OPINI
Menertawakan Diri Sendiri - Bagian 1
Manusia itu memiliki keterbatasan untuk berfikir dan bertindak. Daya ingat dan memori kita juga sangat terbatas.
Oleh: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si, CH.Ps
TRIBUNKALTIM.CO - Peristiwa lucu yang saya ceritakan ini sudah berlangsung cukup lama, sekitar tahun 2003-2004, ketika anak-anak saya masih berjumlah 3 orang.
Mereka semuanya masih bersekolah di SD Muhammadiyah Teluk Lerong Samarinda.
Si sulung, Zul Fahmi Effendi kelas 5, Mohammad Amrillah Effendi biasa dipanggil Abiem kelas 2, dan Akmal Makarim Effendi masih duduk di kelas 1 SD Muhammadiyah.
Seperti biasa, sambil menuju ke Kantor Gubernur Kaltim ( Kalimantan Timur ), saya berangkat lebih awal, karena harus mengantar anak-anak berangkat ke sekolah dulu.
Kebetulan satu jalur, hanya perlu belok ke kiri sekitar 400 meter.
Anak-anak suka bersenda-gurau dengan dunianya masing-masing.
Entah tema apa yang sedang mereka bicarakan. Saya tidak tahu. Lebih tepatnya tidak mau tahu.
Baca juga: 10 ASN Peraih Tertinggi Jumlah Jam Pelajaran Pengembangan Kompetensi dari BPSDM Kaltim
Sementara, saya sambil menyetir mobil juga merancang kegiatan.
Tentu kegiatan yang saya rancang hanya ada dalam fikiran. Tidak kasat mata.
Di tengah proses merancang kegiatan, tiba-tiba Abiem, anak kedua saya bertanya dengan agak keras.
”Ayah mau ke mana?”. Saya jawab, ”Mau antar kalian ke Sekolah”. ”Sekolahnya sudah kelewatan yah!”, seru anak pertama saya, Fahmi, dengan nada sedikit protes.
”Cepat putar yah”. Saya jawab ”gak bisa”, karena belum ada tempat putaran mobil yang diizinkan.
Alhasil saya harus terus mengemudikan mobil sekitar 2 kilometer dari tempat pertama kali menyadari kesalahan.
Fokus menuju Kantor Gubernur Kaltim, Jalan Gajahmada, Samarinda.
Mobil saya belokkan ke kiri masuk pintu gerbang halaman, dan kemudian keluar kembali dari Kantor Gubernur Kaltim kembali menuju ke tempat sekolahnya anak-anak.
Usai mengantar anak-anak ke sekolah, selanjutnya barulah saya kembali menuju Kantor Gubernur untuk bekerja seperti biasa hingga sore hari.
Kejadian kelupaan menurunkan anak-anak dari mobil menuju ke sekolahan bukan hanya terjadi satu kali.
Baca juga: KPMKB Demo Kantor Gubernur Kaltim, Minta Pemalsuan Tanda Tangan Bupati Berau Diusut
Seingat saya peristiwa tersebut setidaknya terjadi dua kali.
Pelajaran apa yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut? Manusia itu memiliki keterbatasan untuk berfikir dan bertindak. Daya ingat dan memori kita juga sangat terbatas.
Apalagi di era kemajuan teknologi yang serba digital. Perilaku manusia sudah banyak mengalami perubahan.
Ketergantungan terhadap perangkat hand phone (HP), gadget, smart phone, tablet, laptop sudah sangat tinggi.
Karena itu, kita mesti fokus terhadap apa yang kita rancang dan apa yang akan kita kerjakan.
Saya jadi teringat lebih sepuluh tahun yang lalu membaca sebuah berita.
Tim Bedah Medis berhasil mengoperasi seseorang di Rumah Sakit dr. Soetomo, Surabaya.
Peristiwa itu terjadi Tahun 2012. Tetapi sayangnya sebuah gunting operasi ketinggalan dalam perut pasien setelah operasi.
Ada lagi karet gelang, bahkan jepitan pernah ketinggalan di dalam perut pasien setelah operasi. Dalam istilah kedokteran disebut ”Retained Surgical Item” (RSI).
RSI adalah benda atau alat yang ketinggalan di dalam tubuh pasien setelah operasi.
RSI bisa menyebabkan komplikasi serius, seperti infeksi, pendarahan atau kerusakan organ.
Dokter atau Tim Medis harus sangat waspada untuk mencegah hal ini terjadi, dengan melakukan penghitungan alat sebelum dan setelah operasi serta menggunakan teknologi untuk mendeteksi benda asing.
Biasanya RSI bisa terjadi karena kesalahan komunikasi atau kurangnya pengecekan saat operasi.
Tetapi jangan lupa, RSI bisa juga terjadi karena faktor kelupaan. Saat ini rumah sakit lebih waspada dan punya prosedur ketat untuk mencegah jangan sampai hal ini bisa terjadi.
Walaupun fakta menunjukkan bahwa pernah terjadi kasus amputasi kaki salah sisi.
Ini bisa terjadi karena kesalahan identifikasi pasien, kesalahan tanda operasi, dan kurangnya komunikasi tim operasi.
Kasus ini bisa berujung pada tuntutan hukum dan perubahan prosedur operasi untuk mencegah kesalahan serupa di masa depan.
Salah satu kasus terkenal adalah kasus amputasi kaki salah sisi di Rumah Sakit St. Mary’s, Florida, USA pada tahun 1995.
Baca juga: Update Kasus Kematian Dosen Untag Semarang Dwinanda Linchia Levi: AKBP Basuki Kena Pasal Kelalaian
Kasus lain terjadi di Rumah Sakit Royal Devon dan Exeter, Inggris pada tahun 2009. Seorang pasien berusia 82 tahun salah potong kaki.
Harusnya yang dipotong atau diamputasi kaki kiri, kenyataannya yang dipotong kaki kanan. Tahun 2013, kasus serupa terjadi di Rumah Sakit S. S. N. Prasad, India.
Seorang pasien salah dipotong kaki kanan, padahal yang seharusnya dipotong kaki kiri.
Ada istilah ”Time Out” sebelum operasi. Ini merupakan prosedur penting di mana tim medis berhenti sejenak untuk memastikan beberapa hal penting.
Mereka akan memastikan:
(1) Identitas pasien, yaitu memastikan siapa pasien yang akan dioperasi;
(2) Lokasi operasi, yaitu memastikan bagian tubuh mana yang akan dioperasi;
(3) Prosedur operasi, yaitu memastikan apa yang akan dilakukan; dan
(4) Alemi dan obat-obatan, yaitu memastikan tidak ada alergi atau obat-obatan yang bisa memengaruhi operasi.
Selain faktor-faktor penyebab terjadinya hal tersebut sudah dijelaskan, sekali lagi faktor kelupaan juga menjadi penyebab, sehingga bisa salah dalam mengambil dan mengeksekusi sebuah keputusan.
Moga kita semua dihindarkan dari faktor kelupaan dalam mengambil dan mengimplementasikan sebuah keputusan, yang bisa berakibat fatal bagi siapa saja yang terdampak dari sebuah keputusan yang salah. (*)
*) Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim/Mantan Camat Babulu dan Penajam/Mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan Mantan Pjs. Bupati Kutai Timur.
| Menjaga Rupiah di Tengah Badai Global: Bukan Sekedar Urusan Suku Bunga |
|
|---|
| Jas Krem di Tengah Lautan Jas Gelap |
|
|---|
| QRIS: Dari Nusantara Hingga China, Fondasi Institusional Dari Tren Menuju Transformasi Struktural |
|
|---|
| Presensi Bodong: Perlunya Menjaga Kewarasan Moral |
|
|---|
| Hari Palang Merah Dunia: Terjadi Degradasi Nilai Kemanusiaan? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/jauhar-effendi-9834755.jpg)