Jumat, 10 April 2026

Opini

Harta dalam Kacamata Ekonomi Islam, Bagai Mata Pisau yang Mengarah ke Surga dan Neraka

Yang coba dikritisi oleh para pegiat ekonomi Islam, pada hakikatnya harta dan kekayaan itu bagaikan pisau tajam yang memiliki 2 runcing yang tajam.

Editor: Amalia Husnul A
Tribunkaltim.co/Nevrianto Hardi Prasetyo
Ilustrasi. Tenda pengumpulan zakat di Masjid Nurul Iman, Kota Samarinda. Hadirnya zakat pada hakikatnya untuk menjadi jembatan antara mereka yang memiliki kelebihan harta dengan mereka yang merasa kekurangan harta, dengan kata lain menyambung antara kaum kuat dengan kaum lemah. 

Oleh Fahmi Syam Hafid B.IRKH (Hons)
Pegiat Ekonomi Islam Kalimantan Utara
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Indonesia
fahmisyam@gmail.com

Fahmi Syam Hafid
Fahmi Syam Hafid B.Irkh (Hons). (HO_Dok Pribadi)

KETIKA berbicara tentang harta, maka korelasi yang sering dimainkan manusia adalah kekayaan dan kebahagian.

Di mana ukuran kebahagian saat ini adalah kekayaan, artinya semakin berlimpahnya harta, maka akan semakin bahagia perasaan.

Walau terkadang dalam konteks mencari atau mendapatkan harta sudah tidak memerhatikan lagi aspek halal dan haramnya, yang terpenting keinginan dapat terpenuhi.

Dalam tradisi Arab traditional misalnya, kekayaan diukur dengan banyaknya unta yang dimiliki, namun demikian tidak berarti kekayaan hanya diukur dari banyaknya binatang yang dimiliki, ia juga bisa dalam berbagai bentuk.

Akan tetapi hal tersebut yang coba dikritisi oleh para pegiat ekonomi Islam, pada hakikatnya harta dan kekayaan itu bagaikan pisau tajam yang memiliki 2 runcing yang tajam.

BACA JUGA:Tak Terima Dituduh Selingkuh, Ibu Kiswinar Sumpahi Mario Teguh Kualat

Dalam hal ini runcing satunya bisa mengarahkan ke surga dan runcing yang lainnya bisa melemparkan kita ke neraka.

Problematika Harta

Dewasa ini, harta begitu sangat memainkan peran hidup manusia, sehingga begitu banyak yang terlela dengan gemerlapnya harta.

Terlihat dengan maraknya kasus-kasus yang selalu berdampingan dengan hasrat untuk memiliki harta yang sebanyak-banyaknya.

Sehingga, ketika orang yang telah menganggap kekayaan adalah segala sesuatu dalam hidup ini, maka tak heran orang yang seperti ini seakan-akan hidup mereka diatur oleh harta.

BACA JUGA:Hormati Mendiang Raja Thailand, Kawasan Lampu Merah di Bangkok Tutup

Ironisnya, mereka bersedia melakukan segalanya hanya untuk mencari kekayaan dan mereka akan merasa khawatir apabila kekayaan yang telah dikumpulkan akan hilang dari tangan mereka.

Kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang akhir-akhir viral menjadi perbincangan juga membuktikan bagaimana harta itu dapat menyebabkan orang bisa lupa segalanya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved