OPINI
Perisai Vital QRIS, Kode Resiliensi Perekonomian Indonesia
Kenaikan tarif impor oleh Amerika Serikat melalui Kebijakan Presien Donald Trump, berdampak terjadinya perang dagang
Perisai Vital QRIS, Kode Resiliensi Perekonomian Indonesia
Oleh: Adi Purbondaru, Asisten Analis Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur
Kenaikan tarif impor oleh Amerika Serikat melalui Kebijakan Presien Donald Trump, berdampak terjadinya perang dagang, penurunan ekspor dan produksi serta ketidakpastian ekonomi.
Potensi perang dagang tidak hanya sebatas perang tarif, lebih daripada itu menjadi pertandingan multidimensional yang mencakup teknologi, data, dan bahkan mata uang.
Pembatasan akses teknologi canggih seperti cip semikonduktor, sanksi terhadap perusahaan-perusahaan strategis, hingga upaya de-dollarisasi oleh beberapa negara, semuanya menciptakan lingkungan global yang penuh ketidakpastian.
Amerika Serikat mempersoalkan penerapan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di Indonesia karena dianggap membatasi ruang gerak perusahaan asing, terutama dalam sistem pembayaran digital.
Baca juga: BI Kaltim Siapkan Layanan Penukaran Uang, Berlangsung hingga 27 Maret 2025
Di tengah tantangan eksternal yang kompleks ini, penguatan fondasi perekonomian domestik menjadi sangat penting, dan di sinilah peran strategis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) patut mendapatkan perhatian.
Mengapa QRIS Menjadi Perisai Vital di Era Perang Dagang Global
QRIS sebagai benteng kedaulatan pembayaran nasional, perang dagang yang telah ditabuh Amerika Serikat juga mencakup aspek "perang teknologi", menunjukkan betapa rentannya sebuah negara jika infrastruktur sistem pembayaran digital didominasi pihak asing.
Potensi sanksi, gangguan layanan, atau kontrol data oleh pihak asing adalah risiko menjadi ancaman kedaulatan nasional.
Baca juga: Mulai 17 Agustus 2025, BI Sebut Belanja di Jepang dan China Bisa Pakai QRIS
QRIS memastikan bahwa transaksi pembayaran di dalam negeri berjalan dengan standard yang ditetapkan dan diawasi oleh regulator nasional (Bank Indonesia).
Hal tersebut menjadi pertahanan untuk memastikan aliran ekonomi domestik kita tidak mudah terganggu oleh gejolak geopolitik yang berasal dari luar.
Memperkuat Resiliensi Ekonomi dari Dalam
QRIS secara masif mendorong digitalisasi dan inklusi keuangan di sektor UMKM, yang notabene merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia. Bagi pedagang kaki lima, warung kelontong, petani di desa, atau nelayan, QRIS mempermudah mereka menerima pembayaran digital.
Ini menciptakan jejak digital (digital footprint) yang sebelumnya sulit didapat, membuka akses mereka ke layanan keuangan formal seperti pinjaman digital yang bisa menjadi modal pengembangan usaha.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250605_BI-Kaltim-Kuat.jpg)