Jumat, 12 Juni 2026

Salam Tribun

Sekolah Rakyat Kurang Merakyat

SALAH satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto adalah peningkatan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan gratis.

Tayang:
Penulis: Sumarsono | Editor: Briandena Silvania Sestiani
DOK PRIBADI
PEMRED TRIBUN KALTIM - Sumarsono, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. (DOK PRIBADI) 

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur melaporkan angka putus sekolah hingga 2024 mencapai 16.000 anak.

Salah satu daerah penyumbang angka tertinggi anak putus sekolah yakni Kota Samarinda. Angka ini turun dibanding data BPS tahun 2020 yang mencapai 28.600 anak.

Program Sekolah Rakyat ini terkesan “manis”. Bayangin saja, orangtua tidak perlu lagi memikirkan biaya sekolah, termasuk seragam, peralatan sekolah hingga kebutuhan harian. Karena semuanya sudah ditanggung pemerintah.

Namun, dalam pelaksanaannya tentu masih banyak kendala. Program ini masih baru, sehingga Sekolah Rakyat kurang merakyat di masyarakat.

Terutama kelompok masyarakat yang kurang mampu atau terpinggirkan, yang merupakan target dari program Sekolah Rakyat itu sendiri.

Bisa jadi Sekolah Rakyat sulit dijangkau oleh semua lapisan masyarakat karena berbagai alasan, seperti lokasi yang tidak strategis atau jauh dari rumah, dan kurangnya fasilitas.

Belum lagi, program Sekolah Rakyat terkesan kebijakan top down, tidak melibatkan masyarakat secara aktif dalam proses pengambilan keputusan, perencanaan, atau pelaksanaan program pendidikan.

Masih banyak anak-anak orang miskin ini tidak sekolah karena bekerja membantu orangtua untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ada rasa berat bagi mereka untuk meninggalkan rumah, sekolah di asrama, sementara orangtua hidup di bawah garis kemiskinan.

Ada anggapan Sekolah Rakyat mungkin tidak memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat, seperti peningkatan kualitas pendidikan, peningkatan kesadaran masyarakat, atau peningkatan kualitas hidup.

Sekolah juga tidak lepas dari tenaga pendidik. Apakah Sekolah Rakyat nantinya akan melibatkan guru-guru di sekolah yang sudah ada.

Atau merekrut tenaga pendidik baru yang mungkin secara kualitas dan pengalaman masih diragukan. Lagi-lagi output-nya adalah lulusan siswa yang kurang memiliki daya saing dengan sekolah reguler.

Persoalan sosial dan psikologis anak sepertinya juga perlu mendapat perhatian.

Jangan sampai anak-anak yang berada di Sekolah Rakyat merasa diimarginalkan, karena sudah ada stigma Sekolah Rakyat adalah sekolah untuk anak-anak miskin atau tidak mampu.

Bagaimana mengatasi masalah Sekolah Rakyat kurang merakyat ini? Perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan akses, partisipasi, dan manfaat Sekolah Rakyat bagi masyarakat, khususnya masyarakat kurang mampu. 

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved