Sabtu, 11 April 2026

Opini

Pondok Pesantren Nabil Husein, Mimpi Besar yang Berawal dari Keprihatinan

Bagaimana mungkin anak-anak itu mampu maju dan menatap masa depan lebih baik kalau sekolah saja tidak bisa?

Editor: Amalia Husnul A
HO-Dok Pribadi
Penulis (kanan) bersama salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Nabil Husein, Ustadz Masud dengan sepeda motor rakitannya. Sepeda motor tersebut merupakan hasil daur ulang berbagai limbah. 

Oleh Prof Dr Abubakar M Lahjie M.Agr
Keluarga Besar Ponpes Nabil Husein

Prof Abubakar M Lahjie MAgr PhD
Prof Abubakar M Lahjie MAgr PhD

BERAWAL dari rasa keprihatinan, saat itu Muhammad Said Amin (selanjutnya kita sebut saja MSA) menjumpai banyak anak usia sekolah di pedalaman yang tidak dapat mengenyam pendidikan formal sebagaimana mestinya, hanya karena ketiadaan biaya.

Bagaimana mungkin anak-anak itu mampu maju dan menatap masa depan lebih baik kalau sekolah saja tidak bisa?

Kenyataan itu menyentuh hatinya. Tak seharusnya masyarakat di daerah kaya sumber daya alam ini, yang telah memberikan kontribusi besar devisa kepada negara, dibiarkan tanpa pengharapan yang lebih baik untuk masa depannya.

Ya, mereka harus sekolah.

Tapi siapa yang akan turun tangan membantu? Negara?

Baca: VIDEO – Bupati Ini Ajak Anak Yatim Piatu Lepaskan 5000 Lampion ke Udara

Ah, negara sepertinya masih terlalu banyak yang harus diurus. Sehingga belum mampu menjalankan amanah UUD 45 bahwa anak miskin dan terlantar dipelihara oleh negara.

Sekembali dari blusukan dan perjumpannya dengan anak-anak kurang mampu itulah, lantas timbul tekad kuat dalam dirinya untuk berbuat sesuatu.

Tokoh pemuda Kaltim itu memiliki mimpi besar dan luhur.

Ia ingin membangun sebuah pondok pesantren modern yang terpadu. Jadi pusat dakwah. Sekaligus menjawab keprihatinannya akan kondisi anak-anak kurang mampu.

Anak-anak itu harus diakomodir menyongsong masa depannya.

Baca: Lulusan Ponpes Modern Al Muttaqien Diharapkan Jadi Cendekiawan dan Wirausahawan Muslim

Kalau di Jawa ada Pondok Pesantren Modern Gontor, dan beberapa ponpes modern lainnya.

MSA tak berlebihan kalau bermimpi ponpes yang ia dirikan kelak bisa menjadi "gontor"-nya Kalimantan.

Maka, lahirlah Ponpes "Nabil Husein", tahun 2002. Ia pikir sudah saatnya untuk berbuat lebih baik, dan memberi manfaat yang lebih kepada sesama.

Nama Ponpes ia ambil dari nama putra sulungnya, Nabil Husein. Nabil juga dikenal sebagai pemilik klub kesebelasan yang menjadi kebanggan masyarakat Samarinda, Pusamania Borneo FC (PBFC).

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved