Kamis, 9 April 2026

Ramadhan 2025

Merawat Kemabruran Puasa 5 - Berorientasi Husnul Khatimah

Jiwa akan sehat dan terpelihara kalau kita terbiasa berfikir sehat, proaktif, dan berorientasi kepada husnul khatimah.

|
Editor: Diah Anggraeni
TRIBUNNEWS.COM/RISMAWAN
NASARUDDIN UMAR - Foto arsip Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, Imam Besar Masjid Istiqlal saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (19/5/2023). (TRIBUNNEWS.COM/RISMAWAN) 

Oleh: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA

JIWA akan sehat dan terpelihara kalau kita terbiasa berpikir sehat, proaktif, dan berorientasi kepada husnul khatimahending kehidupan yang baik dan ideal. Inilah salah satu hikmah puasa yang kita rasakan.

Khusus melakukan tugas dan pekerjaan sebaiknya diupayakan berorientasi kepada husnul
khatimah/positive thinking.

Melakukan pekerjaan dengan berorientasi husnul khatimah diawali dengan niat atau perencanaan yang luhur dan baik.

Kita harus berusaha menyingkirkan kesenangan dan kebahagiaan sesaat dengan mengorbankan perinsip dan nilai-nilai luhur kehidupan.

Jika kita berasumsi segalanya diciptakan dua kali, yaitu ciptaan mental (blue print) yang biasa diistilahkan dengan niat, dan ciptaan fisik atau eksekusi sebuah program dengan perhatian lebih fokus dan profesional, maka sudah barang tentu blue print-nya sesuai konsep husnul khatimah.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 1 - Meneguhkan Visi Kehidupan

Kita harus bisa memastikan bahwa semua perbuatan kita berangkat dari konsep husnul khatimah, diawali dengan niat yang baik dan luhur semenjak pemunculan awal gagasan itu (masyi'ah), lalu mengukur kemampuan (istitha'ah), dan terakhir ketika gagasan itu direalisasi atau dieksekusi (kasab) dipastikan sedah melalui wujud niat yang tepat. 

Pertama, kita diminta untuk membuat perencanaan yang visible (blue print) yang sesuai dengan konsep husnul khatimah.

Blue print tentunya harus didesai dengan konsep proaktif, bukannya reaktif.

Harapan kita apa yang direncanakan sejak awal itulah yang menjadi kenyataan.

Dengan demikian, sesungguhnya setiap perbuatan itu dilaksanakan dua kali. Sekali di dalam bentuk konsep dan kedua kalinya dalam bentuk actions.

Baca juga: Merawat Kemabruran Puasa 2 - Dimulai dengan Niat yang Luhur

Sedemikian penting hal ini, maka Allah SWT mencontohkan Dirinya tidak melakukan
perbuatan-Nya sekali tetapi selalu dua kali, yaitu sekali dalam bentuk blue print di Lauh al-mahfudh dan kedua kalinya dalam bentuk kenyataan di alam syahadah ini.

Kesemuanya ini memberikan hikmah betapa manusia juga sebaiknya mengerjakan perbuatannya dua kali, sekali dalam perencanaan dan kedua kalinya dalam bentuk actions (hasab).

Antara perbuatan pertama (niat) dan perbuatan kedua (actions) sedapat mungkin tidak terjadi perbedaan berarti.

Apa yang ada di dalam konsep dan perencanaan itulah yang menjadi kenyataan.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved