Opini
Kisah Inspiratif: Mulianya Tugas Seorang Perawat
Tulisan kali ini merupakan bagian dari keinginan saya memberikan apresiasi atas tugas seorang perawat yang saya pandang sebagai profesi yang mulia.
Oleh: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps
TANPA terasa lebih dari setengah bulan saya tidur di kamar Paviliun Parahiyangan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, menemani istri yang sedang berbaring di rumah sakit.
Entah sampai kapan istri tergolek lemah di rumah sakit. Mohon doa pembaca, moga istri saya tercinta lekas diangkat penyakitnya dan pulih kembali seperti sediakala, aamin.
Selama menginap di rumah sakit, saya mencatat banyak hikmah atau pelajaran yang saya ambil dari proses mendampingi istri di rumah sakit.
Tulisan kali ini merupakan bagian dari keinginan saya memberikan apresiasi atas tugas seorang perawat yang saya pandang sebagai profesi yang mulia.
Bahkan, Bill Gates, pendiri Microsoft dan salah satu tokoh teknologi terkemuka, memprediksi profesi perawat termasuk profesi yang sulit digantikan oleh artificial intelligent atau AI (kecerdasan buatan).
Karena profesi perawat mengedepankan empati dan interaksi personal, sehingga relatif aman dari dominasi AI, karena pasien membutuhkan sentuhan manusia untuk pemulihan emosional dan mental.
Saya ingin memotret atau menggambarkan, bahwa tugas seorang perawat sungguh sangat berat.
Betapa tidak? Perawat adalah seorang profesional. Sama halnya dengan profesi dokter, arsitek, pengacara, pilot, guru, desainer dan ratusan profesi yang lain.
Sebagai seorang profesional di bidang kesehatan, tugas perawat adalah memberikan perawatan langsung kepada pasien, baik individu maupun kelompok, dalam berbagai pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, klinik, puskesmas, atau bahkan di rumah pasien.
Baca juga: 5 Daerah dengan Sebaran Tenaga Kesehatan Perawat Terbanyak di Kalimantan Timur, Samarinda Unggul!
Dalam memberikan pelayanan, seorang perawat tidak mengenal waktu, karena orang yang sakit (pasien) juga tidak mengenal waktu / sepanjang hari.
Pagi, siang, sore, malam atau tengah malam, bahkan dini hari, perawat harus memberikan perawatan fisik dan emosional kepada pasien, seperti memantau kondisi pasien, memberikan obat-obatan, melakukan prosedur medis, dan memberikan edukasi kesehatan.
Walaupun kondisi perawat sudah nampak letih menahan kantuk, tetap harus bersikap sigap dan ramah dalam menjalankan tugas rutinnya.
Seorang perawat mengisahkan pengalamannya, ”kalau dimarahi pasien itu sudah biasa Pak”.
Saya lantas bertanya, ”bagaimana menyikapi hal seperti itu”?
Ia jawab, ”Ya mau apalagi? Itu resiko pilihan profesi, yang penting tidak dimasukkan ke dalam hati”.
Jawaban tersebut, adalah jawaban seorang profesional sejati. Padahal perawat tersebut masih nampak muda, namun dia memiliki semangat pelayanan prima dan jiwa integritas yang tinggi.
Seandainya para profesional, para politisi, para birokrat, para pemimpin memahami jati dirinya masing-masing, apalagi bagi jabatan tertentu yang dipilih langsung oleh rakyat, saya yakin, mereka tidak akan berani berbuat menyimpang. Mereka akan merangkul, bukan memukul.
Bukankah sebuah amanah jabatan kelak harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa?.
Di kesempatan yang lain, seorang perawat bercerita kepada saya, ”kadang saya juga dimarahi dokter”.
Melihat situasi seperti ini, saya menyebut posisi perawat adalah posisi sebagai jembatan komunikasi antara dokter dengan pasien.
Posisinya serba salah. Maju kena, mundur kena. Di internal dapat tekanan dan di eksternal juga mendapatkan tekanan.
Perawatlah sesungguhnya yang mengimplementasikan atau mengeksekusi keputusan yang diambil oleh seorang dokter.
Perawat tersebut sambil bekerja bercerita, kalau bapaknya belum lama meninggal, pada pada usia 68 tahun. Guratan kesedihan di wajahnya muncul.
Setiap merawat pasien dia teringat dengan bapaknya yang ia sangat cintai. ”Bapak saya meninggal secara mendadak”, akunya. saya tidak melanjutkan pertanyaan. Saya hanya menduga, mungkin dia merasa menyesal, sehari-hari bertugas merawat orang lain.
Baca juga: Perawat RSUD Beriman Balikpapan Ini Bagi Tips Diet, tak Tinggalkan Sarapan Hingga Olahraga Ringan
Waktunya habis untuk mendedikasikan dan mengabdikan diri sebagai perawat profesional, sementara mungkin ia merasa lalai tidak pernah menanyakan kondisi kesehatan bapak kandungnya sendiri, yang ia cintai sepenuh hati sebagi pelindung serta pendukung untuk menggapai cita-citanya sebagai perawat profesional.
Pada saat tertentu yang sudah terjadwalkan, perawat mesti mengobservasi/memantau kondisi pasien dan melaporkan perubahan kondisi kepada dokter atau tim kesehatan lainnya.
Selain yang sudah terjadwal, kunjungan juga bisa dilakukan sewaktu-waktu kalau ada keluhan dari pasien. Perawat bisa juga bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya untuk mengembangkan rencana perawatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
Tidak hanya itu saja, perawat juga mendapatkan tugas memberikan edukasi kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang tata cara mengelola kondisi kesehatan, mencegah penyakit, dan meningkatkan kesehatan.
Kondisi yang saya gambarkan ini di rumah sakit besar, yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin, Bandung yang memiliki tidak kurang dari 400 dokter spesialis dan sub-spesialis serta telah terakreditasi nasional maupun internasional.
Bisa dibayangkan, bagaimana kondisi Rumah Sakit yang ada di Kabupaten Mahakam Ulu, yang hanya memiliki satu dokter spesialis penyakit dalam dengan sistem kontrak dan kalau tidak diperpanjang, segera berakhir.
Sedangkan dokter sub-spesialisnya dipastikan tidak ada. Lalu bagaimana dengan dengan kondisi Puskesmas, Puskesmas Pembantu. Jangankan bicara dokter, bicara perawat, bidan dan sebagainya pasti sangat terbatas.
Moga para perawat, khususnya yang bertugas di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur maupun yang bekerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten/Kota se Kalimantan Timur tetap menjunjung tinggi semangat pengabdian, di manapun Saudara ditempatkan.
Apakah ditempatkan di Rumah Sakit (RS) atau di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), maupun di Puskemas Pembantu (Pusban).
Para Aparatur Sipil Negara (ASN), baik yang tergabung sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang sedang mengikuti proses Latihan Dasar (Latihan Dasar) maupun yang tergabung dalam Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) terus menjaga semangat dalam melaksanakan tugas walaupun dalam medan yang sangat berat.
Sebagai perawat keberadaan Anda memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam sistem kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup para pasien yang Anda tangani. (*)
Penulis adalah Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim. Mantan Camat Babulu dan Penajam, mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan mantan Pjs. Bupati Kutai Timur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/jauhar-2727282.jpg)