BI KPw Kaltim Gelar Workshop Wartawan
Tak Sembarangan, Ini Alasan BI Keluarkan Uang Kertas Warna-warni
Lewat setahun lebih sejak diluncurkan uang baru, kerap memunculkan cerita-cerita menarik dan bahkan viral di warga net.
Penulis: Adhinata Kusuma | Editor: Adhinata Kusuma
Selama dua hari, 28-29 Maret lalu, Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltim menggelar workshop untuk para wartawan ekonomi. Digelar di The Anvaya Beach Resort, Bali, workshop diikuti sebanyak 24 jurnalis dari berbagai daerah di Kaltim . Sejumlah isu terkini dibahas, mulai dari inflasi, uang baru, gerakan non-tunai, hingga bitcoin. Berikut laporannya.
SEJAK 19 Desember 2016 lalu, BI secara resmi meluncurkan uang baru asli tahun emisi 2016. Uang baru itu berupa koin pecahan 100, 200, 500 dan 1.000 rupiah. Sedangkan uang kertasnya mulai dari 1.000, 2.000, 5.000, 10.000, 20.000, 50.000 dan 100.000 rupiah.
Lewat setahun lebih, uang baru, terutama uang kertas, kerap memunculkan cerita-cerita menarik dan bahkan viral di warga net. Mulai dari fisik uang berwarna-warni yang dinilai menyerupai uang Yuan, isu logo palu arit, hingga terakhir yang sempat viral 'tertukar' antara pecahan Rp 2.000 dengan Rp 20.000, karena sekilas nyaris serupa.
Terkait persoalan ini, Asisten Manajer Fungsi Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan Kpw BI Prov. Kaltim, Dirwanta Firsta, mencoba mengulas ada apa di balik warna-warninya uang kertas emisi 2016.
Ia menjelaskan bahwa BI telah melakukan survei dulu ke masyarakat sebelum mendesain dan mencetak uang baru. Hasil survei menunjukkan masyarakat lebih menyukai uang rupiah yang warna warni, alasannya dianggap lebih menarik dan mudah dikenali.
"Adapun survei yang dilakukan juga tak sembarangan, tapi memang mengacu pada aturan Bank Sentral Dunia tentang pencetakan uang baru, yang harus memenuhi syarat mudah diterima, dan dikenali oleh pengguna, yakni masyarakat Indonesia," katanya.
Sekadar mengingat lagi, ini warna uang kertas emisi 2016 dengan gambar pahlawannya:
* Pecahan Rp 100 ribu menampilkan duo proklamator, Soekarno-Hatta dengan dominasi warna merah
* Pecahan Rp 50 ribu didominasi warna biru menampilkan pahlawan nasional Ir Djuanda Kartawidjaja.
* Pecahan Rp 20 ribu didominasi warna hijau dengan menampilkan pahlawan nasional GSSJ Ratulangi.
* Pecahan Rp 10 ribu didominasi warna ungu menmpilkan gambar pahlawan Frans Kaisiepo dari Papua.
* Pecahan Rp 5 ribu dengan gambar pahlawan nasional KH Idham Chalid didominasi warna coklat.
* Pecahan Rp 2 ribu didominasi warna abu-abu ini terdapat gambar pahlawan nasional Moehammad Hoesni Thamrin.
* Pecahan Rp 1.000 didominasi warna hijau ini terdapat gambar pahlawan wanita Tjut Meutia dari Aceh.
Baca: Begini Alat Milik Bank Indonesia untuk Intervensi Langsung Inflasi
Baca: Uang Logam Lama yang Beredar di Masyarakat Akan Ditarik Bank Indonesia
Baca: Bank Indonesia: Waspada, Potensi Uang Palsu Beredar Saat Pilgub Tinggi
Ditambahkan Dirwanta, di dunia, memang kebijakan fisik uang di sejumlah negara berbeda, semisal di Amerika Serikat yang lebih menyukai satu warna, yang juga karena dipengaruhi jumlah pecahan yang terbatas. "Nah ada juga negara yang (memilih warna) seperti Indonesia, seperti Korea. Jadi itu dulu yang perlu dipahami, masyarakat kita lebih menyukai konsep warna," urainya.
Menggunakan konsep warna inipun, kata Dirwanta ada teorinya. "Ada teorinya, ada 3 teori warna di dunia. Yang dipilih oleh Indonesia itu ada teori Munsell," katanya.
Sebagai informasi, yang pertama adalah Teori Sir Isaac Newton. Terorinya jika warna spektrum dari sinar matahari dipecah, akan ditemukan warna-warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu, yang bisa dilihat pada pelangi.
Lalu teori kedua dari Brewster (1831) yang menyederhanakan warna-warna menjadi 4 kelompok warna, yaitu warna primer, sekunder, tersier, dan warna netral.
Lalu terakhir teori Munsell (Profesor Albert H. Munsell) pada dekade pertama abad ke-20. Munsell membagi membagi warna berdasarkan pada tiga dimensi: nama warna, nilai (pencahayaan), dan intensitas. Munsell menyebut warna pokok terdiri dari merah, kuning, hijau, biru dan jingga. Sementara warna sekunder terdiri dari warna jingga, hijau muda, hijau tua, biru tua dan nila.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/dirwanta_20180402_162617.jpg)