Sabtu, 13 Juni 2026

Opini

Menasihati Diriku

Pagi ini aku ingin menasihati diriku sendiri, suatu refleksi yang tidak sekadar akan melahirkan kepatuhan, tapi melahirkan kesadaran

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/Gregorius Agung Salmon
Walikota Samarinda, Andi Harun. 

Oleh: Walikota Samarinda, Andi Harun

PAGI ini aku ingin menasihati diriku sendiri, suatu refleksi yang tidak sekadar akan melahirkan kepatuhan, tapi melahirkan kesadaran.

Di tengah kesibukan rapat, target kinerja, tumpukan administrasi, dan berbagai tuntutan pekerjaan, aku tidak ingin kehilangan kesadaran tentang satu hal yang paling mendasar, mengapa amanah ini diberikan kepada kita.

Sering kali birokrasi terjebak dalam apa yang oleh sosiolog Jerman Max Weber disebut sebagai instrumental rationality—segala sesuatu diukur dari prosedur-administratif.

Padahal tujuan akhir pemerintahan bukanlah prosedur itu sendiri, melainkan menghadirkan kemanfaatan, keadilan, dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Karena itu aku mengingatkan diriku untuk jangan sampai sibuk mengurus proses, tetapi lupa pada tujuan.

Jangan sampai merasa berhasil karena laporan selesai, padahal masalah masyarakat belum selesai. 

Jangan sampai bangga karena pekerjaan dinyatakan tuntas secara administratif, sementara manfaatnya belum dirasakan publik.

Baca juga: Pertamax Naik, Pukulan Telak Bagi Masyarakat Kelas Menengah

Dalam ilmu administrasi publik modern, keberhasilan pemerintah tidak lagi diukur hanya dari output, tetapi dari outcome dan public value yang dihasilkan.

Akademisi terkemuka Mark H. Moore mengingatkan bahwa tugas utama sektor publik adalah menciptakan public value—nilai yang dirasakan masyarakat sebagai manfaat nyata dari kehadiran pemerintah. Artinya, ukuran keberhasilan kita bukan sekadar berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, melainkan berapa banyak masalah yang berhasil diselesaikan.

Aku juga mengingatkan diriku bahwa perubahan tidak pernah lahir dari zona nyaman. Sejarah organisasi menunjukkan bahwa kemunduran sering kali bukan disebabkan oleh kekurangan sumber daya, melainkan karena keberhasilan masa lalu membuat orang merasa tidak perlu berubah. Relevan mengingat ungkapan seorang Profesor manajemen Peter Drucker bahwa "The greatest danger in times of turbulence is not the turbulence itself, but to act with yesterday’s logic."

Bahaya terbesar pada masa perubahan bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan menghadapi masa depan dengan cara berpikir masa lalu. Bahkan, frasa lebih menyentuh "Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results" .

Banyak sumber menyatakan ungkapan dari Albert Einstein, padahal sebenarnya dipopulerkan secara luas melalui novel karya Rita Mae Brown yang berjudul "Sudden Death". Kalimat ini terkoneksi dengan karakter fiksi bernama Jane Fulton.

Karena itu aku tidak boleh puas hanya karena hari ini lebih baik dari kemarin. Tugas yang sesungguhnya adalah memastikan hari esok lebih baik daripada hari ini.

Aku juga mengingatkan diriku tentang makna kepemimpinan. Kepemimpinan bukan soal posisi, bukan soal kewenangan. Bukan pula soal seberapa banyak orang mengikuti perintah atau arahan.

Baca juga: Benalu di Balik Jubah Suci

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
Live
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved