Jumat, 24 April 2026

Harga Ayam Masih Melonjak, Kepala dan Usus Ayam pun jadi Pelipur Lara

Di bulan sebelum memasuki bulan Ramadan, ia menjual ayam potongnya dengan harga 30.000 rupiah per ekor untuk ayam potong ukuran kecil.

TRIBUN KALTIM/ADITYA RAHMAN HAFIDZ
Seminggu berjalan setelah hari pertama bulan Ramadan, harga komoditas ayam potong di Pasar Klandasan, Kelurahan Klandasan Ulu, Kecamatan Balikpapan Kota, Rabu (23/5/2018), masih bertahan di angka Rp 35.000 hingga Rp 55.000, tergantung ukuran ayam potong, per ekor. 

Beberapa calon pembeli ada yang membelalakkan mata lalu tak jadi membeli.

Sebagiannya lagi, menerima lalu akhirnya membeli produk sampingan ayam potong.

Beberapa calon pembeli yang mengetahui harga ayam potong yang melambung tak kunjung turun tersebut menyiasati dengan membeli produk sampingan ayam potong, seperti kepala ayam, usus ayam, maupun ceker ayam.

Kepala ayam dihargai Rp 1.000 per kepala. Sedangkan ceker ayam, dihargai Rp 8.000 per sepuluh ceker.

"Lagi mahal ini. Ya mau diapain, mau protes kemana. Setiap tahun juga begitu alurnya. Nanti sesudah lebaran haji paling turun lagi," ujar Lasmi, salah satu pembeli di lapak ayam potong.

Pemberitaan sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan Kota Balikpapan, M Saufan, menyebutkan alasan harga ayam potong di Balikpapan yang semakin hari semakin meroket, salah satunya karena faktor cuaca yang tidak menentu.

Saufan saat ditemui di ruangannya menjelaskan, penyebab harga ayam yang mengalami kenaikan adalah yang pertama, pabrik pakan ayam yang tidak tersedia di Kaltim, melainkan semua ada di pulau Jawa. Sementara itu, saat ini ongkos transportasi pakan ternak ayam mengalami kenaikan, sehingga menambah biaya produksi.

Disamping itu juga kenaikkan harga ayam potong disebabkan tidak diperbolehkannya lagi penggunaan antibiotik untuk pertumbuhan ayam, yang menyebabkan masa panen ayam bertambah panjang, dari 32 hari dengan penggunaan antibiotik  menjadi 36 hari tanpa penggunaan antibiotik pertumbuhan ayam potong, yang mempengaruhi tambahan produksi ayam berupa pakan beberapa hari.

Cuaca di Kaltim yang tak menentu juga menjadi alasan hara ayam potong di pasaran.

"Kadang hujan, kadang panas. Itu mengakibatkan terjadi kematian ayam sekitar 10 sampai 20 persen. Dan itu riil terjadi," kata Saufan.

Dari beberapa faktor tersebut, lanjut Saufan, maka terjadilah peningkatan harga ayam.

Untuk stok ayam potong, Saufan mengatakan tersedia, namun hanya harga yang mengalami kenaikan.

"Kenaikan harga ayam ini bukan karena tidak ada stok barang, tetapi barang ada, namun harga naik karena biaya produksi naik," ungkapnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved