Minggu, 7 Juni 2026

Opini

Catatan Harian: Fenomena Mudik Lebaran hanya Ada di Indonesia

Mudik lebaran setiap tahun terus berulang. Makin lama jumlah orang yang melakukan mudik lebaran bukan berkurang, tetapi semakin bertambah.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO
TRADISI MUDIK LEBARAN - Foto arsip suasana puncak arus mudik lebaran di Balikpapan, Kalimantan Timur terjadi 18 Maret 2026 dengan tiga kapal melayani ribuan penumpang. Fenomena mudik lebaran setiap tahun terus berulang. Makin lama jumlah orang yang melakukan aktivitas mudik lebaran bukan semakin berkurang, tetapi semakin bertambah. (TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO) 

Oleh: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps

(Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim/mantan Camat Babulu dan Penajam/ mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekdaprov Kalimantan Timur/mantan Pjs Bupati Kutai Timur) 

Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps., Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim/ Mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan Mantan Pjs. Bupati Kutai Timur. 
Jauhar Efendi. (IST)

FENOMENA mudik lebaran setiap tahun terus berulang. Makin lama jumlah orang yang melakukan aktifitas mudik lebaran bukan semakin berkurang, tetapi semakin bertambah. 

Kenapa demikian? Karena di samping pertambahan jumlah penduduk, juga pengaruh semakin tersedianya moda transportasi darat, laut dan udara beserta infrastrukturnya. 

Uniknya, fenomena mudik lebaran ini seperti tidak mengenal krisis keuangan. 

Hanya pada masa Corona Virus Desease 2019, atau dikenal dengan istilah Covid-19, jumlah pemudik untuk merayakan lebaran di kampung halaman mengalami penurunan. 

Pada tahun-tahun sebelumnya fenomena mudik lebaran identik dengan kemacetan yang luar biasa di berbagai kota maupun berbagai ruas jalan serta pelabuhan. 

Berbagai langkah regulasi terus dilakukan oleh Pemerintah untuk mengurangi berbagai titik kemacetan. 

Tahun 2025 yang lalu Pemerintah mulai menerapkan model kerja WFA ( Work From Anywhere ). 

Baca juga: Arus Balik Lebaran 2026 di Nunukan, Ini 4 Jadwal Keberangkatan Speedboat Tujuan Tarakan

Hasilnya titik kemacetan bisa dikurangi, karena banyak orang melakukan mudik lebaran bisa memilih beberapa alternatif waktu keberangkatan, sehingga tidak bersamaan. 

Begitu juga saat arus balik, bisa dipilih beberapa alternatif waktu, karena ada tambahan waktu kerja model WFA

Artinya pada saat WFA pekerja juga bisa melakukan perjalanan mudik lebaran atau perjalanan balik dari kampung halaman. 

Apalagi pada tahun 2026 ini sektor swasta juga diminta melakukan WFA tanpa mengurangi hak cuti pekerja, sehingga manajemen pengaturan dan rekayasa lalu lintas juga semakin mudah dan semakin lancar.

Sudah banyak kemajuan yang dilakukan oleh Pemerintah untuk mengurai kemacetan, tetapi pada titik tertentu dan pada tanggal tertentu, terutama H-1 kemacetan itu harus terjadi dan sulit untuk dihindari.

Langkah-langkah menyediakan fasilitas bus gratis untuk mudik bareng, baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun Perusahaan Swasta atau Organisasi-Organisasi non-Pemerintah juga memberikan kontribusi positif terhadap pengurangan kemacetan dan tentu saja juga mengurangi pengeluaran biaya transportasi untuk para pemudik lebaran.

Beragam Alasan Mudik Lebaran

Menariknya ada beragam alasan, mengapa orang harus mudik lebaran. Beberapa alasan tersebut antara lain: 

(1) Supaya bisa berkumpul dengan keluarga besar dari berbagai daerah yang kebetulan juga banyak merantau; 

(2) Merayakan lebaran dengan tradisi dan budaya lokal; 

(3) Menghabiskan waktu dan bercengkerama dengan keluarga, karena jarang bertemu; 

(4) Mengurangi stres dan melepas penat setelah setahunan bekerja; 

(5) Menikmati makanan khas lebaran di kampung halaman; 

(6) Ziarah ke makam keluarga yang sudah lama meninggal; 

(7) Mengikuti tradisi dan acara keagamaan di kampung halaman; 

(8) Menghemat biaya hidup, karena biaya hidup di kampung lebih murah – walaupun alasan ini harus dikaji lebih lanjut; 

(9) Menghabiskan waktu liburan dengan keluarga; dan 

(10) Mengajarkan anak-anak tentang tradisi dan budaya keluarga. 

Tentu saja kalau dilakukan survey masih banyak lagi alasan mudik lebaran, tetapi alasan utamanya tetap satu, yaitu untuk berkumpul dengan keluarga dan teman-teman sebaya waktu kecil maupun waktu sekolah untuk silaturahmi merayakan lebaran.

Cara Memenuhi Biaya Mudik Lebaran

Ada berbagai cara untuk memenuhi biaya transportasi dan biaya selama mudik lebaran di kampung halaman. 

Dikutip  dari berbagai sumber, cara untuk memenuhi biaya tersebut antara lain: 

(1) Tunjangan Hari Raya atau THR dari kantor; 

(2) Tabungan khusus lebaran; 

(3) Bantuan dari keluarga atau sanak saudara; 

(4) Menggadaikan emas atau barang berharga lainnya; 

(5) Meminjam teman/sahabat karib; 

(6) Pinjam atau kredit dari perbankan; 

(7) Gaji atau tambahan pendapatan dari kerja sampingan; 

(8) Bonus kerja; 

(9) Hasil penjualan barang-barang tidak terpakai; 

(10) Mengambil dana dari tabungan; 

(11) Mendapatkan arisan.

Kapan mulainya tradisi mudik lebaran?

Konon budaya atau tradisi mudik lebaran di Indonesia sudah cukup lama, yaitu sejak zaman Hindia Belanda atau zaman penjajahan kolonial Belanda. 

Sekitar tahun 1930-an. Namun saat itu, tradisi mudik lebaran masih terbatas pada pegawai pemerintah dan orang-orang kaya yang pulang kampung (pulkam) untuk merayakan lebaran.

Tradisi mudik lebaran mulai poputer dan meluas pada tahun 1950-an, setelah Indonesia merdeka. 

Saat itu, Pemerintah Indonesia di masa Presiden Soekarno mulai membangun infrasturktur transportasi, seperti jalan raya dan kereta api, yang memudahkan orang untuk melakukan perjalanan jauh.

Di masa pemerintahan Presiden Soeharto, pada tahun 1970-an, tradisi mudik lebaran semakin berkembang dan menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat luas, terutama dengan adanya subsidi transportasi dari pemerintah serta sarana dan prasarana pembangunan yang semakin baik dan lengkap. 

Saat ini, dengan semakin terbukanya moda transportasi darat, laut dan udara, mudik lebaran telah menjadi tradisi tahunan yang sangat populer di Indonesia. 

Bahkan, mungkin satu-satunya negara di dunia yang memiliki tradisi mudik lebaran, dengan jutaan orang melakukan perjalanan pulkam untuk merayakan lebaran bersama keluarga. 

Tradisi mudik lebaran bukan hanya dilakukan oleh umat Islam, tetapi juga non-muslim, karena selain libur 2 hari lebaran Idul Fitri, Pemerintah juga menambah cuti bersama dan kebijakan Work From Anywhere (WFA) tentu bisa memicu minat atau semangat orang untuk pulkam. 

Bagi yang memiliki cukup biaya untuk pulkam dan tidak mengganggu keuangan rumah tangga, karena sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya tentu pulkam tidak menjadi masalah. 

Tetapi bagi seseorang yang memaksakan diri untuk pulkam, karena gengsi dan ingin dianggap sebagai orang yang sukses di perantauan tentu menyisakan persoalan yang sedikit serius. 

Bayangkan saja, kalau harus menggadaikan emas, sepeda motor atau barang berharga lainnya hanya sekedar ikut meramaikan tradisi lebaran kan harus mengangsur bunganya kalau barang tersebut tidak bisa ditebus ketika sudah kembali ke kota. 

Bisa jadi kalau uang pinjaman tidak mampu dikembalikan, maka jaminan barang yang diberikan akan dilelang oleh pihak pegadaian dengan harga yang murah.

Fenomena mudik lebaran ini memang unik. Ada pemudik pulkam memakai motor, dan dia harus bawa sangkar plus burungnya. 

Alasannya burung bisa mati kalau tidak diberi makanan dan minuman dalam kurun waktu sekian hari. 

Terpaksa burung tersebut harus ikut tradisi mudik lebaran. 

Mau dititipkan ke penitipan hewan, tidak mampu karena ongkosnya mahal. 

Boro-boro bayar penitipan hewan, rumah saja mereka masih banyak yang mengontrak alias sewa. 

Perilaku pemudik yang mengendarai motor (pemotor) banyak yang aneh-aneh dan bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. 

Banyak pemotor yang membawa barang berlebihan. Sementara itu pengemudi motor harus berhimpit-himpitan dengan istri dan beberapa anak. 

Viral di sosial media, pemudik mengendarai mobil, tetapi di bagian belakang mobil diikat sebuah sepeda motor, dengan posisi setir motor diangkat ke atas, sementara roda belakang tetap dibiarkan posisi menempel di jalan. 

Harapannya waktu di kampung halaman, motor tersebut juga bisa digunakan. 

Ada pemudik yang mengendarai motor (sepertinya sepasang suami istri) yang terkesan lucu dan membuat orang yang melihatnya bisa tertawa sendiri. 

Bayangkan pemudik tersebut pakai kostum dan penutup wajah ala ultramen dan power ranger, dengan kardus di belakang, dan tas besar di depan pengendara. 

Hal ini menyebabkan pengendara menjadi tidak leluasa dalam mengendarai dan mengendalikan motor. 

Bahkan, ada yang mudik pakai sepeda motor dengan membawa monyet di depan pengendara motor. 

Peristiwa ini tentu saja sangat membahayakan orang yang membonceng maupun yang dibonceng. 

Ada juga kenekadan pengemudi mobil jenis stasiun. Mobil dengan  kapasitas maksimal 8 orang (termasuk pengemudi), dimodifikasi. 

Pintu belakang yang biasanya untuk lewat dan menaruh bagasi dibiarkan tetap terbuka. 

Di bagasi itulah dikasih plat baja menjorok ke belakang, untuk tambahan tempat duduk penumpang. 
Alhasil mobil tersebut akhirnya dapat mengangkut sebanyak 12 orang, termasuk pengemudi. 

Tentu saja tindakan ini sangat  konyol dan membahayakan keselamatan penumpang. 

Beruntung ketahuan Petugas Kepolisian, dan akhirnya penumpang yang kelebihan diminta untuk turun.

Alhamdulillah dari pengamatan penulis, arus mudik maupun arus balik lebaran tahun 1447 Hijriyah atau bertepatan dengan Tahun 2026 Masehi sudah bisa ditangani dengan baik oleh Pemerintah dalam berbagai tingkatan. 

Arus lalu lintas bisa dikendalikan dengan tertib dan tidak banyak jumlah kecelakaan yang menyertainya. 

Pemanfaatan teknologi informasi memberikan kontribusi positif terhadap pengendalian arus mudik dan arus balik. 

Demikian juga fungsi rekayasa lalu lintas sangat berarti terhadap keberhasilan kelancaran arus lalu lintas. 

Hanya saja ada kejadian yang membuat orang tertawa, di mana mobil dalam jumlah banyak dan terus menerus masuk jalan sempit di tengah sawah, karena tersesat mengikuti petunjuk google map. 

Di titik-titik seperti ini diperlukan petugas yang sigap untuk mengarahkan alur jalan yang benar.

Moga ritual mudik lebaran tahun depan lebih lancar lagi dan persiapkan bekal yang cukup selama mudik ke kampung halaman. 

Jangan memaksakan diri untuk pulkam, jika kondisi keuangan tidak memungkinkan. 

Selamat Idul Fitri 1447 Hijriyah. Selamat meraih kemenangan. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved