Minggu, 3 Mei 2026

Opini

Hardiknas dan Sepasang Sepatu yang Terlambat Kita Perhatikan

Tragedi siswa di Samarinda jadi refleksi Hardiknas, mengingatkan pentingnya empati dalam sistem pendidikan

Tayang: | Diperbarui:
HO/PRIBADI
REFLEKSI PENDIDIKAN NASIONAL - Dosen Ekonomi Universitas Mulia Balikpapan, Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd. (HO/PRIBADI) 

Oleh: Dr. Linda Fauziyah Ariyani, Dosen Ekonomi Universitas Mulia Balikpapan

TRIBUNKALTIM.CO - Hari Pendidikan Nasional semestinya menjadi momentum penuh optimisme. Kita merayakan sekolah, guru, murid, dan harapan tentang masa depan bangsa. 

Namun tahun ini, suasana itu terasa berbeda setelah publik dikejutkan kabar duka dari Samarinda: seorang siswa SMK meninggal dunia setelah mengalami komplikasi kesehatan yang diduga berawal dari penggunaan sepatu sekolah yang kekecilan.

Kisah ini menyesakkan dada. Bukan semata karena sepasang sepatu, tetapi karena ada banyak tanda yang tampaknya luput kita baca bersama.

Kebijakan Pendidikan dan Realitas

Kalimantan Timur sejatinya termasuk provinsi yang cukup progresif dalam sektor pendidikan. Pemerintah daerah telah menghadirkan layanan pendidikan gratis hingga jenjang SMA/SMK, bahkan kini diperluas melalui program Gratispol untuk pendidikan tinggi.

Dengan cukup menggunakan KTP Kalimantan Timur, masyarakat memiliki akses lebih luas terhadap perguruan tinggi.

Baca juga: Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Literasi “PR” yang Tak Kunjung Tuntas

Tidak hanya itu, bantuan perlengkapan sekolah juga telah diberikan: seragam, tas, sepatu, kaos kaki, dasi, topi, ikat pinggang, dan kebutuhan penunjang lainnya. Ini adalah langkah besar yang patut diapresiasi.

Namun, peristiwa di Samarinda mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak cukup hanya dengan kebijakan dan bantuan fisik. Pendidikan membutuhkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: kepekaan sosial.

Di tengah era digital saat ini, masyarakat perlahan mengalami perubahan perilaku. Teknologi memang memudahkan banyak hal, tetapi tanpa disadari juga membuat sebagian orang semakin sibuk dengan dunianya sendiri. Kita mudah mengetahui kabar orang jauh, tetapi kadang tidak mengenali kesulitan tetangga di sekitar. Kita aktif di media sosial, tetapi pasif terhadap realitas sosial.

Kasus ini adalah cermin bahwa masih ada anak-anak yang berjuang diam-diam di sekitar kita.

Mungkin ia datang ke sekolah sambil menahan sakit. Mungkin ia tetap tersenyum meski sepatu yang dipakai melukai kakinya setiap hari. Mungkin ia bekerja sambil sekolah tanpa ingin merepotkan siapa pun. Dan mungkin, kita semua terlalu sibuk untuk benar-benar melihat.

Peran Guru dan Sekolah

Di sinilah peran sekolah menjadi sangat penting.

Guru tidak semestinya hanya diukur dari tumpukan administrasi, laporan, atau dokumen yang harus diselesaikan. Guru perlu diberi ruang lebih luas untuk hadir sebagai manusia di hadapan muridnya—mendengar, memahami, dan mengenali kondisi peserta didik.

Sering kali anak-anak tidak membutuhkan ceramah panjang. Mereka hanya membutuhkan satu orang dewasa yang benar-benar peduli.

Guru yang peka akan melihat murid yang murung, murid yang sering diam, murid yang tiba-tiba menurun prestasinya, atau murid yang terus memakai sepatu yang sama dalam kondisi tak layak. Hal-hal kecil seperti itulah yang sering menjadi pintu masuk untuk menyelamatkan masa depan anak.

Pentingnya Kolaborasi Sosial

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved