Opini
Catatan Harian: Fenomena Mudik Lebaran hanya Ada di Indonesia
Mudik lebaran setiap tahun terus berulang. Makin lama jumlah orang yang melakukan mudik lebaran bukan berkurang, tetapi semakin bertambah.
Oleh: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps
(Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim/mantan Camat Babulu dan Penajam/ mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekdaprov Kalimantan Timur/mantan Pjs Bupati Kutai Timur)
FENOMENA mudik lebaran setiap tahun terus berulang. Makin lama jumlah orang yang melakukan aktifitas mudik lebaran bukan semakin berkurang, tetapi semakin bertambah.
Kenapa demikian? Karena di samping pertambahan jumlah penduduk, juga pengaruh semakin tersedianya moda transportasi darat, laut dan udara beserta infrastrukturnya.
Uniknya, fenomena mudik lebaran ini seperti tidak mengenal krisis keuangan.
Hanya pada masa Corona Virus Desease 2019, atau dikenal dengan istilah Covid-19, jumlah pemudik untuk merayakan lebaran di kampung halaman mengalami penurunan.
Pada tahun-tahun sebelumnya fenomena mudik lebaran identik dengan kemacetan yang luar biasa di berbagai kota maupun berbagai ruas jalan serta pelabuhan.
Berbagai langkah regulasi terus dilakukan oleh Pemerintah untuk mengurangi berbagai titik kemacetan.
Tahun 2025 yang lalu Pemerintah mulai menerapkan model kerja WFA ( Work From Anywhere ).
Baca juga: Arus Balik Lebaran 2026 di Nunukan, Ini 4 Jadwal Keberangkatan Speedboat Tujuan Tarakan
Hasilnya titik kemacetan bisa dikurangi, karena banyak orang melakukan mudik lebaran bisa memilih beberapa alternatif waktu keberangkatan, sehingga tidak bersamaan.
Begitu juga saat arus balik, bisa dipilih beberapa alternatif waktu, karena ada tambahan waktu kerja model WFA.
Artinya pada saat WFA pekerja juga bisa melakukan perjalanan mudik lebaran atau perjalanan balik dari kampung halaman.
Apalagi pada tahun 2026 ini sektor swasta juga diminta melakukan WFA tanpa mengurangi hak cuti pekerja, sehingga manajemen pengaturan dan rekayasa lalu lintas juga semakin mudah dan semakin lancar.
Sudah banyak kemajuan yang dilakukan oleh Pemerintah untuk mengurai kemacetan, tetapi pada titik tertentu dan pada tanggal tertentu, terutama H-1 kemacetan itu harus terjadi dan sulit untuk dihindari.
Langkah-langkah menyediakan fasilitas bus gratis untuk mudik bareng, baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun Perusahaan Swasta atau Organisasi-Organisasi non-Pemerintah juga memberikan kontribusi positif terhadap pengurangan kemacetan dan tentu saja juga mengurangi pengeluaran biaya transportasi untuk para pemudik lebaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260318_Kapal-PELNI-Balikpapan-Mudik-Lebaran.jpg)