Opini
Menyambut Hari Pendidikan Nasional: Masih Rendahnya Karakter Murid
Tahun ini merupakan Hardiknas ke-67. Hardiknas pertama kali diperingati pada 2 Mei 1960, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.
Ki Hajar Dewantara yang pernah dibuang ke Belanda, karena dianggap membahayakan eksistensi Pemerintah Kolonial, justru setelah kembali ke Indonesia fokus pada bidang pendidikan.
Menurut Ki Hajar Dewantara, “pendidikan itu bukan tujuan, tetapi alat untuk memerdekakan manusia lahir dan batin”.
Hal ini dapat dibuktikan dengan pendirian Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Taman Siswa merupakan sekolah pertama buat pribumi.
Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, sekolah hanya diperuntukkan bagi anak Eropa dan priyayi.
Rakyat biasa gak boleh sekolah. Maka Ki Hajar Dewantara mendobrak tradisi tersebut dengan mendirikan Sekolah atau Taman Siswa.
Ada pelajaran dari semboyan yang sangat fenomenal dan legendaris dari Ki Hajar Dewantara.
Bahkan, semboyan tersebut masih relevan hingga saat ini, yaitu “Ing ngarso sung tuladha - Ing madya mangun karsa - Tut wuri handayani”. Ajaran ini bukan hanya sebagai slogan, tetapi merupakan “Trilogi Kepemimpinan Pendidikan”.
“Ing ngarsa sung tuladha”. Bagaimana pemimpin berperan di depan. Filosofinya, pemimpin gak boleh cuma nyuruh. Harus jalan duluan. Ngasih contoh nyata. Harus bisa jadi teladan.
Contoh, guru berharap murid bisa disiplin. Guru harus disiplin terlebih dahulu. Datang duluan ke sekolah.
Orang tua mau anaknya bisa jujur, maka orang tuanya jangan bohong. Kadang orang tua tidak sadar mengajari kebohongan dan ketidakjujuran.
Contoh sederhana, misalnya di rumah kedatangan tamu si Fulan. Sang ayah tidak berkenan menerima kehadiran si Fulan.
Lalu sang ayah menyampaikan pesan kepada anaknya, agar disampaikan kepada tamu.
“Kasih tahu Pak Fulan, ayah lagi gak enak badan”. Padahal anak tahu, dari pagi ayahnya baik-baik saja, dan sehat terus.
Bahkan, sempat menyangkul, membuat lubang untuk menanaman pohon mangga di belakang rumah, dan makannya pun lahap sehabis menanam pohon mangga.
Baca juga: Sejarah 26 April: Hari Wafatnya Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional
“Ing madya mangun karsa”. Ini peran di tengah. Guru atau pemimpin harus turun ke lapangan. Membaur dengan murid.
| Gerakan Literasi Balikpapan, Menyelami Makna Surat Kartini dan Beranda Instagramnya Maryam |
|
|---|
| Refleksi Hari Pemasyarakatan: Warga Binaan Terus Meningkat |
|
|---|
| Mari Berikan Kesempatan |
|
|---|
| Refleksi Hari Buku Sedunia: Minat Baca Masih Sangat Rendah |
|
|---|
| Navigasi BI di Tengah Badai Geopolitik: Mengapa 4,75 Persen adalah Angka Aman? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Ilustrasi-Hardiknas.jpg)