Berita Ekbis Terkini
Kenapa Rupiah Tembus Rp 18.200 per Dollar AS? Ini Penyebab dan Dampaknya
Rupiah tembus Rp 18.200 per dollar AS dan IHSG anjlok lebih dari 4 persen, memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Kondisi itu dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pelebaran defisit fiskal, terutama karena pemerintah belum melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah berbagai tekanan anggaran.
Persepsi risiko tersebut tercermin dari pergerakan pasar obligasi.
Selisih atau spread imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dengan obligasi pemerintah Amerika Serikat kini melebar hingga sekitar 2,5 persen.
Hal itu membuat aset keuangan Indonesia harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi untuk menarik minat investor, sekaligus menunjukkan pasar meminta kompensasi lebih besar atas risiko yang mereka lihat di Indonesia.
“Secara country risk kita sedang dihukum karena potensi fiskal yang melebar defisitnya, seiring tidak adanya penyesuaian harga BBM. Kami melihat selisih yield obligasi 10 tahun Indonesia dan AS makin melebar berada pada level 2,5 persen dan hal tersebut menjadi 'karpet merah' untuk investor asing melakukan aksi inflow,” ujar Faris ketika dihubungi Kompas.com, Senin ini.
Baca juga: Proyeksi Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS Senin 8 Juni 2026, Ada Faktor Global dan Domestik
Sinyal meningkatnya risiko investasi di Indonesia diyakini mulai terlihat ketika IHSG masih berada di level tertinggi sepanjang sejarah (all time high/ATH) di November 2025.
Saat itu, kenaikan pasar saham belum sepenuhnya didukung kondisi pasar obligasi yang mencerminkan tingkat risiko investasi.
Secara historis selisih imbal hasil (spread yield) antara obligasi pemerintah Indonesia dan AS berada di kisaran 2 persen.
Spread itu menjadi indikator yang digunakan investor global untuk mengukur apakah tingkat keuntungan yang ditawarkan di aset Indonesia masih sebanding dengan risiko yang harus ditanggung.
Ketika spread yield semakin menyempit, keuntungan tambahan yang diperoleh investor dari memegang aset Indonesia dibandingkan aset AS menjadi semakin kecil.
Dalam kondisi seperti itu, investor biasanya melakukan penyesuaian portofolio untuk menjaga keseimbangan antara risiko dan imbal hasil (risk parity).
Penyesuaian ini sering kali diwujudkan melalui aksi jual pada aset-aset yang dianggap memiliki risiko lebih tinggi, termasuk saham dan obligasi di pasar negara berkembang.
“Mengenai signal resiko, hal tersebut mulai tergambar pada saat IHSG all time high. Karena berdasarkan data historis spread yield obligasi Indonesia dan AS yang hanya sekitar 2 persen, sehingga jika spread makin menyempit, akan terjadi aksi jual untuk menyesuaikan risk parity sebagai penyesuaian eksposure,” paparnya.
Baca juga: Purbaya Sebut Pelemahan Rupiah Dipicu Sentimen Negatif, Bukan Krisis Ekonomi
Apakah pasar mulai meragukan kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal dan stabilitas ekonomi makro?
Faris mencatat jika melihat data resmi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), belum ada alasan kuat untuk meragukan disiplin fiskal pemerintah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260607_rupiah_dollar-AS_prediksi-nilai-tukar-rupiah-Senin-8-Juni-2026.jpg)