Iran Vs Amerika Memanas
Tegur Netanyahu usai Israel Balas Iran, Trump: Saya Pengambil Keputusan Mutlak
Donald Trump menegaskan keputusan akhir terkait konflik Iran berada di tangan AS dan bukan Israel.
Trump meminta Netanyahu untuk menghentikan serangannya di Lebanon guna membuka peluang diplomasi untuk mengakhiri perang.
Ia juga meminta Israel untuk tidak menanggapi serangan Iran.
“Serangan Iran tidak melukai siapa pun. Mudah-mudahan, Israel tidak akan membalas. Jika Bibi membalas, itu hanya akan terus berlanjut seperti 47 tahun terakhir, atau 3.000 tahun terakhir," kata Trump, seperti diberitakan The Times of Israel, Minggu (7/6/2026).
“Kita sudah sangat dekat dengan kesepakatan akhir dengan Iran. Ini akan menjadi kesepakatan yang baik. Saya tidak ingin kesepakatan ini gagal karena apa yang terjadi sekarang," tambahnya.
Baca juga: 100 Hari Perang AS–Iran: Dampak Ekonomi Global, Pasar Saham, dan Harga Minyak
Trump mengatakan ia menelepon Netanyahu dan memintanya untuk tidak membalas serangan Iran.
“Saya akan menelepon Netanyahu sekarang juga dan mengatakan kepadanya untuk tidak membalas,” kata Trump, seraya menambahkan, “Masing-masing dari mereka sudah bersenang-senang. Israel sudah melakukan serangannya dan Iran juga sudah melakukan serangannya. Kita tidak butuh serangan lain.”
“Saya tidak ingin melihat serangan tambahan malam ini,” tambah Trump.
Agresi bersama yang diluncurkan AS dan Israel pada 28 Februari lalu berhenti setelah gencatan senjata yang disepakati AS dan Iran pada 8 April.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas strategis di Iran.
Serangan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan program nuklir Iran di Jenewa berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan.
Amerika Serikat dan Israel menuding Iran tengah mengembangkan senjata nuklir.
Namun, Teheran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata digunakan untuk kepentingan energi serta penelitian sipil.
Baca juga: Survei 100 Hari Perang Iran: Mayoritas Warga AS Nilai Konflik Lebih Merugikan daripada Menguntungkan
Situasi semakin memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia pada masa awal konflik.
Sejumlah laporan menyebut posisi tersebut kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Sebagai respons atas serangan yang diterimanya, Iran melancarkan serangan balasan ke berbagai target di Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260413_Presiden-AS_Donald-Trump_PM-Israel_Benjamin-Netanyahu_desak-serang-Iran.jpg)