Selasa, 28 April 2026

Opini

Pondok Pesantren Nabil Husein, Mimpi Besar yang Berawal dari Keprihatinan

Bagaimana mungkin anak-anak itu mampu maju dan menatap masa depan lebih baik kalau sekolah saja tidak bisa?

Editor: Amalia Husnul A
HO-Dok Pribadi
Penulis (kanan) bersama salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Nabil Husein, Ustadz Masud dengan sepeda motor rakitannya. Sepeda motor tersebut merupakan hasil daur ulang berbagai limbah. 

Berdiri di lahan seluas 10 hektare di Karang Paci, Samarinda, di sanalah ia ingin para santri itu digembleng menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, berwawasan, berkarakter dan insan yang islami.

Baca: Kisah Polisi yang Sarjana Lele, Kelola Lahan tak Produktif Ponpes dengan Modal Pinjaman dari Bank

Karenanya, mereka dibekali berbagai macam pengetahuan. Tidak hanya soal keislaman melainkan juga ilmu pengetahuan dan teknologi.

Peserta Didik

Dengan dukungan para sahabatnya, seperti Andi Harun, Amir P. Ali, Farianto, Zainal Arifin, Edi Rumpoko; A Popo Parulian, dan Mugni, ponpes ini berkembang dengan cepat.

Kini jumlah peserta didik mencapai 950 orang.

Mereka datang dari berbgai derah di indonesia seperti Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Jawa, Madura. Sulawesi, dan Kalimantan.

Baca: Ajarkan Anak Didiknya Toleransi, Umat Buddha Ajak Santri Ponpes Buka Puasa

Setiap tahun penerimaannya meningkat 7 persen. Tiga tahun terakhir mencapai sekitar 250 siswa.

Kualifikasi penerimaan santri:

  • yatim piatu firliah, siswa yang tidak mempunyai kedua orangtua dengan hidup dalam keluarga tidak mampu (sekitar 30 %)
  • seleksi kemampuan nilai akademis terbaik (20%)
  • peserta didik dari Kaltim setiap kecamatan (sekitar 30 %)
  • dari luar pulau Kalimantan (10%)
  • dan siswa yang diterima atas rekomondasi dari lembaga Dakwah Islam lainya (10%).

Baca: Pilih Tekuni Dunia Dakwah, Mantan Pemain Manchester City Putuskan Gantung Sepatu

Ponpes Nabil Husein memiliki jenjang pendidikan SMP 17 kelas, MTs 12 kelas, SMA 7 kelas, dan SMK Akuntasi 3 kelas, SMK Otomotif 3 kelas. Total 43 kelas.

Kurikulumnya dipadukan antara nasional dan pendidikan agama. Seperti kajian al-quran, hadis, fiqh, nahu shorof, tafsir, bahasa Arab, dan Inggris. Karenanya, lulusan mendapat dua ijazah.

MSA telah menetapkan tidak ada biaya pendidikan (SPP) alias gratis.

Mereka hanya dikenai biaya Rp 400 ribu per bulan selama di asrama. Sebanyak 40% di antaranya tidak dibebani apa pun karena memang tidak mampu.

Balai Antinarkoba

Baca: BREAKING NEWS -- Ini Ancaman Bupati: ASN yang Terlibat Kasus Narkoba, Tanggung Sendiri Akibatnya!

Para santri juga mendapat berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti pramuka, bela diri, pelatihan jurnalistik, dan kepribadian.

Seperti pada medio Oktober lalu, pelatihan jurnalistik dilakukan LSM Lentera bekerjasama dengan Kedutaan AS.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved