Breaking News
Jumat, 15 Mei 2026

Opini

Jas Krem di Tengah Lautan Jas Gelap

Di tengah dominasi jas hitam dan biru gelap para pemimpin ASEAN, Presiden Prabowo Subianto tampil dengan jas krem. Sekilas mungkin tampak sederhana.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/HO/Tribun Kaltim
PENULIS - Enny Fathurachmi, penulis merupakan dosen Hubungan Internasional yang mengajar Diplomasi Praktik dan Kajian Protokoler Internasional di Samarinda. 

Oleh: Enny Fathurachmi *)

TRIBUNKALTIM.CO - Di tengah dominasi jas hitam dan biru gelap para pemimpin ASEAN, Presiden RI, Prabowo Subianto tampil dengan jas krem.

Sekilas mungkin tampak sederhana. Namun dalam dunia diplomasi internasional, penampilan tidak pernah benar-benar sekadar soal pakaian.

Dalam forum antarnegara, simbol sering kali berbicara lebih keras daripada pidato.

Posisi duduk, urutan berbicara, bentuk jabat tangan, hingga warna jas merupakan bagian dari bahasa non-verbal diplomasi.

Sebagai pengajar mata kuliah Diplomasi Praktik, saya kerap menjelaskan kepada mahasiswa bahwa protokoler internasional bukan sekadar tata acara resmi.

Protokol adalah cara negara menunjukkan penghormatan, kesetaraan, sekaligus citra politiknya di hadapan dunia.

Karena itu, dress code dalam forum internasional memiliki makna tersendiri.

Prabowo KTT Asean
HADIRI KTT ASEAN - Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Filipina mengenakan jam krem. Dalam pertemuan bersama para pemimpin negara anggota forum BIMP-EAGA, Presiden membahas penguatan kerjasama ekonomi serta perkembangan isu global dan regional.

Baca juga: Prabowo Serukan Dialog untuk Selesaikan Ketegangan Thailand dan Kamboja di KTT ASEAN 2026

Jas gelap telah lama menjadi standar diplomasi modern. Warna hitam, navy, atau abu-abu tua diasosiasikan dengan stabilitas, formalitas, dan kontrol diri.

Dalam forum multilateral, keseragaman visual juga menciptakan kesan kolektivitas dan kesetaraan antar pemimpin.

Di titik inilah jas krem Prabowo menjadi menarik.

Ia langsung menciptakan diferensiasi visual di tengah “lautan jas gelap” para pemimpin lainnya.

Kamera media secara otomatis menangkap sosok yang paling berbeda.

Dan memang, publik lebih cepat membicarakan warna jas dibanding substansi forum BIMP-EAGA itu sendiri.

Apakah penampilan itu melanggar protokol? Saya kira tidak.

ASEAN memiliki budaya diplomasi yang relatif cair dan fleksibel.

Berbeda dengan protokol Barat yang sangat ketat, forum ASEAN masih memberi ruang bagi ekspresi personal dan identitas budaya.

Karena itu, jas krem Prabowo tetap berada dalam batas formalitas diplomatik yang dapat diterima.

Namun yang menarik justru bukan soal pelanggaran aturan, melainkan pesan simbolik di balik pilihan tampil berbeda.

Baca juga: Myanmar Protes karena Merasa Dikucilkan di ASEAN, Sikap Indonesia, Malaysia hingga Thailand

Dalam diplomasi modern, penampilan kepala negara merupakan bagian dari komunikasi politik.

Busana dapat menjadi instrumen personal branding, membangun citra kepemimpinan, sekaligus menciptakan visibilitas di ruang publik global.

Di era media digital hari ini, visual bahkan sering bergerak lebih cepat daripada diplomasi itu sendiri.

Banyak orang mungkin tidak mengetahui detail hasil pembahasan BIMP-EAGA, tetapi mereka mengingat jas krem Prabowo.

Fenomena ini menunjukkan bahwa diplomasi kini tidak hanya berlangsung di ruang negosiasi tertutup, tetapi juga di arena persepsi publik.

Dalam sejarah politik dunia, penggunaan simbol visual sebenarnya bukan hal baru.

Sukarno dengan peci hitamnya, Mao Zedong dengan “Mao suit”, atau Volodymyr Zelensky dengan pakaian semi-militernya memperlihatkan bagaimana busana dapat menjadi bahasa politik.

Busana bukan sekadar penutup tubuh. Ia dapat merepresentasikan identitas, karakter, bahkan strategi komunikasi seorang pemimpin.

Karena itu, saya selalu mengatakan kepada mahasiswa bahwa seorang diplomat harus memahami bahwa setiap detail penampilan di forum internasional mengandung makna simbolik.

Baca juga: Alasan Malaysia Enggan Jual Stok Minyak ke Negara ASEAN Meski Kapalnya Berhasil Lewati Selat Hormuz

Tidak selalu berupa konsekuensi formal, tetapi sangat mungkin membentuk persepsi global.

Pada akhirnya, jas krem itu mungkin tidak mengubah arah geopolitik ASEAN.

Namun ia berhasil menunjukkan satu hal penting: dalam diplomasi kontemporer, bahkan warna pakaian dapat menjadi pesan politik yang berbicara diam-diam kepada dunia. (*)

*)  Penulis merupakan dosen Hubungan Internasional yang mengajar Diplomasi Praktik dan Kajian Protokoler Internasional di Samarinda

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved