Berita Ekbis Terkini
Mengapa Ringgit Malaysia Terus Menguat terhadap Dolar AS? Ini Faktor Pendorongnya
Ringgit Malaysia terus menguat terhadap dolar AS dan mata uang Asia lain, ditopang meredanya tensi Timur Tengah serta ekonomi domestik yang membaik.
Ringgit juga menguat terhadap rupiah Indonesia menjadi 223,8/224,5 dari sebelumnya 224,1/224,4 dan menguat terhadap peso Filipina menjadi 6,42/6,44 dari sebelumnya 6,43/6,44.
Mengapa Ringgit Malaysia Terus Menguat?
Mengutip situs layanan manajemen keuangan PhillipInvest.com.my, sejak 2024 ringgit Malaysia mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan setelah melemah selama lima dekade terakhir.
Menjelang 2026, sejumlah faktor besar mulai dari penataan ulang rantai pasokan global, pengelolaan fiskal yang lebih kuat, hingga peningkatan investasi asing langsung menunjukkan bahwa ringgit masih memiliki ruang untuk menguat.
Baca juga: Rupiah Loyo, Pengamat Ekonomi dari STIE Balikpapan Desak Kepastian Kebijakan Ekspor Batu Bara Kaltim
Berikut faktor-faktor utama yang mendukung penguatan ringgit hingga 2026.
1. Ledakan teknologi “China Plus One”
Karena perusahaan global berupaya mengurangi ketergantungan terhadap China, banyak perusahaan aktif mencari basis produksi alternatif di Asia.
Malaysia muncul sebagai pilihan utama karena stabilitas politik, tenaga kerja terampil, dan infrastruktur yang berkembang baik.
Di tengah meningkatnya ketegangan AS-China, sejumlah perusahaan memindahkan rantai pasokan penting keluar dari China.
Penang kini semakin dikenal sebagai “Silicon Valley-nya ASEAN”.
Perusahaan besar seperti AMD dan Intel mendorong pertumbuhan di Penang melalui investasi asing yang signifikan pada pusat data AI, fasilitas manufaktur semikonduktor, dan kawasan industri berteknologi tinggi.
Masuknya investasi perusahaan multinasional tersebut membuat kebutuhan konversi mata uang asing ke ringgit meningkat, sehingga memperkuat permintaan terhadap mata uang Malaysia itu dalam jangka panjang.
2. Kesenjangan suku bunga yang lebih kecil
Pada akhir 2025, Federal Reserve AS dan beberapa bank sentral utama lainnya mulai memangkas suku bunga untuk mendukung perekonomian mereka.
Sebaliknya, Bank Negara Malaysia mempertahankan suku bunga kebijakan di level 2,75 persen.
Akibatnya, selisih suku bunga antara Malaysia dan AS menyempit sepanjang 2025 hingga awal 2026 dan menjadi salah satu pendorong utama apresiasi ringgit Malaysia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260504_rupiah-terlemah_dollar-AS_nilai-tukar-mata-uang-sekawasan.jpg)