Mata Lokal Fest 2025

Di Mata Lokal Fest 2025 Menperin Agus Gumiwang Beber 8 Strategi Pengembangan Industri Hijau

Menteri Perindustrian (Menperin) Republik Indonesia Agus Gumiwang Kartasasmita, menjadi pembicara dalam Mata Lokal Fest 2025.

Dok.Golkar via TribunTimur.com
MATA LOKAL FEST - Menteri Perindustrian (Menperin) Republik Indonesia Agus Gumiwang Kartasasmita, menjadi pembicara dalam Mata Lokal Fest 2025, dengan mengusung tajuk “Net-Zero Industry Strategies for The Carbonizing Indonesia’s Manufacturing Sector”.  (Dok.Golkar via TribunTimur.com) 

Guna mencapai target NZE di sektor industri pada tahun 2050 mendatang, Kemenperin bersama dengan Pemerintah menghadirkan Green Industry Service Company (GISCO) yang berperan besar dalam ekosistem industri hijau. 

Menperin Agus menjelaskan, GISCO merupakan salah satu produk inisiatif dari Kementerian Perindustrian untuk mendukung transformasi industri menuju praktik ramah lingkungan.

Peran GISCO dalam ekosistem industri hijau ditunjukkan dengan pertama, pendanaan hijau dengan menyediakan solusi pembiayaan untuk perusahaan yang ingin beralih ke teknologi hijau. 

Kedua, implementasi teknologi, GISCO membantu di dalam merancang dan menerapkan teknologi efisiensi energi atau ramah lingkungan.

Baca juga: Tribun Network Gelar Mata Lokal Fest 2025, Angkat Isu Keberlanjutan untuk Dampak Nyata

Lalu, ketiga, sertifikasi industri hijau yang membantu perusahaan dapat memperoleh sertifikasi industri hijau yang menjadi bukti komitmen terhadap keberlanjutan. 

“Kami telah merancang berbagai strategi dekarbonisasi yang mencakup beberapa langkah penting. Ini termasuk penerapan mekanisme perdagangan emisi industri, kebijakan pengurangan emisi di sektor industri, serta implementasi ekonomi sirkular yang berkelanjutan,” jelas Menperin Agus. 

Sebagai informasi, Green Industry Service Company (GISCO) berfokus pada empat hal, pertama Kelembagaan, merupakan unit bisnis yang memiliki status hukum resmi di Indonesia dan memiliki ruang lingkup bisnis yang sesuai.

Kedua, Kompetensi, memiliki kompetensi SDM dan struktur organisasi yang bersertifikasi sesuai dengan kebutuhan untuk mendukung implementasi teknologi ramah lingkungan serta solusi efisiensi energi.

Lalu, ketiga, Aliansi Strategis, industri hijau memiliki dan membangun kemitraan aliansi strategis dengan Penyedia Pembiayaan Hijau dan penyedia teknologi ramah lingkungan yang dapat memberikan dampak positif bagi industri dan lingkungan.

Terakhir, Adaptif, melakukan upaya untuk terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan, untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri hijau yang terus berubah. 

Baca juga: Blak-blakan di Mata Lokal Memilih, Tantowi Yahya Ungkap Banyak Artis Berpikir Diajak Gabung Golkar

Selain itu, ia juga menambahkan, Pemerintah mengembangkan strategi Carbon Capture Utilization (CCU) atau penangkapan dan pemanfaatan karbon, serta menetapkan standar industri untuk mengurangi emisi secara efektif. 

“Semua langkah ini dirancang untuk memastikan bahwa sektor produksi dapat mencapai target NZE dengan efisien dan sesuai dengan waktu yang ditentukan,” tutup Menperin Agus. 

Sesi Summit ini juga turut menggarisbawahi pentingnya ekosistem industri hijau sebagai elemen kunci untuk masa depan Indonesia yang lebih tangguh terhadap situasi global.

Upaya ini berjalan guna memastikan bahwa keberlanjutan dan program NZE pada tahun 2050 berjalan dengan optimal. 

Sesi ini sekaligus menegaskan bahwa Kemenperin akan terus menyoroti peluang investasi hijau serta potensi kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan inovasi industri hijau, termasuk penerapan ekonomi sirkular di sektor manufaktur. 

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved