Senin, 8 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

100 Hari Perang AS–Iran: Dampak Ekonomi Global, Pasar Saham, dan Harga Minyak

Perang AS–Iran yang telah berlangsung 100 hari memicu volatilitas besar di pasar keuangan global, terutama sektor energi dan obligasi.

Tayang:
HO//ST/Tangkap Layar/Khaberni
100 HARI PERANG IRAN - Kobaran api dari ledakan yang menghantam sebuah depot bahan bakar minyak di Teheran, Iran, Sabtu (7/3/2026) malam. Perang AS–Iran yang telah berlangsung 100 hari memicu volatilitas besar di pasar keuangan global, terutama sektor energi dan obligasi. 

Meadows mengungkapkan, ketika Selat Hormuz tetap tertutup, inflasi kemungkinan akan meningkat. Namun, investor tampaknya bersedia percaya, baik Trump maupun Iran tidak ingin memperpanjang konflik ini.

"Meskipun demikian, pada titik tertentu dampak konflik, jika tidak terselesaikan, akan menyebabkan penurunan permintaan yang tidak dapat diabaikan oleh investor," ucap dia.

Baca juga: Perang AS-Iran Kian Panas, Drone Iran Ditembak Jatuh hingga Serangan Balasan ke Kuwait dan Bahrain

Imbal Hasil Obligasi Melonjak

Obligasi pemerintah telah berfluktuasi sejak perang pecah, tetapi imbal hasil utang negara tetap tinggi.

Imbal hasil obligasi dan harganya bergerak berlawanan arah, sehingga imbal hasil yang tinggi berarti tekanan ke bawah pada nilai aset tetap ada.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS termasuk di antara yang melonjak setelah perang.

Pasalnya, investor bergegas memperhitungkan inflasi yang lebih tinggi dan kebijakan moneter yang ketat.

Bulan lalu, imbal hasil obligasi pemerintah AS 30 tahun mencapai level tertinggi sejak sebelum masa krisis keuangan.

Banyak negara dengan perekonomian besar telah melihat pola serupa.

Sebagai contoh, Inggris, yang juga dilanda gejolak politik domestik, telah menyaksikan obligasi pemerintahnya yang dikenal sebagai gilts mengalami penurunan dan dijual secara sangat agresif.

Kepala bagian investasi di Premier Miton Investors, Neil Birrell mengatakan, pasar obligasi berpandangan ada sesuatu yang nyata untuk dikhawatirkan.

Hal itu merujuk pada kekhawatiran tentang inflasi yang lebih tinggi, pertumbuhan yang lebih rendah, dan gangguan rantai pasokan.

"Lamanya inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi mungkin lebih penting daripada puncak absolut yang dicapainya, jadi dengan situasi saat ini yang tampaknya akan berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi akan terganggu dan imbal hasil obligasi kemungkinan akan tetap tinggi, sehingga menyulitkan saham untuk mempertahankan levelnya,” kata dia.

Harga Minyak Turun, Pasar Masih Was-was

Selat Hormuz sebagai jalur pengiriman minyak yang sangat penting di Timur Tengah pada dasarnya telah ditutup selama perang berlangsung.

Kondisi itu mengakibatkan fluktuasi harga minyak yang besar karena para pedagang bereaksi terhadap berita utama seputar serangan rudal, perundingan perdamaian, dan gencatan senjata.

Meskipun harga telah turun secara signifikan dari harga tertinggi selama masa perang, harga tersebut tetap jauh lebih tinggi daripada sebelum konflik dimulai.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved