Kamis, 16 April 2026

Opini

Wahai Pemimpin Tirulah Kesederhanaan Hatta dan Natsir

George McTurman Kahin, salah seorang Guru Besar Universitas Cornell Amerika yang kenal dengan Natsir sempat terheran-heran dengan kesederhanaan Natsir

Editor: Amalia Husnul A
Wikipedia
Menteri-menteri dari Kabinet Natsir dengan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. 

Oleh Ali Wardhana
Alumni KAMMI dan Pegiat Komunitas Borneo Masa Depan

MEMPERBINCANGKAN masalah moralitas dalam politik barangkali bagi kebanyakan orang adalah sesuatu yang absurd. Sesuatu yang langka atau barangkali mustahil, pandangan demikian tidaklah salah jika dikaitkan dengan kejadian-kejadian yang kerap menjadi perbincangan di berbagai media. Misalnya, korupsi dan gaya hidup mewah berfoya-foya seakan melekat dikehidupan dunia para politikus.

Namun menilik kehidupan era awal kemerdekaan, politik bagi beberapa “anak-anak pergerakan” adalah pengabdian. Ada juga yang berpendapat berpolitik merupakan titipan amanat yang mesti dipertanggungjawabkan. Politik bukan semata alat mengejar kekuasaan semata.

Namun dari sisi dimensi moral terwujud sebagai sikap maupun perilaku individu. Dua tokoh Moehammad Hatta dan Moehammmad Natsir, sekian dari beberapa pemimpin teladan yang memberikan keteladanan pada era kepemimpinan mereka.

BACA JUGA: Tolak Ditemui Kasipenkum, Jangkar Hanya Ingin Serahkan Data ke Pidsus

Sosok bersahaja itu mampu membukikan bahwa moralitas dan politik dapat berdampingan dan menyatu dalam kepribadian dan sikap politiknya sehari–hari, mereka manusia yang yakin akan pikirannya bahwa, "Pemimpin berarti suri teladan dalam segala perbuatannya."

Lihat saja bagaimana mudahnya bagi Hatta melepaskan jabatan prestisius sebagai wakil presiden ketika kekuasaan dianggapnya telah jauh menyimpang dari tujuannya. Ia dengan mudah menghapus segala tata rias kuasa didirinya, melepaskan berbagai fasilitas negara, menanggalkan segala kemudahan yang diberikan oleh negara, sebuah jabatan yang saat ini kerap diburu dan dipuja-puja.

BACA JUGA: Aktivis Jangkar Datangi Kejati Laporkan Dugaan Kasus Korupsi Perjalanan Dinas

Hatta juga memperlihatkan kepada mata dunia bahwa kepemimpinan tak selalu diiringi dengan kemewahan. Hatta membuktikan ia adalah sosok negarawan yang tak mengambil kesempatan dengan kekuasaannya untuk menumpuk harta kekayaan.

Semasa hidupnya, ia pernah tak mampu membayar tagihan listrik rumahnya hingga Bung Hatta sampai berkirim surat ke Gubernur Ali Sadikin untuk meminta pemotongan tagihan. Lalu siapa yang tak terharu dengan kisah teladan Hatta dengan sepatu Bally yang ia idam-idamkan, yang hingga akhir hayatnya Hatta tak mampu membelinya.

BACA JUGA: Ada Istri Tersangka KPK Punya Tas Hermes yang Harganya Hampir Rp 1 Miliar

Hatta hanya bisa manyimpan potongan iklan sepatu Bally idamannya di dalam dompetnya. Penyebabnya, uang tabungan Sang Proklamator selalu tak cukup untuk disisihkan karena ia lebih memilih menghabiskan untuk membiayai keperluan rumah tangganya dan membantu membantu orang-orang kesusahan yang dikenalnya. Padahal dengan kekuasaannya saat itu ia bisa membeli lebih dari sepasang sepatu Bally.

Tapi, tidak dengan Hatta, ia memiliki moralitas yang kuat terhadap model kepemimpinan yang diyakininya. Tidak berbeda dengan Hatta, sosok Moehammad Natsir tak kalah teladannya. Moehammad Natsir bukan pengusaha, bukan orang kaya.

BACA JUGA: BPKP Lambat Hitung, Pengusutan Korupsi Bandara Melalan Terhambat

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved