Salam Tribun
PPDB vs SPMB: Isu Beli Kursi hingga Pungli
Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 ibarat istilah hanya ganti baju.
Penulis: Sumarsono | Editor: Briandena Silvania Sestiani
Sistem zonasi yang sekarang berganti rayonisasi dalam SPMB juga menjadi sorotan, terutama terkait dengan implementasinya di lapangan dan dampaknya terhadap pemerataan pendidikan.
Masih ada masyarakat yang tinggal di daerah jauh dari lokasi sekolahan. Mereka kesulitan memasukkan anaknya ke sekolah yang diiinginkan.
Belum lagi pembatasan jumlah murid dan rombongan belajar (rombel) di setiap sekolah, sehingga anak yang berada di dekat sekolah terkadang tidak bisa terakomudir.
Aksi protes, demo warga masih terjadi ketika kepentingan mereka tidak terlayani, padahal memilik hak yang sama.
Ada lagi isu-isu dugaan kecurangan seperti beli kursi, manipulasi jalur afirmasi, dan pungutan liar di beberapa daerah.
Kabar yang diterima Tribun Kaltim, untuk memaksa masuk SMA (favorit) di Balikpapan harus mengeluarkan uang Rp20 juta-Rp30 jutaan. Sementara SMP Negeri Rp3 juta-Rp 5 jutaan.
Isu ini masih sebatas kabar yang belum terkonfirmasi.
Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bagi orangtua punya duit yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah favorit atau dekat dengan rumahnya. Berbagai cara bisa dilakukan, dan peluang terjadinya pungutan liar terbuka.
Jalur siswa titipan melalui surat sakti oknum pejabat, anggota DPRD masih terjadi di sejumlah daerah.
Meskipun ada yang sakti sehingga bisa meloloskan siswa titipannya, ada juga yang tidak sakti, karena sekolah berani menolaknya.
Sistem SPMB 2025 bisa jadi sudah ada perubahan dan penyempurnaan, namun masih saja banyak orangtua yang menjerit kesulitan memasukkan anaknya ke sekolah, SD, SMP maupun SMA/SMK.
Pemerintah telah berupaya untuk mengatasi masalah ini, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi.
Salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah kebijakan sekolah SD dan SMP swasta dan negeri gratis.
Namun, persoalan kualitas dan sarana pendidikan sekolah swasta masih dipertanyakan. Apakah sekolah swasta dapat memberikan kualitas pendidikan yang sama dengan sekolah negeri?
Untuk mengatasi kericuhan SPMB, beberapa solusi dapat dipertimbangkan:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250414_Sumarsono-Pemimpin-Redaksi-Tribun-Kaltim.jpg)