Berita Samarinda Terkini
Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Samarinda Kaltim Mengkhawatirkan
Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Samarinda mencapai titik mengkhawatirkan sepanjang tahun 2025.
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Budi Susilo
“Dari pengalaman kami hingga pertengahan tahun ini, sebagian besar korban berada pada rentang usia remaja,” ungkapnya.
Ayunda menambahkan bahwa meskipun pihaknya tak menghafal setiap rincian kasus, fokus mereka selalu tertuju pada proses pemulihan psikologis korban, bukan sekadar pencatatan data.
Menghadapi derasnya arus laporan kekerasan yang masuk, UPTD PPA Samarinda menyerukan pentingnya keterlibatan masyarakat secara aktif.
Menurut Ayunda, pencegahan tidak bisa hanya dibebankan pada lembaga pelayanan, tetapi juga membutuhkan partisipasi warga dalam mengenali dan melaporkan tanda-tanda kekerasan di sekitarnya.
“Semua bentuk kekerasan yang melibatkan perempuan dan anak adalah tanggung jawab kami. Maka kami butuh dukungan masyarakat untuk bisa melakukan intervensi lebih dini sebelum kasus-kasus ini bertambah parah,” kata Ayunda.
Terakhir, menurutnya, data yang dihimpun UPTD PPA Samarinda seharusnya bisa menjadi alarm keras bagi semua pihak, lantaran isu kekerasan terhadap perempuan dan anak bukanlah perkara kasuistik, melainkan problem sistemik yang memerlukan penanganan lintas sektor.
“Tanpa sinergi antara pemerintah, penegak hukum, dunia pendidikan, keluarga, dan masyarakat luas, korban-korban berikutnya hanya tinggal menunggu waktu,” pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250511_Psikolog-Balikpapan-2025-Kasus-Asusila.jpg)