Senin, 8 Juni 2026

Berita Ekbis Terkini

Kenapa Rupiah Tembus Rp 18.200 per Dollar AS? Ini Penyebab dan Dampaknya

Rupiah tembus Rp 18.200 per dollar AS dan IHSG anjlok lebih dari 4 persen, memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Tayang:
Editor: Heriani AM
KONTAN/Cheppy A Muchlis
NILAI TUKAR RUPIAH - Ilustrasi uang rupiah dan dollar AS. Rupiah tembus Rp 18.200 per dollar AS dan IHSG anjlok lebih dari 4 persen, memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia. 

Selama lima bulan pertama tahun ini, defisit anggaran sekitar 0,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Jika angka tersebut disetahunkan, defisit diperkirakan berada di kisaran 1,68 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang masih jauh di bawah batas yang selama ini dianggap aman.

Karena itu, dari sisi angka fiskal semata, kondisi APBN dinilai masih cukup terjaga dan belum menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan.

Namun, pasar tidak hanya menilai kondisi ekonomi berdasarkan data fiskal, melainkan juga memperhatikan koordinasi dan komunikasi kebijakan antara otoritas ekonomi.

Salah satu faktor yang memunculkan kekhawatiran investor saat ini adalah belum sinkronnya komunikasi antara Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan.

Ketidakselarasan pesan yang disampaikan kedua institusi tersebut menciptakan unnecessary risk atau risiko yang sebenarnya tidak perlu muncul apabila komunikasi kebijakan lebih terkoordinasi.

Baca juga: Biasanya Murah Senyum, Purbaya Kini Serius di DPR Saat Rupiah Tembus Rp18.000

Dalam kondisi pasar yang sensitif, perbedaan persepsi atau pesan yang kurang selaras antara otoritas fiskal dan moneter dapat menimbulkan ketidakpastian di kalangan investor.

Akibatnya, pasar menjadi lebih berhati-hati dan cenderung memberikan premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset Indonesia, meskipun indikator fundamental fiskal masih relatif sehat.

“By data press release APBN, dalam 5 bulan pertama kita defisitnya 0,7 persen yang jika disetahunkan sekitar 1,68 persen. Secara angka, APBN masih aman sekali. Namun, kami melihat ketidaksinkronan komunikasi BI dan Kemenkeu menjadi unnecessary risk,” kata Faris.

Menurutnya, pemerintah masih berupaya menerapkan pendekatan yang mirip dengan strategi yang pernah digunakan pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika menghadapi Taper Tantrum pada 2013.

Kala itu, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor dan meredam tekanan terhadap pasar keuangan.

“Meskipun saat ini pemerintah berupaya untuk mencoba playbook yang dilakukan SBY pada saat tapering tantrum 2013,” tukasnya.

Lebih jauh, ia yakin apabila rupiah terus melemah, dampaknya mulai terasa pada harga berbagai kebutuhan pokok yang bergantung pada bahan baku impor.

Salah satu contoh yang paling dekat dengan masyarakat adalah tempe dan tahu, mengingat sebagian besar kebutuhan kedelai nasional masih berasal dari impor.

Baca juga: Modus 5 Oknum Polisi di Samarinda Kuras Isi ATM Tersangka, Bobol Ratusan Juta Rupiah

Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar AS, biaya impor akan meningkat sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved