Sosok

Dari Guru Olahraga ke Kepala Sekolah Berprestasi: Kisah Suparman Membangun SMK Unggul di Balikpapan

Lewat program TEFA, Suparman membangun unit produksi profesional yang diberi nama Smart Biztefa.

Editor: Syaiful Syafar
IST
KEPALA SEKOLAH BERPRESTASI - Kepala SMK Negeri 2 Balikpapan, Suparman, S.Pd., ketika ditemui di sekolahnya, Rabu (2/7/2025). Suparman dinobatkan sebagai Juara Pertama Kepala Sekolah Berprestasi tingkat Provinsi Kalimantan Timur oleh Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah 1 Kaltim, belum lama ini. Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi terhadap kepala sekolah yang mampu menunjukkan inovasi dan kepemimpinan berdampak luas. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Tak banyak yang menyangka, seorang guru yang memulai karier sebagai guru olahraga di sekolah dasar bisa mengantarkan sekolah vokasi menjadi pusat keunggulan dan contoh transformasi pendidikan. Itulah yang dibuktikan oleh Suparman, S.Pd., Kepala SMK Negeri 2 Balikpapan, yang baru saja dinobatkan sebagai Juara Pertama Kepala Sekolah Berprestasi tingkat Provinsi Kalimantan Timur.

Penghargaan ini diberikan oleh Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah 1 Kaltim sebagai bentuk apresiasi terhadap kepala sekolah yang mampu menunjukkan inovasi dan kepemimpinan berdampak luas.

Bagi Suparman, pencapaian ini adalah hasil dari visi besarnya membangun sekolah vokasi yang benar-benar menyiapkan siswa menghadapi dunia kerja nyata.

"Alhamdulillah, saya memang suka berprestasi. Tapi yang lebih penting, saya ingin anak-anak kita siap kerja, bisa mandiri, dan punya akhlak baik," ujar Suparman, Rabu (2/7/2025).

Menjawab Stigma SMK: Bukan Lagi Penyumbang Pengangguran

Suparman resmi menjabat sebagai Kepala SMKN 2 Balikpapan—dikenal juga sebagai Skada—pada akhir September 2023.

Tantangan pertama yang ia hadapi adalah stigma negatif terhadap SMK sebagai penyumbang angka pengangguran tertinggi di Indonesia.

Baca juga: Pembentukan Sekolah Vokasi Jadi Ajang Pelestarian Budaya, OIKN Usulkan Bahasa Ibu Dihidupkan

Menjawab tantangan itu, Suparman langsung mendorong penerapan Teaching Factory (TEFA) secara menyeluruh di sekolah.

Ia mengangkat jurusan Desain Komunikasi Visual sebagai program andalan dalam ajang tersebut. 

Konsep pembelajaran berbasis industri ini memungkinkan siswa belajar dan bekerja dalam suasana yang menyerupai dunia kerja nyata.

"Saya ingin membuktikan bahwa SMK juga bisa menghasilkan lulusan yang siap kerja, bisa wirausaha, atau melanjutkan pendidikan," tegasnya.

Smart Biztefa: Dari Kelas jadi Industri Mini

Lewat program TEFA, Suparman membangun unit produksi profesional yang diberi nama Smart Biztefa.

Dengan dukungan dana Rp1 miliar dari pemerintah, fasilitas ini dilengkapi peralatan industri standar profesional dan dikelola langsung oleh siswa dari berbagai jurusan seperti DKV, akuntansi, perkantoran, hingga pemasaran.

Kini, SMKN 2 Balikpapan juga berstatus sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Artinya, hasil produksi siswa—mulai dari sablon digital (DTF), spanduk, banner, mug, pin, buku, hingga jasa foto pre-wedding dan dokumentasi kantor—dapat dijual secara legal ke masyarakat.

"Masyarakat bisa langsung datang ke sekolah untuk layanan cetak. Lengkap dan harganya bersaing," ungkap Suparman.

Baca juga: Siswi SMK Negeri 2 Balikpapan Widyadhana Sabet Gelar Duta Siswa Indonesia Anti Narkoba Utama 2025

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved