja SBY yang rela memaksa AHY pensiun dari tentara demi untuk peruntungan mewarisi kekuasannya.

Sayang, kala itu SBY masih memiliki rasa malu, sehingga dalam merencanakan masa depan AHY masih melalui proses panjang dan harus terganjal di fase pertama, yaitu kontestasi di Pilgub DKI Jakarta.

Baca juga: Belajar dari Paus Fransiskus 

SBY adalah contoh bagaimana secara manusiawi, kekuasaan adalah candu yang layak dilanggengkan.

Di luar negeri sebut saja Marcos, Aquino atau di negeri Paman Sam, ada Bush dan Bush Jr juga menunjukkan bahwa kekuasaan itu candu dan layak diturunkan. 

Yang berbeda, Jokowi memberi pelajaran bahwa saat candu kekuasaan itu tak perlu melibatkan rasa malu dan bahkan boleh menabrak etik.

Jokowi telah memberi standar bagaimana sukses melanggengkan kekuasaan adalah dengan tidak melibatkan rasa malu dan bahkan menabrak etik.

Berangkat dari mobil ESEMKA saat berangkat, Jokowi di penghujung kekuasaannya harus menggunakan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk memastikan Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi tiket bersama kesuksesan Prabowo Subianto, sehingga putra sulung Jokowi ini dilantik menjadi Wakil Presiden mendampingi Prabowo Subianto bersamaan dengan lengsernya Jokowi.

Baca juga: Epilog Kekuasaan dalam Upacara 17-an di IKN

Tak sebatas pada Gibran, candu kekuasaan yang melekat di Jokowi ini juga telah memastikan Bobby Nasution, sang menantu, menjadi Walikota Medan dan saat ini tengah mencari peruntungan di Pilgub Sumatera Utara. 

Sementara si bungsu, Kaesang secara instan juga sudah menjadi orang pertama di Partai Solidaritas Indonesia (PSI), meski hujan baliho bergambar Kaesang dan Jokowi di hampir seluruh negeri tak mujarab mengantarkan PSI lolos ke Senayan.

Joko Widodo adalah guru sempurna bagi mereka yang mencari kekuasaan yang meninggalkan sisi etik.

Tuntas 10 tahun mengemban kekuasaan, Jokowi digantikan oleh Prabowo, patriot yang sudah dua kali dikalahkan dalam Pilpres, yaitu 2014 dan 2019. 

Dua kali kalah dari Jokowi, Prabowo adalah orang yang paling berjasa dalam mengangkat Jokowi dari Solo dan menjadikannya sebagai Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama. 

Baca juga: 3 Kebohongan Paling Epic

Prabowo adalah patriot sejati, sepanjang hidupnya didedikasikan untuk republik ini. 

Karier militernya tak dirintis dari meja komando, namun dari medan pertempuran.  

Gus Dur bahkan memberi kesaksian bahwa orang yang paling ikhlas untuk negeri ini adalah Prabowo Subianto.

Kini, sejak 20 Oktober 2024, Prabowo adalah presiden yang akan menahkodari republik ini.

Seluruh rakyat negeri ini menunggu bagaimana kiprah patriot sejati itu memimpin negara besar nan kaya bernama Indonesia.

Berdeda dengan Jokowi, Prabowo telah membuat standar tinggi bagaimana ia menjadi Presiden Indonesia.

Sapaannya terhadap 19 negara sahabat yang hadir dalam inaugrasi pelantikannya telah membuat kita semua bangga memiliki presiden bernama Prabowo Subianto.

Kita berharap, pride, kehormatan, harga diri, dan juga kebanggaan sebagai bangsa dan negara Indonesia akan semakin mantab di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto.

Selamat bekerja, Jenderal! (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
Live
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved