Berita Samarinda Terkini

Kisah Pedagang di Terminal Resmi Samarinda Legawa Pendapatan Pas-pasan, Ikhlas Ada Terminal Bayangan

Kisah pedagang di terminal resmi Samarinda legawa pendapatan pas-pasan. Ikhlas ada terminal bayangan di Samarinda Seberang, Samarinda, Kaltim.

Kolase Tribun Kaltim / RAYNALDI
TERMINAL BAYANGAN - Seorang padagang, Sudarmi tengah menyiapkan pesanan pembeli di warung miliknya di terminal Sungai Kunjang. Jumat (29/8/2025) baginya kehadiran terminal bayangan tidak berdampak pada usahanya. Kisah pedagang di terminal resmi Samarinda legawa pendapatan pas-pasan. Ikhlas ada terminal bayangan di Samarinda Seberang, Samarinda, Kaltim. (Kolase Tribun Kaltim / RAYNALDI) 

Ia menilai, keberadaan terminal bayangan lebih banyak membantu para sopir bus mencari tambahan penumpang.

“Macam bus kan kalau cuma di sini berapa orang aja. Jadi cari tambahan penumpang di seberang, kasihan juga sopir,” tutur Sudarmi.

Baca juga: Dilema Terminal Bayangan Jalan APT Pranoto, Jadi Pilihan Warga Samarinda, Ditegur Satpol PP Kaltim

Cerita-cerita seperti itu sering ia dengar dari para sopir yang singgah di warungnya. Seiring perkembangan zaman, tantangan transportasi juga berubah. 

Kini, layanan transportasi online dan mobil pribadi menjadi pesaing baru angkutan umum.

“Begini-begini aja, kan sudah banyak online, banyak mobil pribadi, maklumnya saja sudah,” ucapnya.

Bagi Sudarmi, terminal bayangan bukanlah hal baru. Ia kerap mendengar keluhan sopir yang harus berpindah-pindah tempat menunggu penumpang.

“Terminal bayangan itu sudah dari dulu. Iya, sudah berapa kali dipindah-pindah. Kasihan juga sih, sopir-sopir bingung,” katanya.

Selain soal sopir, ia juga menyoroti penumpang yang mesti mengeluarkan ongkos tambahan jika dipaksa masuk ke terminal resmi.

“Baru yang dari seberang kesini (Terminal Sungai Kunjang) ongkosnya kan banyak juga, kasihan. Harusnya bisa buat beli minum atau kebutuhan lain, malah nambah ongkos,” ujarnya.

Meski begitu, pendapatannya tetap stabil. Dalam sehari ia bisa membawa pulang ratusan ribu, meski harus kembali diputar untuk belanja bahan dagangan.

“Ya masih begitu aja lah, yang penting ada buat hidup kan,” kata Sudarmi.

Ia pun tak banyak menuntut. Bagi ibu dari lima anak ini, yang penting dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga tercukupi, meski harus hidup sederhana.

“Kadang sampai ratusan, enggak tentu juga. Tapi dipakai mutar lagi buat beli bahan,” ujarnya.

Dengan penghasilan dari warungnya itu, Sudarmi berusaha untuk tetap berusaha mencukupi segala kebutuhannya.

“Cukup aja, dicukup-cukupkan,” pungkasnya. (Raynaldi Paskalis) 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved