Rabu, 22 April 2026

Opini

Kegagalan Konduktor: Kemenangan Mahasiswa dan Rakyat Kaltim

Peristiwa yang membuncah di jantung Samarinda, Kalimantan Timur pada hari Selasa, 21 April 2026, menyajikan teater komunikasi menarik disajikan.

Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/IST
PENULIS : Ali Kusno, Ahli Bahasa Kalimantan Timur 

Analisis kritis, mengenai belum terjadinya dialog antara perwakilan mahasiswa dan Gubernur sampai selesai aksi.

Tentu pihak kepolisian memiliki dasar pertimbangan yang kuat sebagai penanggung jawab keamanan. Saya meyakini tim Gubernur Kaltim sudah mempertimbangkan untuk membuka ruang dialog pada lain waktu.

Tentu pada waktu yang kondusif tanpa distraksi dan residu kepentingan. Segala tuntutan aksi yang disampaikan saat aksi seharusnya sudah menjadi catatan.

Baca juga: Gratispol Kaltim Dirasakan 1.300 Mahasiswa UINSI, UKT Dibebaskan hingga 2026

Masyarakat Kritis: Keniscayaan Peningkatan IPM

Di balik dinamika ini, ada fakta sosiologis yang harus disadari oleh seluruh jajaran pemerintah daerah, mulai dari Gubernur, Bupati, hingga Wali Kota di seluruh Kaltim.

Kehadiran masyarakat yang kritis bukanlah ancaman bagi stabilitas, melainkan sebuah keniscayaan dari peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kaltim.

Masyarakat yang berani mengkritik, mempertanyakan kebijakan, dan menuntut transparansi merupakan cermin dari keberhasilan pendidikan, kesehatan nalar, dan kemandirian ekonomi.

Daerah dengan IPM yang tinggi selalu ditandai dengan warga yang memiliki nalar kritis yang sehat.

Masyarakat yang cerdas tidak akan menerima informasi secara mentah; mereka akan mengolah, membedah, dan menyuarakan aspirasi demi perbaikan.

Oleh karena itu, pimpinan daerah harus membuka diri dan melapangkan dada. Saatnya bersikap terbuka terhadap setiap kritikan.

Kritikan merupakan mekanisme kendali agar pembangunan tetap berada di jalur yang telah ditentukan.

Tanpa daya kritis masyarakat, pembangunan hanya akan menjadi narasi satu arah yang rentan terhadap penyimpangan dan pembusukan.

Analogi Pabrik Senjata: Berhenti Mengais Keuntungan

Kita perlu merenungi sebuah analogi sederhana: dalam setiap peperangan, selalu ada pabrik senjata yang mengais keuntungan.

Mereka tidak peduli siapa yang menang, siapa yang terluka, atau siapa yang hancur, selama komoditas konflik terus diproduksi dan pasar kegaduhan tetap terbuka.

Demikian pula dalam kegaduhan politik; ada pihak-pihak yang mungkin tidak tampak di barisan massa, namun merekalah ‘pabrik’ yang memasok peluru provokasi demi kepentingan finansial atau kekuasaan.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi instrumen bagi narasi destruktif yang direncanakan. Kita harus tetap berkembang, tetap kritis, dan tetap berakselerasi tanpa perlu menciptakan kekacauan.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved