Opini
Menyambut Hari Pendidikan Nasional: Masih Rendahnya Karakter Murid
Tahun ini merupakan Hardiknas ke-67. Hardiknas pertama kali diperingati pada 2 Mei 1960, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.
Suka memarahi bawahan di depan umum. Bikin kebijakan yang menguntungkan diri sendiri.
Di tengah, seorang pemimpin harusnya membangun semangat rakyat atau Tim. Alih-alih berbuat seperti itu.
Di tengah, malah sibuk mengumpulkan harta. Conntoh, harga proyek “dimark-up” atau digelembungkan. Anggaran rapat fiktif, dan contoh negatif lainnya. Posisi di tengah yang harusnya membuat kolaborasi, malah dipakai untuk transaksi. Pemimpin malah jadi makelar, bukan motivator.
Di belakang, seorang pemimpin harusnya mendorong anak buah biar bisa mandiri.
Tapi faktanya malah minta jatah. Kasus korupsi Wakil Menteri Tenaga Kerja adalah contoh nyata.
Tahu anak buah melakukan penyimpangan, melakukan korupsi, bukannya melarang, tapi malah minta “jatah”.
Tahu anak buah korup, bukannya menegur atau melarang, tapi malah bilang, “bagi-bagi dong”.
Baca juga: 25 Teks Pidato Singkat Hari Pendidikan Nasional 2026, Referensi Amanat Pembina Upacara Hardiknas!
Atau modus cuci tangan, “saya tidak tahu”, padahal pimpinan “kecipratan”. Jadi filosofi kritiknya bukannya ikut jagain dari belakang, tapi malah ikut jadi pemain di belakang layar.
Berbicara tentang pendidikan adalah bicara tentang investasi jangka panjang. Masih banyak persoalan yang dihadapi seputar pendidikan. Masalah kualitas guru, kesejahteraan guru.
Masalah ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan, dan seabrek masalah lain yang dihadapi dunia pendidikan.
Namun, pada kesempatan kali ini saya batasi pembicaraan masalah krisis karakter anak didik.
Masalah krisis karakter anak didik ini hampir merata di seluruh Indonesia. Tentu saja ada sekolah-sekolah yang tidak terlalu berat menghadapi problematika krisis karakter.
Kalau kita menyaksikan pemberitaan, baik di media mainstream maupun melalui sosial media, betapa seorang guru ketika mengajar, dan terutama pada saat memberikan pembinaan terhadap perilaku menyimpang dari murid, posisi guru “serba salah”.
Hatinya galau. Pikirannya gundah gulana. “Maju kena, mundur kena”. Guru tahu ada murid yang melanggar disiplin atau melanggar komitmen yang telah disepakati bersama.
Tapi mau ambil tindakan pendisiplinan, ia tidak berani mengambil langkah tegas. Takut diadukan kepada Dinas Pendidikan, diadukan ke pihak kepolisian, atau malah munculnya tindakan kekerasan dari orang tua murid.
Saat ini sulit ditemui karakter anak didik yang memiliki rasa hormat dan segan pada gurunya.
Kolega saya, seorang pengajar Sekolah Dasar Negeri, dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) nun jauh di sana.
Tepatnya seorang guru kelas 1 di wilayah DKI Jakarta. Berdasarkan pengamatan dan pengalamannya, perilaku murid SD saat ini sudah pada tahap cukup “mengkhawatirkan”.
Bagaimana tidak? Murid kelas 1 SD sudah mengenal pacaran. Murid SD yang perempuan sudah mengenal kosmetik. Murid SD sudah bisa melakukan perundungan atau “bullying”.
Baik antar kawan pada kelas yang sama maupun dari dari senior atau kakak kelas kepada junior atau adik kelas.
Bahkan, yang lebih tragis lagi, di kelas 1 SD saja ada murid yang berperan sebagai pemalak. Ia meminta uang jajan kepada teman-temannya.
Ada cerita lagi yang lebih horor, seorang murid SD tewas di tangan kakak kandungnya yang masih sekolah di SMA. Adiknya dipukuli hingga meninggal dunia. Tentu tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Masalah berikutnya, siswa susah fokus. Siswa teriak-teriak di kelas, suaranya sangat keras.
Gaduh, seperti tidak ada aturan. Siswa susah dikendalikan. Berdasarkan pengalaman yang dituturkan kepada saya, ditengarai pola asuh di rumah sangat berpengaruh terhadap kepribadian atau perilaku anak. Anak memiliki orang tua, tetapi karena untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka harus berjibaku banting tulang, peras keringat supaya mencukupkan kebutuhannya.
Akibatnya anak hanya diurus oleh neneknya hanya sambil lalu saja, atau diurus oleh kakaknya yang juga super sibuk. Akibatnya tumbuh kembang jiwa anak menjadi kurang sehat.
Baca juga: 30 Ide Caption Hardiknas 2026 untuk Status WhatsApp dan Feed Instagram
Berdasarkan penuturan seorang guru, di era kemajuan teknologi informasi, pengaruh negatif dari penggunaan hp, smart phone atau gadget memang luar biasa.
Gara-gara anak bangun kesiangan akibat main hp sampai larut malam dan anak tidak masuk sekolah, orang tua murid rela berbohong.
Orang tua japri kepada guru dan menyampaikan kalau anaknya kurang enak badan alias sakit.
Besoknya ketika si anak ditanya gurunya, “kenapa kemarin gak masuk sekolah?” Jawab murid, “karena bangun kesiangan”.
Sebenarnya anak masih polos, masih memiliki kejujuran. Justru orang tualah yang tidak disadari menularkan virus kebohongan.
Virus ketidak-jujuran. Model pola asuh seperti ini kalau dibiarkan secara terus menerus, si anak merasa bahwa melakukan perbuatan bohong itu tidak berdosa.
Bukan aib. Akibatnya dia akan terus menerus melakukan kebohongan untuk membela diri ketika berbuat salah.
Murid SD juga sudah paham dan bangga joget-jogetan ala TikTok dibanding tarian daerah.
Celakanya, ada juga guru aktif main TikTok dengan berseragam ASN. Tentu ini contoh yang tidak baik.
Ada istilah yang saya baru dengar dari penuturan seorang guru SD, istilah tersebut sifatnya “satir”, atau sindiran, yaitu adanya “generasi rebahan”.
Anak hobinya rebahan atau “mager”, malas gerak. Ia menggambarkan kalau diadakan upacara di sekolah, anak-anak seperti tidak punya tulang. Kalau berdiri tidak bisa lama. Tidak bisa tertib dan tidak memiliki sikap sempurna.
Bahkan, ia menuturkan pengalamannya, karena mengajar anak SD di lingkungan wilayah padat penduduk, kata-kata kasar, jorok, tidak sopan dan tidak sepatutnya muncul dari anak kelas 1 SD.
Lebih prihatin lagi, kondisi ini sangat sulit untuk diingatkan atau diluruskan, karena perlindungan dari Negara terhadap guru sangat lemah.
Di balik itu semua, ada juga sebagian kecil murid yang memiliki empati dan mungkin merasakan pendekatan seorang guru yang ia terima, sehingga anak-anak mengirimkan “surat cinta” tanda kasih sayang anak perempuan kepada seorang Ibu Guru. Koq bisa?
Katanya, di waktu istirahat, ia sering tidak masuk ke ruang guru, tetapi justru melakukan pendekatan kepada anak didik dan mengobrol.
Maklum usia kelas 1 SD pastilah mereka merindukan figur orang tua.
Jadi seorang guru wanita tersebut dianggap sebagai figur ibunya sendiri, karena di rumah kurang kasih sayang dari orang tuanya.
Pertanyaanya sampai kapan guru bisa bertindak seperti itu, jika tingkat pendapatan mereka, tingkat kesejahteraan mereka kurang mendapatkan perhatian dari Pemerintah.
Ekosistem pendidikan akan berhasil manakala sekolah, guru, anak didik dan orang tua murid memiliki visi dan misi yang sama dalam mengembangkan masa depan anak.
Baca juga: Hardiknas 2026: Inilah Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2026 yang Diperingati Setiap Tanggal 2 Mei
Jangan sampai aduan anak tentang guru ditelan mentah-mentah oleh orang tua. Begitu juga guru, orang tua murid harus secara istiqamah, konsisten memberikan contoh yang baik.
Ungkapan dalam bahasa Jawa, “guru” adalah “digugu” dan “ditiru”. Artinya, guru itu “diikuti/ditaati” dan “dicontoh”, masih tetap terpatri di dada sang guru, di manapun Anda berada. Semoga. (*)
*) Mantan Kepala Biro Humas dan Kepala Diskominfo, serta mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan mantan Pjs. Bupati Kutai Timur.
| Gerakan Literasi Balikpapan, Menyelami Makna Surat Kartini dan Beranda Instagramnya Maryam |
|
|---|
| Refleksi Hari Pemasyarakatan: Warga Binaan Terus Meningkat |
|
|---|
| Mari Berikan Kesempatan |
|
|---|
| Refleksi Hari Buku Sedunia: Minat Baca Masih Sangat Rendah |
|
|---|
| Navigasi BI di Tengah Badai Geopolitik: Mengapa 4,75 Persen adalah Angka Aman? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Ilustrasi-Hardiknas.jpg)