SALAM TRIBUN

Hak Bertanya

Saat hak bertanya tersumbat penyalurannya, rakyat mau tak mau mencari mediumnya sendiri di jalanan, lorong gelap, kedai kopi dan forum-forum diskusi.

Editor: Amalia Husnul A
DOK TRIBUNKALTIM

SALAM TRIBUN

Hak Bertanya

Oleh ACHMAD BINTORO

"Politisi tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri. Karena itulah mereka sangat kaget bila rakyat memercayainya." -- Charles de Gaulle, Presiden Perancis pertama.

GUBERNUR Awang Faroek Ishak ternyata bukan tidak mendengar suara-suara yang meriung di luar kantornya. Ia tahu, misalnya, ada yang mempertanyakan programnya membangun kawasan industri dan pelabuhan internasional Maloy di Kutai Timur.

Awang bahkan tahu detilnya. "Ya, saya dibilang: 'Awang Faroek itu belum akan berhenti ngomong kalau belum sampai Maloy.' Gak apa-apa, mungkin mereka gak paham," kata Awang Faroek, suatu malam di rumah jabatannya, Lamin Etam, Samarinda, sepulang kunjungan 10 hari dari Rusia.

Baca: Kaltim Wow...!?

Entah bagaimana cara ia nguping. Gosip semacam itu lazimnya hanya terucap lamat, dalam obrolan santai dan di ruang yang terbatas. Mungkin di warung kopi Hainan. Bisa di lesehan Danau Maninjau. Sekedar jadi bahan 'penyedap' para penikmat gado-gado Suroboyo di depan panti pijat Shiatsu. Atau diobrolkan sambil nyeruput cappucino ala kampus di sebuah kedai bawah tenda, depan studio Radio Metro Unmul.

Memang sih, rasan-rasan begini pernah muncul pada acara resmi di gubernuran. Maksudnya begini. Saat gubernur menyampaikan sambutan, beberapa orang jamak merumpi. Awang Faroek sebenarnya orator hebat. Ia terbiasa pidato berjam-jam tanpa teks, lengkap dengan data-data kuantitatif. Semua di luar kepala.

Beberapa orang mungkin sudah sering mengikuti acara-acara gubernur. Mereka menjadi hapal isi dan gayanya berpidato. Dan Awang memang tak pernah bosan mengkampanyekan Maloy yang digadang-gadang bisa menyaingi kluster sawit Lahad Datu Malaysia, menjadi pusat kawasan industri sawit berbasis produk turunan dan oleokimia.

Apa yang salah dengan Maloy? Tidak ada! Pelabuhan itu memang dibutuhkan. Justru menjadi rasan-rasan karena sudah ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dana APBD-APBN dikucurkan tapi KIPI Maloy tak kunjung berwujud. Infrastruktur menuju kawasan itu sudah siap apa belum? Pertanyaan itu pula yang dilontarkan sejumlah pengusaha dalam pertemuan di hotel Pullman, Jakarta, setahun lalu. Malam itu sekitar 50 pengusaha sawit dikumpulkan dan diajak gubernur untuk berinvestasi di Maloy.

Baca: Trans Studio

Orang berasan juga karena gubernur disebut-sebut sudah menyetujui pembangunan gedung baru bola voli, boling dan lapangan mini golf senilai Rp 208 miliar, sedangkan masih banyak venues olahraga belum kita optimalkan. Stadion megah yang kita bangun dengan dana triliunan rupiah di Palaran dan hotel atlet delapan lantai pun bertahun-tahun kita biarkan merana. Kita juga kekurangan duit untuk melanjutkan BSB, jembatan kembar, jalan tol serta belasan proyek tahun jamak lainnya.

Orang-orang itu meriung sekedar menggunakan haknya: hak bertanya. Bedanya dengan hak interpelasi -- yang kini tengah coba diajukan penggunaannya oleh sejumlah anggota fraksi DPRD Kaltim terkait rencana pembangunan PLTN dan kunjungan rombongan gubernur ke Rusia -- mereka dapat menggunakan haknya itu kapan pun merasa perlu jawaban. Tanpa harus lebih dulu melobi pimpinan, kawan maupun lawan. Tanpa harus membawa kepentingan politis tertentu.

Baca: Jalan-jalan ke Rusia

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved