Berita Samarinda Terkini
Mengenal Rama Dana, Seniman yang Membuat Dinding Kota Samarinda 'Bicara'
Di balik warna-warna mencolok yang menghiasi dinding kota Samarinda, terdapat jejak tangan dan imajinasi seorang pria kelahiran 20 April 1988.
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Miftah Aulia Anggraini
Sebagai seniman yang beraktivitas di ruang terbuka, Rama Dana kerap menjadikan mural sebagai sarana menyampaikan kritik sosial.
Isu-isu seperti banjir Samarinda tak jarang muncul dalam visualnya.
“Masih banyak sebenarnya pesan yang ingin saya sampaikan lewat mural. Karena dinding kota bisa bicara, dan saya ingin membantu mereka berbicara,” ujarnya.
Dari sekian banyak mural yang ia buat, salah satu yang paling tak terlupakan adalah saat iseng menggambar di tembok pemakaman.
Bukan karena sensasinya, tapi karena pengalaman itu menyadarkan bahwa tidak ada batas bagi seni ketika niatnya tulus dan pesannya kuat.
Baca juga: Makna Tugu Pesut di Dekat Jembatan Mahakam IV Samarinda, Karya Seniman Bandung
“Hampir semua mural itu berkesan, tapi yang paling susah dilupakan adalah menggambar di tembok kuburan,” tuturnya.
Meski mural kadang diidentikkan dengan aksi liar, Rama Dana justru menekankan pentingnya izin dari pemilik tembok sebagai bentuk etika dalam berkarya.
“Tantangan terbesar sejauh ini? Gak ada sih. Yang penting sudah dapat izin,” candanya.
Respon masyarakat pun luar biasa.
Rama Dana bercerita bahwa tak sedikit yang justru meminta secara personal agar rumah atau tempat usaha mereka dijadikan kanvas.
Baca juga: 5 Fakta Patung Biawak Wonosobo, Viral Mirip Asli dengan Biaya Rp50 Juta, Sosok Arianto sang Seniman
Menurutnya, dukungan terhadap seniman mural di Samarinda sangat terasa, bahkan hingga ke level komunitas dan pemerintah.
Di tingkat provinsi, perkembangan seni mural di Kalimantan Timur juga dinilai cukup pesat.
Agenda tahunan menggambar bareng di ruang publik menjadi ajang unjuk karya sekaligus ajang solidaritas antar seniman.
Sebuah pergerakan akar rumput yang terus tumbuh dari kreativitas kolektif.
“Banyak yang ngasih tembok kosong buat digambar. Itu bentuk dukungan nyata. Saya juga beberapa kali ikut proyek kolaborasi dengan organisasi dan instansi,” jelasnya.
Baca juga: Libatkan Seniman Bandung, Inilah Makna Warna dari Elemen Estetis di Jembatan Sambaliung Berau
Ketika ditanya tentang harapan ke depan, Rama Dana tak berbicara tentang prestasi atau pengakuan pribadi.
Ia justru membayangkan semakin banyak seniman jalanan yang lahir dan bebas berkarya di ruang publik.
“Saya berharap tidak ada lagi batasan atau larangan. Jalanan itu ruang bersama, dan seni harus hadir di sana,” pungkasnya. (*)
| Kendala Operasional Insinerator Samarinda, Gaji Operator Rp2,5 Juta per Bulan |
|
|---|
| Samarinda Masuk 7 Kota Paling Maju di Indonesia Versi BRIN IDSD 2025 |
|
|---|
| Samarinda Waspada Kemarau Ekstrem, Walikota Terbitkan Imbauan Kesiapsiagaan |
|
|---|
| Ramai Video Testimoni Gratispol di SMAN 1 Samarinda, Pihak Sekolah Sebut Bukti Realisasi Program |
|
|---|
| DLH Samarinda Siapkan APD Petugas Insinerator, Target Operasional Penuh Mei 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/29062025-Rama-Dana-seniman-mural-asal-Samarinda.jpg)