Opini
Jas Krem di Tengah Lautan Jas Gelap
Di tengah dominasi jas hitam dan biru gelap para pemimpin ASEAN, Presiden Prabowo Subianto tampil dengan jas krem. Sekilas mungkin tampak sederhana.
ASEAN memiliki budaya diplomasi yang relatif cair dan fleksibel.
Berbeda dengan protokol Barat yang sangat ketat, forum ASEAN masih memberi ruang bagi ekspresi personal dan identitas budaya.
Karena itu, jas krem Prabowo tetap berada dalam batas formalitas diplomatik yang dapat diterima.
Namun yang menarik justru bukan soal pelanggaran aturan, melainkan pesan simbolik di balik pilihan tampil berbeda.
Baca juga: Myanmar Protes karena Merasa Dikucilkan di ASEAN, Sikap Indonesia, Malaysia hingga Thailand
Dalam diplomasi modern, penampilan kepala negara merupakan bagian dari komunikasi politik.
Busana dapat menjadi instrumen personal branding, membangun citra kepemimpinan, sekaligus menciptakan visibilitas di ruang publik global.
Di era media digital hari ini, visual bahkan sering bergerak lebih cepat daripada diplomasi itu sendiri.
Banyak orang mungkin tidak mengetahui detail hasil pembahasan BIMP-EAGA, tetapi mereka mengingat jas krem Prabowo.
Fenomena ini menunjukkan bahwa diplomasi kini tidak hanya berlangsung di ruang negosiasi tertutup, tetapi juga di arena persepsi publik.
Dalam sejarah politik dunia, penggunaan simbol visual sebenarnya bukan hal baru.
Sukarno dengan peci hitamnya, Mao Zedong dengan “Mao suit”, atau Volodymyr Zelensky dengan pakaian semi-militernya memperlihatkan bagaimana busana dapat menjadi bahasa politik.
Busana bukan sekadar penutup tubuh. Ia dapat merepresentasikan identitas, karakter, bahkan strategi komunikasi seorang pemimpin.
Karena itu, saya selalu mengatakan kepada mahasiswa bahwa seorang diplomat harus memahami bahwa setiap detail penampilan di forum internasional mengandung makna simbolik.
Baca juga: Alasan Malaysia Enggan Jual Stok Minyak ke Negara ASEAN Meski Kapalnya Berhasil Lewati Selat Hormuz
Tidak selalu berupa konsekuensi formal, tetapi sangat mungkin membentuk persepsi global.
Pada akhirnya, jas krem itu mungkin tidak mengubah arah geopolitik ASEAN.
Namun ia berhasil menunjukkan satu hal penting: dalam diplomasi kontemporer, bahkan warna pakaian dapat menjadi pesan politik yang berbicara diam-diam kepada dunia. (*)
*) Penulis merupakan dosen Hubungan Internasional yang mengajar Diplomasi Praktik dan Kajian Protokoler Internasional di Samarinda
| QRIS: Dari Nusantara Hingga China, Fondasi Institusional Dari Tren Menuju Transformasi Struktural |
|
|---|
| Presensi Bodong: Perlunya Menjaga Kewarasan Moral |
|
|---|
| Hari Palang Merah Dunia: Terjadi Degradasi Nilai Kemanusiaan? |
|
|---|
| Tekanan Fiskal dan Ujian Kebijakan Publik di Samarinda hingga Polemik BPJS |
|
|---|
| Mengapa Ada Hari Kebebasan Pers Dunia? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Eni-Farurachmi-Unmul.jpg)