Opini
Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Literasi “PR” yang Tak Kunjung Tuntas
Hardiknas jadi momentum refleksi: literasi pendidikan Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar
Penulis: Sumarsono | Editor: Amelia Mutia Rachmah
Itu adalah sinyal darurat bahwa ada yang salah dalam cara kita mentransfer pengetahuan. Kita terlalu sibuk mengganti sampul buku (kurikulum), tetapi sering kali lupa memperbaiki cara anak-anak kita memahami isi di dalamnya.
Di era digital, tantangan ini naik kelas. Masalahnya bukan lagi tentang ketiadaan akses informasi, melainkan “kelebihan beban” informasi.
Ironisnya, di tengah derasnya arus data, kemampuan analisis generasi muda justru tampak semakin dangkal.
Literasi bukan sekadar mengeja huruf, melainkan kemampuan memilah fakta, memahami konteks, dan berpikir kritis.
Baca juga: Menyambut Hari Pendidikan Nasional: Masih Rendahnya Karakter Murid
Tanpa itu, hoaks akan terus merajalela dan budaya membaca hanya akan menjadi artefak masa lalu.
Kita harus jujur mengakui bahwa beban ini tidak bisa dipanggul oleh guru sendirian, apalagi jika kapasitas mereka tidak merata.
Guru adalah kompas dalam badai informasi ini. Oleh karena itu, penguatan kapasitas pendidik adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
Inisiatif kolaboratif dari berbagai pihak, seperti yang dilakukan oleh organisasi sosial pendidikan, memberi harapan bahwa upaya perbaikan itu nyata.
Namun, pendidikan tidak boleh bergantung pada program-program sporadis semata. Ia membutuhkan komitmen jangka panjang dan keberpihakan kebijakan yang tulus.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk berhenti sejenak dari perayaan permukaan.
Kita perlu bertanya: apakah ruang kelas kita sudah menjadi tempat bagi anak-anak untuk berani berpikir, atau hanya tempat untuk menghafal jawaban?
Menuntaskan masalah literasi adalah menuntaskan masa depan bangsa.
Baca juga: Refleksi Hari Pemasyarakatan: Warga Binaan Terus Meningkat
Menyambut Hari Pendidikan Nasional ke-67 ini, persoalan pendidikan di Indonesia membutuhkan keterlibatan aktif dari berbagai pihak.
Menyelesaikan masalah minimnya literasi di masyarakat memerlukan penguatan kapasitas tenaga pendidik.
Guru dan kepala sekolah memegang peranan krusial dalam menciptakan budaya belajar yang sehat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250406_Sumarsono-Pemimpin-Redaksi-Tribun-Kaltim.jpg)