Senin, 8 Juni 2026

Berita Ekbis Terkini

Kenapa Rupiah Tembus Rp 18.200 per Dollar AS? Ini Penyebab dan Dampaknya

Rupiah tembus Rp 18.200 per dollar AS dan IHSG anjlok lebih dari 4 persen, memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Tayang:
Editor: Heriani AM
KONTAN/Cheppy A Muchlis
NILAI TUKAR RUPIAH - Ilustrasi uang rupiah dan dollar AS. Rupiah tembus Rp 18.200 per dollar AS dan IHSG anjlok lebih dari 4 persen, memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah tembus Rp 18.200 per dollar AS dan IHSG anjlok lebih dari 4 persen, memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.
  • Analis menilai tekanan pasar dipicu meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia, termasuk kekhawatiran soal fiskal dan komunikasi kebijakan pemerintah.
  • Jika pelemahan rupiah berlanjut, harga barang impor berpotensi naik dan dapat memicu tekanan inflasi serta melemahkan daya beli masyarakat.

 

TRIBUNKALTIM.CO - Di tengah klaim pemerintah bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, tekanan di pasar keuangan justru semakin dalam. 

Nilai tukar rupiah menembus level Rp 18.200 per dollar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 4 persen dalam perdagangan Senin (8/6/2026).

Pelemahan rupiah dan kejatuhan IHSG yang terjadi secara bersamaan memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar.

Kondisi tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi Indonesia, meski sejumlah indikator fiskal pemerintah masih berada dalam batas yang relatif aman.

Baca juga: 3 Dampak Nyata Rupiah Semakin Melemah terhadap Dolar AS ke Level Rp18.201, Jangan Anggap Normal

Situasi ini membuat investor menunggu sinyal yang lebih kuat terkait konsistensi kebijakan dan koordinasi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Jika ketidakpastian berlanjut, pelemahan rupiah berpotensi berdampak pada kenaikan harga barang impor, meningkatnya inflasi, hingga menekan daya beli masyarakat dalam beberapa waktu ke depan.

Pelemahan rupiah dan kejatuhan pasar saham terjadi secara bersamaan ketika investor global meningkatkan kewaspadaan terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Untuk diketahui, nilai tukar rupiah di pasar spot terus tertekan pada perdagangan Senin (8/6/2026).

Hingga pukul 13.48 WIB, mata uang Rupiah terdepresiasi 165 poin atau 0,91 persen ke level Rp 18.201 per dollar AS.

Kurs rupiah memang melemah sejak pembukaan perdagangan hari ini, sebelumnya makin terperosok lebih dalam, kurs rupiah sempat bertengger di posisi Rp 18.170 per dollar AS atau terkoreksi 134 poin, setara 0,75 persen.

Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 242,16 poin atau 4,33 persen ke area 5.352,61, mendekati posisi terendah di 5.346,34.

Penurunan ini terjadi tak berselang lama pembukaan pasar sesi kedua, Senin siang ini.

Baca juga: Simpanan Rupiah Menyusut, Likuiditas Perbankan Mulai Tertekan

Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai tekanan yang terjadi saat ini tidak semata-mata dipicu arus keluar dana asing, melainkan juga meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia atau country risk.

Tekanan yang terjadi pada pasar keuangan menunjukkan investor mulai memberikan premi risiko yang lebih tinggi terhadap Indonesia.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved