Kamis, 28 Mei 2026

OPINI

Refleksi Ramadhan: Melahirkan Pemimpin yang Peduli

Jika Ramadhan benar-benar dihayati, ia tidak hanya melahirkan pribadi yang saleh, tetapi juga pemimpin yang peduli.

Tayang:
Editor: Sumarsono
TRIBUN KALTIM/IST
Bambang Soepriyadi, Plt. Ketua DPD Partai Demokrat Kalimantan Timur 

Oleh:  Bambang Soepriyadi, Plt. Ketua DPD Partai Demokrat Kalimantan Timur

TRIBUNKALTIM.CO - Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah ritual. Ia adalah madrasah ruhani yang membentuk karakter. 

Puasa melatih kejujuran, pengendalian diri, empati sosial, dan rasa tanggung jawab. 

Jika Ramadhan benar-benar dihayati, ia tidak hanya melahirkan pribadi yang saleh, tetapi juga pemimpin yang peduli.

Di tengah dinamika sosial-politik yang kita saksikan hari ini—mulai dari perdebatan tentang kebijakan anggaran hingga fenomena relasi kekuasaan dalam lingkaran keluarga—Ramadhan mengajak kita melakukan refleksi: seperti apa kepemimpinan yang dikehendaki oleh nilai-nilai Islam?

Kepemimpinan adalah Amanah

Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah, bukan fasilitas. Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan prinsip pertanggungjawaban (accountability). 

Kekuasaan bukan sekadar legitimasi formal, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual yang kelak akan dihisab.

Baca juga: Menangis Apakah Bisa Membatalkan Puasa Ramadhan? Ini Penjelasannya

Allah Ta’ala juga berfirman: 

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)

Dua prinsip besar kepemimpinan ditegaskan di sini: amanah dan keadilan. Jabatan harus diberikan kepada yang layak (merit), dan kebijakan harus ditegakkan secara adil.

Ramadhan melatih kita menahan diri dari yang halal sekalipun. Maka dalam urusan kekuasaan, fasilitas, dan pengelolaan anggaran publik, pengendalian diri itu seharusnya lebih kuat lagi. 

Pemimpin yang ditempa oleh Ramadhan akan berhati-hati dalam setiap keputusan, karena sadar bahwa setiap kebijakan akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada rakyat, tetapi kepada Allah.

Empati Sosial sebagai Ruh Kepemimpinan

Puasa mengajarkan empati. Saat kita merasakan lapar, kita belajar memahami kondisi mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved