Rabu, 20 Mei 2026

OPINI

Menertawakan Diri Sendiri – Bagian 2

Kisah yang saya ceritakan ini sudah berlangsung cukup lama, namun jika mengingat-ingat kejadian tersebut membuat saya tertawa sendiri.

Tayang:
Editor: Sumarsono
Grafis Tribun Kaltim/Canva/HO
Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps, Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim/Mantan Camat Babulu dan Penajam/ mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim/mantan Pjs. Bupati Kutai Timur. 

Oleh: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps

TRIBUNKALTIM.CO - Kisah yang saya ceritakan ini sudah berlangsung cukup lama, namun jika mengingat-ingat kejadian tersebut membuat saya tertawa sendiri.

Tepatnya menertawakan diri sendiri. Berikut pada bagian kedua ini kisahnya saya ceritakan kembali dalam dua episode.

Episode Pertama : Memanggil Tukang Kunci, Padahal Kunci Ada di Dalam Saku Celana

Peristiwa ini terjadi ketika menjemput anak bungsu saya yang mau pulang sekolah dari Taman Kanak-kanak Negeri yang berlokasi di Kompleks Perumahan Vorvoo, Samarinda.

Sementara itu, saat ini anak saya sudah kuliah dan telah berusia 20 tahun.

Berarti peristiwa tersebut setidaknya sudah terjadi 15 tahun yang lalu, ketika anak saya, Nabiel Alghifari Effendi masih berusia 5 tahun.

Kejadian tersebut pada hari Sabtu. Kenapa saya ingat peristiwa tersebut pada hari Sabtu? Karena saya hanya bisa menjemput anak ketika libur kantor.

Saat menjelang waktu kepulangan, ibu-ibu, juga ada bapak-bapak (walaupun hanya minoritas) yang jemput, bukan hanya menunggu di pintu gerbang keluar sekolah, tetapi mereka berkumpul dan jemput bola sampai ke kelas anak-anak mereka belajar di kelas.

Baca juga: Menertawakan Diri Sendiri - Bagian 1

Bahkan, ada yang antar dan langsung jemput tanpa pulang dulu ke rumah. Ibu-ibu banyak yang menyaksikan proses belajar anak di kelas. Tentu lebih banyak permainan daripada belajar. Namanya juga anak Taman Kanak-kanak.

Saat saya dan anak sudah keluar kelas menuju tempat parkir motor, saya ambil kunci motor di saku celana. Saya rogoh saku di sisi kanan, tidak ketemu.

Saya coba rogoh di  saku celana sebelah kiri, juga gak ketemu. Saya rogoh lagi di saku celana untuk memastikan sekali lagi, tetap gak ketemu.

Saya coba melakukan pengecekan rute setelah motor saya parkir, saya pergi ke titik mana saja.

Saya ingat-ingat rute tersebut dan saya telusuri, barangkali jatuh, hasilnya tetap nihil. Saya kembali lagi ke tempat parkiran motor, barang kali jatuh di sekitar motor, tetap tidak ketemu.

Melihat saya bolak balik ke tempat parkiran motor, seorang Ibu dari salah satu murid TK, bertanya.

”Ada apa Pak?” Saya jawab, ”Saya kehilangan kunci motor”. Saya diminta mengingat-ingat kembali di mana naruh kuncinya? Spontan saya jawab, ”biasanya saya masukkan kantong kanan celana saya”.

”Mungkin jatuh waktu Bapak jongkok”, kata Ibu tersebut. Saran Ibu tersebut masuk akal.

Saya kembali menelusuri apa yang dikatakan oleh Ibu tersebut. Namanya juga usaha. Siapa tahu ketemu. Ternyata gak ketemu juga.

Akhirnya Ibu itu menawarkan motornya untuk saya pakai mencari tukang bikin kunci yang bisa dipanggil, sambil memberikan referensi di mana ada tukang kunci yang mangkal.

Saya merasa bersyukur, ada orang yang baik hati bersedia meminjamkan motornya, sambil menjaga anak saya Nabiel.

Bayangkan, betapa sulitnya saya kalau tidak dipinjami motor, karena pada saat itu belum ada tukang ojek online, seperti Gojek, Grab maupun Maxim.

Singkat cerita ketemulah tukang kunci dimaksud untuk saya bawa ke Sekolah TK. Dengan sigap tukang kunci tersebut bekerja dengan serius dan berhasil membuat duplikat kunci dan akhirnya motor bisa saya bawa pulang dengan membonceng anak saya.

Soal ongkos bikin kunci duplikat, saya sudah lupa berapa nilainya.

Keesokan harinya, ketika celana mau dicuci, semua kantong saya periksa. Termasuk kantong belakang celana.

Betapa terkejutnya, ketika  kunci yang saya cari-cari kemarin ternyata ada di saku belakang celana.

Dari peristiwa yang saya alami, ada pelajaran berharga yang bisa saya peroleh, yaitu ketika kita merubah kebiasaan (termasuk merubah kebiasaan yang tidak disengaja atau tanpa disadari), menyebabkan kekacauan sebuah sistem.

Jujur, saya tidak pernah menyimpan kunci motor di saku belakang celana. Karena itu, tidak terbersit sedikitpun untuk mengecek keberadaan kunci di saku belakang celana. Kesimpulannya, tanpa saya sadari saya menyimpan kunci di saku celana bagian belakang.

Celakanya, saya tidak memberikan opsi pemikiran alternatif, untuk memeriksa saku celana bagian belakang. Itulah sesungguhnya keterbatasan manusia.

Sombong dan menafikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja itu terjadi, tanpa kita sadari, menyebabkan rumitnya sebuah masalah, dan sulitnya memecahkan masalah.

Baca juga: Ikut Menertawakan Ucapan Budi Dalton Pelesetkan Miras Minuman Rasulullah, Sule Terancam Dipolisikan

Episode Kedua: Berangkat Naik Sepeda Motor, Pulang Naik Sepeda Kayuh

Peristiwa yang saya alami ini jauh lebih lama lagi.

Saat saya masih SLA, tentu saja masih bujangan. Saya dibelikan motor second (seken/bekas) merek Suzuki GT oleh almarhum ayah saya, Moestamin Hambali.

Motor Suzuki GT ini cukup populer di era 80-an. Salah satu model yang paling ikonik, yaitu Suzuki GT 125. Motor yang saya miliki GT 125, warna hitam. Warna kesukaan saya.

Motor inilah yang saya pakai sehari-hari berangkat ke sekolah. Jarak rumah orang tua ke sekolah sekitar 6 kilometer. Pada masa itu jarak tersebut sepertinya cukup jauh.

Kenapa? Karena moda transportasi masih sangat jarang. Bahkan, jarak tersebut masih bisa ditempuh dengan naik kereta api dari Stasiun Kecamatan sampai ke Stasiun Kecamatan yang lain.

Jangan membayangkan laju kereta apinya cepat. Pada masa itu, lokomotif kereta api disebut kereta api uap. Batu bara merupakan bahan bakar utama.

Bahkan, di masa kecil sampai remaja, beberapa kereta api uap, terutama di  kawasan pabrik gula sebagai bahan bakarnya masih menggunakan ampas tebu (bagasse) sebagai bahan bakar alternatif.

 Ampas tebu dapat menjadi sumber energi yang relatif murah dan tersedia secara lokal, terutama di Pulau Jawa.

Kereta api tersebut bisa menarik puluhan lori (gerbong) kereta, berupa bak terbuka yang kanan kirinya ada tiang besinya, berisi tebu yang akan dimasukkan ke pabrik gula untuk diproses menjadi gula.

Desain gerbong tersebut lebih pendek jika dibandingkan dengan gerbong penumpang. Nah, sisa perasan tebu (limbah tebu) menjadi gula inilah yang disebut dengan ampas (bagasse). Sebuah siklus yang apik sekali.

Pada masa itu kawan-kawan saya yang mau ke sekolah alternatifnya kalau tidak naik angkot (dulu sering masyarakat menyebut colt).

Padahal colt itu merujuk merek kendaraan roda 4 buatan Jepang.

Ada juga yang naik sepeda kayuh, sepeda motor dan tentu ada juga yang jalan kaki, bagi yang tinggal dekat sekolahan. Tetapi pada masa itu mayoritas siswa sekolah naik sepeda kayuh.

Suatu hari, usai keluar kelas, saya dan kawan-kawan diajak berombongan pulang dengan naik sepeda kayuh bersama-sama.

Saya dibonceng kawan saya. Tentu saja rumah kawan saya melewati rumah orang tua, sehingga ketika sampai di depan rumah orang tua (karena berada di tepi jalan raya), saya bisa loncat turun, tanpa sepeda kayuh harus berhenti.

Jangan dibayangkan sadel boncengan ada busanya seperti sepeda model sekarang. Sadel boncengan di belakang benar-benar dari pipa besi yang bisa berkarat. Jadi pasti keras.

Sesampainya di rumah, seperti biasa saya melakukan aktifivitas sehari-hari layaknya seorang remaja pada masa itu.

Nah di malam hari, ketika ayah saya melihat di tempat naruh sepeda motor maupun sepeda, tidak melihat sepeda motor saya. Lalu ayah menanyakan, ”mana sepeda motormu?”.

Barulah saya menyadari, bahwa motor saya tertinggal di sekolahan. Terpaksa keesokan harinya, saya harus naik colt.

Pulangnya baru naik sepeda motor Suzuki GT 125 kesayangan saya.

Baca juga: BPSDM Kemendagri Gelar Rakornas SDM Aparatur Pemerintahan Dalam Negeri 2025 di Balikpapan

Dari kisah tersebut, di saat usia senja seperti sekarang ini, saya menyadari ternyata dari masa muda pun saya termasuk orang yang mudah lupa (pelupa).

Moga saja tidak lupa menyiapkan ”bekal untuk hidup sesudah mati”. Karena kata Imam Al-Ghazali (1058-1111), ”yang paling dekat dengan kita adalah kematian”.

Sudahkah para pembaca menyiapkan bekal untuk hidup sesuah mati? Hidup di dunia ini hanya sementara.

Sedangkan akhirat selamanya. Tak ada satupun perbuatan manusia yang bisa melepaskan diri dari pertanggungjawaban kelak di Yaumil Mahsyar.    (*)

 

*) Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim/Mantan Camat Babulu dan Penajam/ mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim/mantan Pjs. Bupati Kutai Timur.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved