Senin, 20 April 2026

Opini

Harta dalam Kacamata Ekonomi Islam, Bagai Mata Pisau yang Mengarah ke Surga dan Neraka

Yang coba dikritisi oleh para pegiat ekonomi Islam, pada hakikatnya harta dan kekayaan itu bagaikan pisau tajam yang memiliki 2 runcing yang tajam.

Editor: Amalia Husnul A
Tribunkaltim.co/Nevrianto Hardi Prasetyo
Ilustrasi. Tenda pengumpulan zakat di Masjid Nurul Iman, Kota Samarinda. Hadirnya zakat pada hakikatnya untuk menjadi jembatan antara mereka yang memiliki kelebihan harta dengan mereka yang merasa kekurangan harta, dengan kata lain menyambung antara kaum kuat dengan kaum lemah. 

Dan melakukan segala cara, sehingga tidak memperhatikan lagi aspek halal-haramnya sesuatu.

Akibatnya, manusia seperti ini akan merasakan bahwa kekayaanlah yang paling dicintainya.

Dan pada tahap ini pada akhirnya manusia akan menjadi budak harta (pelayan). Terlihat dari sifat yang akan muncul kemudian yaitu sifat yang mengarah kepada serakah dan kikir, seperti jenis orang yang bernama Qarun.

BACA JUGA:BREAKING NEWS - Sembunyi di Dalam Hutan, Rusdi dan Fatimah Akhirnya Diringkus Polisi

Sehingga, tidak diragukan lagi, kekayaan yang disikapi demikian tidak akan memberikan kebahagian kepada umat manusia. Kecuali bagi mereka yang hanya hidup berorientasi dunia tanpa peduli akan peran akhirat.

Pandangan Islam terhadap Harta

Islam mengatur segala masalah yang dihadapi manusia, begitu juga berkenaan dengan harta dan penggunaannya. Harta dalam Islam mempunyai nilai yang cukup tinggi.

Pertama, karena harta sebagai salah satu dari lima kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang harus dipelihara, seperti agama, jiwa, keturunan, akal dan harta (Maqoshid Syariah).

Kedua, karena dua dari rukun Islam, yaitu kewajiban zakat, dan haji mengharuskan seseorang Muslim mempunyai harta, sebab tanpa harta yang cukup, maka kedua kewajiban tersebut tentu akan sulit dilaksanakan.

BACA JUGA:Raih Gelar Juara Dunia Ke-5, Ini Pesan Nenek yang Selalu Diingat Marc Marquez

Akan tetapi Al-qur’an memandang harta dengan pandangan yang realistis, yaitu harta hanya sebagai perhiasan hidup.

Maksudnya adalah seorang Muslim memandang harta perlu dalam hidup ini, akan tetapi bukan berarti hidup ini hanya untuk mencari harta yang pada hakikinya sifatnya tak abadi.

Apabila hidup ini hanya untuk mencari harta maka manusia tidak akan pernah merasa puas, karena dalam diri manusi terdapat sifat yang selalu ingin lebih dalam segala hal.

Sehingga dapat dikatakan bahwa harta bukanlah sebagai tujuan yang esensial bagi manusia, tetapi hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup, menggapai ridha Allah, sarana melakukan kebaikan dan memberikan kesejahteraan serta kemaslahatan hidup bagi sesama.

BACA JUGA:Rawan Penyalahgunaan Narkoba, Siswa di Daerah Pesisir Ini Jalani Tes Urine

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved