Opini
Pertamax Naik, Pukulan Telak Bagi Masyarakat Kelas Menengah
Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.500 per liter bukan sekadar penyesuaian harga, tetapi menambah tekanan bagi jutaan keluarga kelas menengah.
Artinya, lebih dari delapan dari setiap sepuluh kendaraan yang beroperasi di jalan raya adalah sepeda motor.
Angka ini menunjukkan betapa besar ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan roda dua sebagai sarana mobilitas sehari-hari.
Terlebih di Kalimantan, mobilitas masyarakat masih sangat bergantung pada kendaraan bermotor karena keterbatasan transportasi publik yang terjangkau dan menjangkau seluruh wilayah.
Bagi masyarakat perkotaan maupun pedesaan, sepeda motor bukan lagi sekadar alat transportasi. Kendaraan ini telah menjadi alat produksi.
Guru menggunakannya untuk mengajar, pedagang untuk berjualan, kurir untuk mengantar barang, pekerja untuk berangkat ke kantor, hingga pelaku UMKM untuk menjalankan usahanya.
Baca juga: Ramai Beredar di Medsos Harga Asli Pertalite Lebih Mahal dari Pertamax, Penjelasan Pertamina
Ketika biaya bahan bakar naik secara signifikan, maka biaya aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut meningkat.
Kita pernah melihat bagaimana kenaikan harga Dexlite berdampak pada meningkatnya biaya distribusi barang.
Ketika ongkos logistik naik, harga berbagai kebutuhan ikut terdorong naik.
Kenaikan Pertamax kali ini memang tidak secara langsung menyasar sektor distribusi, namun tetap memberikan tekanan tambahan terhadap daya beli masyarakat yang sudah cukup tertekan sebelumnya.
Karena itu, masyarakat perlu mulai memperkuat ketahanan ekonominya.
Efisiensi pengeluaran menjadi penting, tetapi tidak cukup.
Baca juga: Kepala Disperindag Kutim Respons soal Kelangkapan BBM Jenis Pertamax, Distribusi ke Daerah Tersendat
Rumah tangga perlu mulai memikirkan sumber pendapatan tambahan, meningkatkan keterampilan, serta memanfaatkan peluang ekonomi yang tersedia.
Di tengah situasi yang tidak mudah, kemampuan beradaptasi menjadi kunci untuk bertahan.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu hadir lebih nyata dalam melindungi kelompok produktif yang menjadi tulang punggung perekonomian.
Penguatan transportasi publik, pengendalian inflasi daerah, dukungan bagi UMKM, penciptaan lapangan kerja, serta berbagai program peningkatan produktivitas masyarakat menjadi langkah yang semakin mendesak untuk dilakukan.
| Memahami Modus Operandi Begal via Teori Pilihan Rasional dan Aktivitas Rutin |
|
|---|
| Membaca Pikiran Anderiy Syachrum: Kejutan Gerbong Baru, Kabinet Ramping, dan Formula Menuju PON 2028 |
|
|---|
| Benalu di Balik Jubah Suci |
|
|---|
| Koperasi Merah Putih: Jangan Terjebak pada Gedung, Bangunlah Ekosistemnya |
|
|---|
| KPC dan Dilema Transparansi Informasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260502_Dosen-Universitas-Mulia-Linda-Fauziyah-Ariyani.jpg)