Berita Kaltim Terkini
Mengenal Bentang Alam Wehea–Kelay Kaltim, Rumah Orangutan dan Satwa Langka yang Terancam Punah
Mengenal bentang alam Wehea–Kelay di Kaltim yang menjadi rumah Orangutan dan berbagai satwa langka yang terancam punah
Penulis: Tribun Kaltim | Editor: Amalia Husnul A
Ringkasan Berita:
- Bentang alam Wehea-Kelay berada di Kabupaten Kutai Timur hingga Berau di Provinsi Kaltim
- Kawasan Wehea-Kelay telah ditetapkan sebagai rumah pelestarian satwa-satwa yang terancam punah khususnya Orangutan sejak 30 Juni 2015
- Studi terbaru ini menunjukkan penambahan 275 jenis flora dan fauna di Wehea-Kelay
- Sedikitnya ada 8 jenis satwa langka yang berhasil diidentifikasi di Wehea-Kelay
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Sejumlah satwa langka berhasil ditemukan di Bentang Alam Wehea-Kelay, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Temuan satwa langka ini terungkap dalam Simposium Biodiversitas Wehea-Kelay yang digelar di hotel Mercure, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Rabu (14/1/2026)
Bentang Alam Wehea-Kelay ini membentang dari Kabupaten Kutai Timur (Kutim) hingga Kabupaten Berau.
Kawasan bentang alam Wehea-Kelay ini telah ditetapkan sebagai rumah pelestarian satwa-satwa yang terancam punah khususnya orangutan sejak 30 Juni 2015.
Baca juga: Tim Peneliti Temukan 8 Satwa Langka Terancam Punah di Bentang Alam Wehea-Kelay Kaltim
Kawasan bentang alam Wehea-Kelay ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE).
Dalam simposium yang digelar pekan ini disebutkan ada sejumlah satwa langka yang teridentifikasi antara lain Orangutan Kalimantan, Lutung Kutai, Rangkong Gading, Trenggiling, Beruang Madu, Bangau Storm, Macan Dahan dan Kucing Merah.
Penelitian tematik biodiversitas yang berlangsung sepanjang 2025 di Wehea-Kelay mencatat sedikitnya 1.618 jenis flora dan fauna.
Komposisinya mencakup 38 persen mamalia terestrial, 47 persen jenis burung, 20 persen reptil, dan 70 persen amfibi. Selain itu, teridentifikasi 88 jenis serangga dari kelompok kupu-kupu dan kumbang sungut, serta 987 jenis tumbuhan hutan.
Kawasan Wehea-Kelay sendiri berada di luar kawasan konservasi formal, namun masih menjadi habitat penting satwa langka, termasuk orangutan Kalimantan.
Penelitian ini merupakan kolaborasi peneliti Universitas Mulawarman (Unmul), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
Tambahan 275 Jenis Flora dan Fauna
Peneliti Ahli Utama BRIN, Tri Atmoko, menjelaskan riset dilakukan melalui pemantauan lapangan, termasuk penggunaan kamera jebak dan perekam suara satwa.
Tri menyebut, dibandingkan pendataan serupa pada 2016 yang mencatat 1.343 jenis, studi terbaru ini menunjukkan penambahan 275 jenis flora dan fauna.
“Selain karena metode yang digunakan lebih baik, pihak-pihak yang berkepentingan di Wehea-Kelay juga mempunyai komitmen, visi, dan misi yang sama terkait dengan pelestarian keanekaragaman rakyati yang ada di kawasan tersebut,” terang Tri.
Kawasan Penting untuk Mitigasi Perubahan Iklim
Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Herlina Hartanto menjelaskan kolaborasi pengelolaan Wehea-Kelay dimulai sejak 2015, berfokus pada perlindungan koridor jelajah orangutan yang mengikuti Sungai Kelay, Sungai Wehea, dan hulu Sungai Telen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260116_Lutung-Kutai-Presbytis-canicrus-di-bentang-alam-Wehea-Kelay_Kaltim.jpg)